Perdokhi Siapkan Strategi Lindungi Kesehatan Jemaah Haji hingga Pulang ke Tanah Air
HIMPUHNEWS — Kesehatan jemaah menjadi salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan ibadah haji. Tak hanya soal memastikan jemaah mampu berangkat, kondisi kesehatan selama menjalankan rangkaian ibadah hingga saat kembali ke Tanah Air juga menjadi perhatian.
Hal tersebut akan menjadi salah satu fokus Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi) 2026. Forum ilmiah tersebut akan membahas sejumlah persoalan kesehatan jemaah, mulai dari penguatan istithaah kesehatan, pengelolaan penyakit kronis, kesehatan jiwa jemaah lansia, hingga penilaian kelaikan terbang.
Ketua Umum Perdokhi, dr. Syarief Hasan Lutfie mengatakan, berbagai materi yang disiapkan dalam PIT 2026 diarahkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan haji secara menyeluruh.
"Pembahasannya mencakup arah kebijakan kesehatan haji tahun 2027 serta dua kelompok materi utama," ujar Syarief, Selasa (6/10/2026).
Perkuat Istithaah Kesehatan Jemaah
Kelompok materi pertama dalam PIT Perdokhi 2026 berkaitan dengan penguatan istithaah kesehatan jemaah haji. Salah satu pembahasan yang disiapkan adalah penilaian kemampuan fungsional dan disabilitas menggunakan pendekatan International Classification of Functioning, Disability and Health (ICF-WHO).
Pembahasan juga mencakup kesiapan fisik jemaah dalam menjalankan rangkaian ibadah haji serta penanganan kegawatdaruratan medis selama pelaksanaan ibadah. Pendekatan ini diharapkan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kemampuan jemaah dalam menjalani seluruh rangkaian ibadah.
Perhatian juga diarahkan pada kelompok jemaah dengan penyakit kronis. Penyakit jantung, paru dan diabetes menjadi beberapa kondisi yang akan dibahas dalam forum tersebut.
Materi pengelolaan penyakit kronis akan mencakup strategi terpadu mulai dari pencegahan hingga penatalaksanaan. Beberapa topik yang diangkat antara lain cardiovascular care for Hajj pilgrims, pengelolaan penyakit paru, diabetes, serta gangguan psikiatri pada jemaah haji lanjut usia.
Kesehatan Jiwa Lansia hingga Kelaikan Terbang
Selain penyakit fisik, kesehatan jiwa jemaah lansia juga menjadi perhatian. Perdokhi akan membahas upaya deteksi dini serta pencegahan disorientasi pada jemaah lanjut usia.
Pembahasan kemudian diperluas pada aspek kelaikan terbang. Perdokhi akan mengkaji pengembangan model penilaian fit to fly bagi jemaah haji, termasuk skema tanazul bagi tenaga medis haji Indonesia di Arab Saudi.
"Di dalam pertemuan ini juga membahas penilaian kelaikan terbang, peningkatan manajemen layanan kesehatan umrah dan pengembangan Kampung Haji Indonesia yang sehat melalui kerja sama lintas sektor,"kata dia.
Menurut Syarief, pengembangan Kampung Haji Indonesia menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kesehatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Konsep tersebut mencakup pemetaan sistem secara partisipatif, peningkatan kapasitas, hingga pelaksanaan aksi konkret lintas sektor.
Hasil Riset Didorong Jadi Rekomendasi
PIT Perdokhi 2026 juga tidak hanya menjadi forum pertukaran pengetahuan dan pembahasan persoalan kesehatan jemaah. Berbagai materi yang dibahas akan dikaitkan dengan pengembangan penelitian di bidang kedokteran haji.
Hasil penelitian maupun usulan penelitian yang digalakkan Perdokhi diharapkan dapat menjadi bahan rekomendasi bagi para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan haji.
"Ini dituangkan dalam laporan usulan penelitian maupun hasil penelitian yang Perdokhi sedang galakkan yang nanti akan dijadikan rekomendasi kepada stakeholder," jelas Syarief.
PIT Perdokhi 2026 mengusung tema "Transformasi Kedokteran Haji: Transformasi Pelayanan Kesehatan Haji Indonesia Menuju Haji yang Aman, Sehat dan Berkelanjutan Pasca Musim Haji 2026."
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung secara hybrid pada Sabtu, 10 Oktober 2026, di Gedung Serba Guna 3 Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.
Syarief berharap pembahasan dalam forum tersebut dapat mendorong pelayanan kesehatan haji yang terintegrasi, mulai dari masa persiapan, sebelum keberangkatan, selama pelaksanaan ibadah, hingga setelah jemaah kembali ke Indonesia.
"Kami harapkan pada tahun 2027 ini istilah haji betul-betul dilakukan secara profesional dan kompeten oleh dokter-dokter yang bertanggung jawab untuk bisa memberikan hasil yang maksimal,”kata dia.
Menurut dia, ukuran keberhasilan pelayanan kesehatan haji tidak berhenti pada terpenuhinya kriteria fit to hajj dan fit to fly. Lebih dari itu, jemaah diharapkan dapat berangkat dalam kondisi sehat, terlindungi selama menjalankan ibadah, dan kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat.
"Jadi mereka bukan hanya fit to hajj, fit to fly, tapi juga menjadi jamaah yang sehat, berkualitas berangkat dan pulang dalam kondisi sehat," ujar Syarief.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku

