Logo

Mitos Ular dan Tulah Ka’bah: Pejabat Orba Naik Haji

Tak bisa dipungkiri semua agama, ideologi, atau isme lainnya bisa berkembang karena pengaruh politik  kekuasaan. Kenyataan terjadi di seluruh dunia --juga terjadi di Indonesia-- dalam kurun sejarah manapun. Fakta ini jelas nyata di depan mata pascatragedi perang saudara di tahun 1965. Mulai saat itu semua kalangan agama menikmati berkah setelah tumbangnya kekuatan politik yang gemar berkoar-koar 'agama tak lebih sekedar sebagai candu belaka.'

Tak hanya umat Islam yang mendapat berkah, di Jawa misionaris Kristen pun menangguk untung dengan masuknya lebih dari dua juta orang ke agama mereka. Namun, di pihak lain, penganut Islam pun mendapat berkah baik secara kualitas dan kwantitas jumlah penganutnya pun ikut melambung secara signifikan.  Paling tidak sebagian besar penduduknya di KTP masing-masing tertera beragama Islam.

Gaung adzan yang sebelum peristiwa jahanam itu terdengar sayup-sayup, semenjak usai peristiwa semakin hari semakin bertambah keras serta muncul di mana-mana. Meski ada jargon ‘Islam yes dan partai Islam no’ pengajian terus berlangsung semarak. Masjid, langgar, forum pengajian kebanjiran jamaah. Sebutan pejoratif terhadap segala hal yang berbau agama yang sebelumnya sangat kencang bertiup seperti menguap begitu saja. Pembagian kaku 'Trikotomi' --priyayi, abangan, dan santri-- ala Clifford Geertz dalam masyarakat Jawa misalnya menjadi berantakan. Mereka yang dulu diyakini sebagai strata sosial yang tak mungkin bisa menyaty, ternyata mampu luruh dan  kemudian beralih menjadi kaum santri.

Dan kini, seperti kemudian ditulis sejarawan Australia, MC Ricklefs: semenhak itu penetrasi Islam di Jawa makin semakin kencang dan kian mendalam. Dan kini, malah sudah merasuk sedemikian jauh sehingga tak ada kemungkinan untuk balik lagi!

Kenyataan tersebut tampak nyata bila memperhatikan situasi sosial di wilayah ‘pedalaman Jawa’ . Tiba-tiba setiap kali ada perkumpulan, misalnya untuk acara hajatan di kampung-kampung, kaum ibu hampir semuanya sudah mengenakan jilbab. Sesuatu yang amat jarang terlihat di awal dekade 70-an. Kesannya, dari omongan dari hati ke hati dengan para kaum ibu itu mereka mengatakan tak pantas bila datang dengan kepala ‘bondolan’ (tak tertutup/plontos).

Lalu apa dan kapan ciri dari penetrasi Islam yang makin dalam? Jawabnya mudah sekali. Lihat saja pada daftar antrean naik haji yang di berbagai kabupatan di Jawa yang sudah lebih dari 20 tahun. Di Jawa Tengah misalnya, kalau anda daftar haji sekarang maka anda baru bisa berangkat pasca tahun 2030, bahkan 2036. Setiap tahun ada sekitar 2.000 orang jamaah yang akan naik haji. Jelas sebuah masa tunggu dan jumlah jamaah yang fantastis. Ini berbeda sekali dengan masa pertengahan 1970-an, yang saat itu jamaah haji pertahunnya yang tak sampai 100 orang dan bila mendaftar maka langsung bisa berangkat pada tahun itu juga. Tak ada antrean mengular berbilang puluh tahun seperti sekarang.

Dan yang paling nyata lagi, meski di masa awal hingga tahun akhir 1980-an, dakwah Islam begitu direpresi dengan berbagai macam aturan mulai dari pendataan ulama, pelarangan ceramah/khutbah, hingga tuduhan aksi teroris hingga makar, namun diam-diam para pejabat pemerintah Orde Baru mulai tertarik untuk pergi haji. Gairah keIslaman yang ada di arus bawah ternyata berimbas kepada mereka yang ada di lapisan atas.

