himpuh.or.id

Darb Zubaydah, Jalur Haji Kuno yang Bertahan Melintasi Berabad-abad Sejarah

Kategori : Berita, Ditulis pada : 20 Oktober 2026, 08:00:18


WhatsApp Image 2026-10-20 at 06.42.20.jpeg

HIMPUHNEWS — Perjalanan jemaah haji melintasi gurun Jazirah Arab pada masa lalu bukan sekadar soal menempuh jarak ribuan kilometer. Ketersediaan air menjadi persoalan vital yang menentukan keselamatan perjalanan.

Di tengah kondisi geografis yang minim mata air dan oase, peradaban Islam membangun sebuah jalur yang tidak hanya berfungsi sebagai rute perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga ditopang sistem pengelolaan air yang cukup maju pada masanya.

Jalur tersebut dikenal sebagai Darb Zubaydah, rute bersejarah sepanjang kurang lebih 1.400 kilometer yang menghubungkan Kufah di Irak dengan Makkah.

Kufah sendiri berada sekitar 170 kilometer di selatan Baghdad. Dari kota tersebut, jalur Darb Zubaydah membentang menuju wilayah Arab Saudi hingga mencapai kota suci Makkah.

Berawal dari Jalur Lama, Berkembang pada Era Abbasiyah

Sebagian lintasan Darb Zubaydah disebut telah digunakan sejak masa pra-Islam. Namun, jalur tersebut kemudian dikembangkan menjadi rute tetap bagi jemaah dari Mesopotamia menuju Makkah pada masa Kekhalifahan Abbasiyah.

Dalam buku Underground Aqueducts Handbook karya Andreas N. Angelakis, pembangunan jalur secara resmi dikaitkan dengan masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rashid.

Nama Darb Zubaydah berasal dari nama istrinya, Ratu Zubaydah binti Ja'far. Ia dikenal memiliki perhatian terhadap kesejahteraan jemaah yang menempuh perjalanan panjang menuju Tanah Suci.

Kondisi perjalanan yang berat, terutama badai debu dan keterbatasan air, mendorong pembangunan serta pembenahan berbagai fasilitas di sepanjang jalur tersebut.

Fasilitas itu antara lain penanda jalan, tempat persinggahan, kolam, bendungan, istana, rumah, hingga jalan berbatu.

Jalur ini sendiri tidak muncul secara tiba-tiba pada masa Abbasiyah. Berdasarkan buku The Archaeology of Irrigation Technology and Water Management in the Islamic World karya Timothy Insoll dan kolega, perkembangannya telah berlangsung sejak era Khulafaur Rasyidin dan Dinasti Umayyah.

Pembangunan kemudian mencapai masa kejayaan pada periode awal Abbasiyah di bawah sejumlah khalifah, termasuk Abu Abbas al-Saffah, Abu Jafar al-Mansur, al-Mahdi, al-Hadi, dan Harun al-Rashid.

Menembus Gurun dengan Puluhan Titik Persinggahan

Darb Zubaydah memiliki lintasan yang sangat panjang dan melewati kondisi geografis yang beragam.

Rute tersebut bermula dari Kufah, kemudian melintasi perbatasan Arab Saudi di sekitar Rafha, menuju Mahd Ad Dahab, sebelum berkelok melewati sejumlah lembah menuju Thaif dan akhirnya Makkah.

Sepanjang perjalanan, jemaah harus melewati dataran rendah, perbukitan berbatu, gurun pasir, hingga lembah-lembah sempit.

Karena itu, keberadaan titik persinggahan menjadi bagian penting dari sistem perjalanan Darb Zubaydah.

Sekitar 54 persinggahan atau pemukiman telah diidentifikasi di sepanjang jalur utama dan cabang-cabangnya. Jarak antara satu titik dengan titik lainnya berkisar 12 hingga 30 kilometer, disesuaikan dengan kondisi medan dan kemampuan perjalanan harian para jemaah.

Tidak hanya menjadi tempat berhenti, sejumlah titik tersebut juga dilengkapi fasilitas yang menunjang kebutuhan perjalanan, termasuk sumur, kolam air, serta pemukiman bagi jemaah lokal dan masyarakat gurun.

Kunci Utamanya: Menangkap Air di Tengah Gurun

Salah satu aspek paling menarik dari Darb Zubaydah adalah sistem pengelolaan airnya.

Wilayah yang dilewati jalur tersebut memiliki keterbatasan sumber air. Karena itu, para insinyur Muslim pada masa tersebut membangun sistem penampungan untuk mengamankan persediaan air bagi perjalanan jemaah.

Salah satu fasilitas pentingnya adalah birqat, yakni jaringan penampung air tawar. Selain itu, terdapat reservoir besar dan tangki penampungan atau cistern.

Sistem tersebut ditempatkan di kawasan cekungan maupun sepanjang aliran wadi untuk menangkap air, termasuk ketika terjadi banjir bandang.

Dengan sistem ini, air yang datang secara musiman tidak begitu saja hilang di tengah gurun. Air ditangkap dan ditampung untuk kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang yang melintasi jalur tersebut.

Ada Tim yang Merawat Infrastruktur

Keberadaan fasilitas air tidak berdiri sendiri. Sistem tersebut membutuhkan pemeliharaan agar tetap berfungsi ketika rombongan jemaah melintas.

Para khalifah membentuk kelompok yang terdiri atas insinyur dan pekerja untuk memelihara berbagai fasilitas di sepanjang Darb Zubaydah secara berkala.

Perawatan terutama dilakukan menjelang musim perjalanan kafilah haji. Dengan demikian, fasilitas air dan infrastruktur pendukung lainnya dapat dipersiapkan sebelum rombongan jemaah melintasi jalur tersebut.

Bertahan Setelah Abbasiyah Runtuh

Darb Zubaydah tetap menjadi jejak penting perkembangan infrastruktur peradaban Islam, bahkan setelah Kekhalifahan Abbasiyah mengalami keruntuhan akibat serangan bangsa Mongol pada 656 H (1258 M).

Nilai historis jalur tersebut bahkan berlanjut hingga era modern.

Pada 18 Zulkaidah 1358 H atau 1935 M, Kerajaan Arab Saudi dan Irak tercatat menandatangani kesepakatan kerja sama untuk mengamankan serta memfasilitasi perjalanan kafilah haji yang melintasi jalur Darb Zubaydah.

Jejak Darb Zubaydah pada akhirnya memperlihatkan bahwa perjalanan menuju Tanah Suci pada masa lalu membutuhkan lebih dari sekadar jalur untuk berjalan. Di baliknya terdapat perencanaan rute, pembangunan tempat persinggahan, serta teknologi pengelolaan air yang memungkinkan jemaah melintasi salah satu lingkungan paling kering di kawasan tersebut.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id