himpuh.or.id

Bukan Kali Pertama, Makkah-Madinah Disebut 3 Kali Jadi Target Serangan Houthi

Kategori : Berita, Ditulis pada : 05 Oktober 2026, 07:00:48

 

serangan-houthi-ke-bandara-riyadh-arab-saudi-1789824457241_169.jpeg

HIMPUHNEWS - Arab Saudi kembali menyoroti ancaman terhadap dua kota suci umat Islam, Makkah dan Madinah. Dalam kurun waktu sekitar sembilan tahun, otoritas Saudi melaporkan tiga insiden yang disebut berkaitan dengan upaya kelompok Houthi menargetkan wilayah sekitar kedua kota tersebut.

Dua insiden terbaru terjadi pada September 2026. Salah satunya berupa drone yang menurut koalisi pimpinan Saudi diarahkan ke sebuah pembangkit listrik di Madinah. Insiden lainnya terjadi di sebelah selatan Makkah ketika sistem pertahanan udara Saudi dilaporkan mencegat sebuah drone sebelum memasuki wilayah udara terlarang kota tersebut.

Sementara itu, insiden pertama yang dikaitkan dengan Makkah terjadi pada Juli 2017. Ketiga peristiwa tersebut menjadi sorotan karena Makkah dan Madinah merupakan lokasi dua situs paling suci dalam Islam, yakni Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Drone Disebut Sasar Infrastruktur Listrik Madinah

Pada Kamis, 1 Oktober 2026, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan sebuah serangan drone yang mereka kaitkan dengan Houthi telah menargetkan pembangkit listrik di Madinah.

Juru bicara koalisi, Mayjen Turki al-Maliki, mengatakan serangan tersebut terjadi pada Selasa dini hari. Menurut dia, sebuah transformator tidak dapat beroperasi akibat serangan itu, tetapi jaringan listrik secara keseluruhan tidak terdampak.

Maliki menuduh Houthi menyasar infrastruktur sipil yang memasok layanan listrik bagi Masjid Nabawi. Ia menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari upaya kelompok itu menargetkan Dua Masjid Suci.

"Perpanjangan dari pendekatan milisi ekstremis ini dalam upaya menargetkan Dua Masjid Suci."

Maliki juga mengatakan hasil penyelidikan dan pemeriksaan terhadap puing-puing drone menjadi dasar tuduhan keterlibatan Houthi.

"Temuan penyelidikan, data operasional dan pemeriksaan puing-puing drone yang digunakan dalam serangan tersebut membuktikan ketelibatan milisi Houthi dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan ini."

Koalisi Saudi, lanjut Maliki, akan mengambil langkah untuk mencegah tindakan serupa sekaligus melindungi Dua Masjid Suci serta para peziarah yang berada di Makkah dan Madinah.

Drone Dicegat di Selatan Makkah

Beberapa pekan sebelumnya, tepatnya pada 16 September 2026, Maliki menyatakan sistem pertahanan udara Saudi mencegat dan menghancurkan sebuah drone yang disebut milik Houthi.

Drone tersebut dilaporkan terdeteksi di sebelah selatan Makkah sebelum memasuki wilayah udara yang dinyatakan terlarang di sekitar kota suci tersebut.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi kemudian menyebut insiden itu sebagai dugaan upaya kedua Houthi untuk menargetkan Makkah setelah peristiwa yang dilaporkan terjadi pada 2017.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz mengecam dugaan upaya tersebut. Menurutnya, tindakan yang mengancam kesucian tempat-tempat suci dapat melukai perasaan umat Islam di berbagai negara.

Abdul Mohsen al-Qasim, imam Masjid Nabawi, turut menyinggung isu tersebut dalam khotbah Jumat. Ia menyebut serangan terhadap Makkah dan Madinah sebagai "pelanggaran berat di hadapan Tuhan."

Rudal 2017 Jadi Insiden Pertama

Jauh sebelum dua insiden pada September 2026, koalisi pimpinan Saudi pada 27 Juli 2017 melaporkan telah mencegat sebuah rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke arah Makkah.

Rudal tersebut disebut berhasil dihancurkan di wilayah Taif, sekitar 69 kilometer dari Makkah. Saudi menyatakan insiden itu tidak menimbulkan kerusakan.

Kementerian Luar Negeri Saudi saat itu menuduh Houthi melanggar kesucian Makkah dan menyebut tindakan tersebut sebagai "upaya putus asa untuk mengacaukan musim haji."

Namun, Houthi membantah tuduhan tersebut. Kelompok itu menyatakan pasukan rudalnya memang menargetkan pangkalan militer di Taif, tetapi tidak menargetkan Makkah.

Houthi Bantah Tuduhan Saudi

Houthi juga menolak tuduhan terkait insiden drone di dekat Makkah pada September 2026. Pemimpin Houthi Abdul-Malik al-Houthi dan anggota biro politik kelompok tersebut, Hizam al-Assad, membantah tuduhan Saudi.

Untuk insiden yang melibatkan Madinah, pihak Houthi disebut belum segera memberikan bantahan.

Iran juga memberikan tanggapan atas laporan mengenai insiden September. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan setiap serangan yang menargetkan Makkah harus dikecam. Namun, ia menyebut laporan mengenai pencegatan drone di atas kota tersebut sebagai "sekadar klaim" yang tidak dapat dijadikan dasar untuk menuduh pihak tertentu.

Rangkaian tuduhan dan bantahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi. Saudi memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam menghadapi Houthi sejak Maret 2015.

Kelompok Houthi sendiri telah menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, serta sejumlah provinsi sejak September 2014. Pada Juli 2026, kelompok tersebut mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai "blokade maritim" terhadap Arab Saudi dan kemudian mengklaim melakukan serangan menggunakan rudal balistik serta drone terhadap sejumlah lokasi dan kapal Saudi.

Negara Muslim Kompak Mengecam

Dugaan serangan yang mengarah ke kawasan Makkah dan Madinah juga mendapat perhatian luas dari negara-negara Arab dan Muslim.

Berdasarkan tinjauan Anadolu, kecaman terhadap Houthi disampaikan antara lain oleh Turki, Qatar, Mesir, Yaman, Yordania, Maroko, Palestina, Suriah, Bahrain, Kuwait, Lebanon, Libya, Sudan, Uni Emirat Arab, dan Somalia.

Sejumlah organisasi regional dan internasional seperti Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Liga Arab, serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga menyampaikan kecaman.

Beberapa pernyataan tersebut menekankan bahwa tindakan yang menargetkan Makkah bukan hanya menyangkut keamanan Arab Saudi, tetapi juga menyentuh kesucian tempat yang memiliki arti sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id