‘’Memang awalnya seperti tak mungkin. Tapi semenjak akhir dekade 1970-an, para pejabat Orde Baru mulai tertarik naik haji,’’ kata Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji  Khusus (HIMPUH), Baluki Ahmad.

Menurut dia, awalnya memang tak bisa percaya bila semua itu terjadi mengingat begitu kautnya Islamofobia yang tertanam di benak publik sejak zaman kolonial. Namun, faktanya dari tahun ke tahun jumlah jamaah haji terus bertambah. Masih minimnya pemahaman mereka terhadap ajaran Islam tak menghalangi mereka menyempurnakan keimanan dirinya. Banyak sekali yang belum shalat, tak puasa di bulan Ramadhan, apalagi membayar zakat. Istilah jawanya Islam model ‘rubuh-rubuh gedang’ atau Islam orang awam yang cuma ikut-ikutan. Tapi mereka tetap berhaji, sebuah penyempurnaan identitas diri rohaniahnya yang di era sebelumnya hanya dilakukan oleh mereka yang disebut kaum santri.

’’Meski begitu, ternyata banyak juga pejabat yang bukan berasal dari kalangan santri yang saat itu tergerak hatinya ingin naik haji. Dan keantuiasan inilah yang kemudian mengispirasi munculnya bisnis penyelenggaran haji ONH Plus, atau Haji Khusus,’’  ujar Baluqi.


Baluki mengakui, jelas bagi pejabat Orde Baru yang saat itu hampir bisa dikatakan sebagai ‘Islam abangan’ (Islam sekedar syahadat saja), memutuskan untuk pergi haji jelas bukan hal yang sangat mudah. Ini makin sulit bila pejabat itu mantan priyayi dan datang dari keluarga yang sebelum Orde Baru muncul sikap politiknya secara tradisonal terafiliasi kepada Partai Nasional Indonesia (PNI).

‘’Jelas pertarungan batin yang luar biasa. Apalagi di masyarakat pun berkembang mitos bila seseorang naik haji maka segala perbuatan dia selama ini akan langsung di balas ketika berada di Makkah. Istilahnya kena 'tulah'. Gampangnya, kalau di rumah suka nendang orang maka di sana dia akan terkena balasan ditendang, bila dulu suka mukul maka ketika berhaji akan dipukul orang,’’ ujar Baluki.

Tentu saja, adanya mitos itu membuat banyak orang jeri pergi berhaji. ’’Bahkan saya sempat punya klien pejabat seorang penting di Bina Graha yang baru memutuskan berangkat setelah melakukan tujuh kali umrah secara berturut-turut. Saya tahu persis karena saya yang melayani beliau,’’ kata Baluki.

Selama tujuh tahun itu, lanjut Baluki, sang pejabat yang juga menjadi kerabat dekat orang penting itu selaku pergi umrah setiap pulang dari kunjungan ke Eropa. Tapi untuk sampai yakin siap naik haji ternyata butuh perjalanan dan perenungan yang panjang. Selama waktu itu pun pejabat itu mengaku takut terhadap mitos 'tulah Ka'bah' tersebut. Maka Baluki mencoba terus menyakinkan bahwa soal pembalasan yang model  ‘cash and cary’ di tanah suci itu tak benar adanya.

‘’Saya katakan, bapak kalau Allah mau balas perbuatan maka tak usah harus menungu di Makkah. Di sini saja, di tanah air, semua itu bisa dilakukan. Lillahita’ala aja Pak. Serahkan kepada Allah,’’ kata Baluki.

Mendengar nasihat itu, entah karena apa tiba-tiba hati sang pejabat terbuka.’’Beliau langsung minta antarkan naik haji ke Makkah. Tak hanya itu, karena dia tak mau barang bekas orang, dia minta saya beli mobil baru khusus untuk melayani keperluan transportasi ibadah hajinya. Saya diminta beli mobil GMC buatan Amerika.’’

‘’Nah, ketika pulang dari Arafah itu bapak itu kemudian dapat renungan baru. Di tengah jalan mobil baru itu koplingnya rusak. Dia tengah jalan dia berujar begini: apa salah saya ya. Kok jadi begini ya?,’’ kata Baluki menirukan keresahan sang pejabat Bina Graha itu.

