Bandara Riyadh Ditutup, Permintaan Umrah Menurun! Calon Jemaah Pilih Menunggu

HIMPUHNEWS - Penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh setelah serangan rudal Houthi berdampak pada perjalanan umrah, termasuk penurunan permintaan dan pembatalan penerbangan.
Otoritas penerbangan Arab Saudi memperpanjang penutupan operasional bandara hingga 17 Oktober, dengan lebih dari 3.000 penerbangan terdampak.
Sejumlah agen perjalanan di Uni Emirat Arab melaporkan calon jemaah memilih menunda keberangkatan atau meminta pengembalian dana karena khawatir perjalanan terganggu.
Penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, setelah serangan rudal Houthi memicu kekhawatiran di kalangan calon jemaah umrah. Dampaknya, permintaan perjalanan dilaporkan menurun, sementara sejumlah jemaah memilih menunda keberangkatan di tengah ketidakpastian jadwal penerbangan.
Situasi ini terjadi ketika periode Oktober hingga Januari biasanya menjadi salah satu musim ramai perjalanan umrah. Namun, meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan dan potensi pembatalan penerbangan membuat calon jemaah, khususnya dari Uni Emirat Arab (UEA), mengambil sikap menunggu.
Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) mengonfirmasi penutupan operasional Bandara Riyadh diperpanjang hingga 17 Oktober. Lebih dari 3.000 penerbangan dilaporkan terdampak akibat situasi tersebut.
Permintaan Umrah Turun, Jemaah Khawatir Penerbangan Batal
Afsal KH, pengelola agen perjalanan yang berspesialisasi dalam layanan umrah di UEA, mengatakan minat calon jemaah menurun sejak serangan terjadi. Kekhawatiran terhadap pembatalan penerbangan turut memengaruhi keputusan mereka untuk bepergian.
"Permintaan telah turun. Pertanyaan dari calon jemaah juga berkurang sejak serangan dimulai. Orang-orang khawatir soal pembatalan penerbangan," ungkap Afsal KH, dilansir dari Gulf News.
Dampak gangguan penerbangan tidak hanya dirasakan calon jemaah yang belum berangkat. Afsal juga menceritakan pengalamannya memimpin rombongan umrah berisi 10 orang yang sempat terdampar di Madinah setelah rencana perjalanan mereka terganggu.
Rombongan tersebut awalnya dijadwalkan terbang dari Madinah menuju Riyadh sebelum melanjutkan perjalanan ke Dubai. Namun, pembatalan penerbangan membuat rencana perjalanan mereka berantakan.
"Kami berada di Madinah ketika serangan pertama kali terjadi. Kami mempelajarinya melalui media sosial," kata Afsal.
"Pada Sabtu pagi kami mendengar tentang serangan tersebut. Pada saat itu penerbangan beroperasi di pagi hari. Kemudian kami mendapat petunjuk bahwa penerbangan dibatalkan," lanjutnya.
Untuk kembali ke UEA, rombongan tersebut harus mencari alternatif perjalanan. Harga tiket pesawat pengganti melonjak hingga lebih dari 2.500 dirham atau sekitar Rp12,2 juta. Mereka akhirnya memilih menempuh jalur darat melalui perbatasan Bahrain sebelum kembali ke UEA.
Agen Perjalanan Hadapi Pembatalan dan Permintaan Refund
Ketidakpastian perjalanan membuat sebagian calon jemaah memilih menunda jadwal keberangkatan atau mengajukan pengembalian dana. Direktur Pelaksana Arooha Travels, Rashid Abbas, mengatakan pemesanan umrah mengalami penurunan tajam sejak serangan terjadi.
"Ada banyak rencana perjalanan Umrah di periode ini, tapi jemaah memilih menunda akibat serangan tersebut. Pemesanan terjun bebas, sekarang yang tersisa hanya perjalanan darurat," jelas Abbas.
Chairman Smart Travels, Afi Ahmed, juga menilai insiden tersebut berdampak pada rasa aman calon penumpang. Menurutnya, kekhawatiran terhadap keamanan perjalanan udara dapat membuat konsumen membutuhkan waktu sebelum kembali merencanakan perjalanan.
"Insiden seperti ini selalu memukul rasa aman wisatawan. Bagi mereka yang tidak ingin menunggu penerbangan, layanan bus antarnegara menjadi alternatif, meskipun memakan waktu jauh lebih lama," kata Ahmed.
Bandara Jeddah Masih Jadi Alternatif
Di tengah gangguan operasional di Riyadh, sejumlah jalur penerbangan melalui bandara lain masih tersedia. General Manager Deira Travels, TP Sudheesh, menyebut penerbangan melalui Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah sejauh ini tidak terdampak.
Maskapai Emirates dan Saudia dilaporkan masih melayani penerbangan dari dan menuju Jeddah secara normal. Penerbangan langsung dari Dubai ke Madinah yang dioperasikan flydubai, flynas, dan Air Arabia juga masih tersedia.
Meski demikian, ketidakpastian situasi di Riyadh tetap memengaruhi keputusan calon jemaah untuk memesan perjalanan. Sebagian memilih menunggu kondisi keamanan dan operasional penerbangan lebih kondusif sebelum menjadwalkan ulang perjalanan umrah mereka.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