Namun, untunglah di tengah jalan muncul pertolongan Allah. Tiba-tiba lewatlah rombongan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi yang saat itu di jabar Achmad Tirtosudiro. ‘’Pak Achmad tentu saja segera menaikan beliau ke mobilnya. Dia jelas tahu siapa pejabat yang tengah saya layani saat itu. Saya pun ditinggal untuk urus mobil, pejabat dan isteri bersama Pak Achmad  pergi naik mobil kedutaan.’’

Seusai ibadah haji sang pejabat mengaku merasa lega bukan main. Mitos ‘pembalasan langsung’ di tanah suci ternyata tak terjadi. Baluki pun mengaku ketiban banyak rezeki, salah satunya adalah mempunyai mobil baru buatan Amerika.

‘’Mobil keren itulah yang kemudian menemani saya ketika pada masa selanjutnya melayani para jamaah haji dan umrah. Rezeki yang tak saya kira sama sekali,’’ kata Baluki.

Dan khusus kepada para mahasiswa yang saat itu belajar di Arab Saudi, kedatangan para pejabat Orde baru untuk menunaikan ibadah haji atau umrah menjadi berkah tersendiri. Berkat pelayanan yang mereka berikan, para mahasiswa yang belajar di tanah suci itu mendapat  uang saku tambahan. Jumlahnya memang tak terlalu besar, tapu bisa dikatakan sangat lumayan bagi ukuran kantong seorang pelajar yang hidup di negeri orang.

Maka beberapa pejabat pun banyak menjadi favorit para mahasiswa. Kedatangan mereka ditunggu-tunggu. Seorang menteri asal Aceh misalnya dikenal sangat dermawan. Dia tak segan memberikan uang saku, tak hanya dalam bentuk real tapi kerap dalam bentuk uang dolar AS.

''Uang realnya ada di kantong sebelah kanan, dan uang dolarnya ada di kantong sebelah kiri. Para mahasiswa di Suadi yang mencari uang tambahan dengan menjadi pemandu haji -umrah, selalu deg-degan bila melihat tangan menteri itu bergerak. Sebab, banyak yang berdoa agar sang menteri merogoh kantongnya yang ada di sebelah kiri saja,'' ujar Baluki. Dan memang ketika di tanah air, menteri ini pun oleh banyak kalangan disebut 'si dermawan berkantong merica' (orang Eropa di abad pertengahan dulu menyebut orang kaya dengan sebutan punya kantong merica yang saat itu harganya setara dengan emas).Pengalaman lain juga dialami Baluki ketika melayani pengusaha kaya di era Orde Baru yang tinggal di kawasan Pantura perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah.


“Saya tahu kampungnya dan kenal baik. Tiba-tiba saya diminta mengantarkannya naik haji. Padahal saya tahu di kampungnya itu ada mitos bahwa bila orang naik haji maka dia tidak akan selamat. Kalau toh bisa pulang, maka sesampai di rumah dia berubah menjadi ular,’’ kata Baluki.

Tentu saja adanya kepercayaan itu membuat dia gundah-gulana. Berulangkali sang pengusaha menyampaikan kerisauannya. Ini masuk akal, karena kalau dia benar pergi ke Makkah, maka dialah orang di kampung itu yang pertama kali naik haji. Meski kampung dan keluarganya dari dahulu adalah terdiri dari banyak orang yang kaya, menjadi haji atau naik haji adalah hal tabu sekaligus melanggar aturan adat nenek moyang.

‘’Nah ternyata setelah pulang jadi dia sehat-sehat saja. Tak ada yang berubah jadi ular. Mitos itu terbantahkan. Dan sejak itulah warga kampung itu berbondong-bondong naik haji,’’ tandas Baluki.

Seiring dengan terus meluasnya menunaikan ibadah haji dan umrah, bisnis pelayanan haji ziarah ke tanah suci ini pun makin meningkat. Ibadah haji dan umrah kian menjadi milik semua orang. Tanah suci adalah tempat yang makin gampang didatangi. Segala mitos tentang menjadi ular dan terkena ‘tulah’ setelah berhaji atau umrah tak terdengar lagi.

Maka kini keyakinan Islam pun merasuk kian dalam!


(c) HIMPUH 2009-2017