Heboh 44 Jemaah Umrah Diduga Terlantar di Makkah, Ini Klarifikasi Pihak Travel
HIMPUHNEWS - Sebanyak 44 jemaah umrah asal Parepare dan Makassar, Sulawesi Selatan, masih berada di Makkah, Arab Saudi, setelah jadwal kepulangan mereka tertunda hingga dua pekan. Situasi ini memicu kekhawatiran keluarga, di tengah kabar dugaan penelantaran yang beredar.
Pihak travel yang memberangkatkan jemaah membantah adanya penelantaran. Mereka menyebut keterlambatan kepulangan dipicu kondisi eksternal, termasuk pembatalan penerbangan akibat konflik internasional.
"Ini qadarullah, ada krisis internasional dan perang saat kami sudah di Makkah. Harga tiket sekarang meroket dan kursi sangat terbatas. Kalaupun ada uang, belum tentu ada kursi," kata Mitra Travel, Risma dilansir detikSulsel, Senin (6/4/2026).
Travel: Jemaah Tetap di Hotel, Tidak Ditelantarkan
Risma menegaskan seluruh jemaah masih ditempatkan di hotel di Makkah dan tidak ditelantarkan. Ia mengaku sengaja mempertahankan akomodasi agar jemaah tetap bisa beribadah dengan tenang sembari menunggu kepastian tiket pulang.
"Jemaah masih saya simpan di hotel di Makkah, bukan di Jeddah. Saya ingin mereka tenang beribadah, bisa umrah Syawal sambil menunggu tiket. Kalau saya masa bodoh, pasti sudah saya lepas. Tapi ini saya pakai hati kemanusiaan meski keuangan saya sangat terbatas," bebernya.
Ia mengakui keterlambatan kepulangan terjadi sekitar dua pekan. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga tiket pesawat dan keterbatasan kursi penerbangan.
"Harga tiket sekarang meroket. Kalaupun ada uang, belum tentu ada kursi. Keuangan saya terbatas karena uang Rp 480 juta itu belum saya terima," katanya.
"Seandainya uang itu ada, biar harga tiket Rp 20 juta pun saya beli demi memulangkan jemaah, daripada saya harus bayar hotel terus setiap hari di sana," tambahnya.
Sengketa Dana Travel Awal Jadi Pemicu
Risma menjelaskan, persoalan ini bermula dari sengketa keuangan dengan pihak travel awal, yakni Brinis Ibad Jaya (BIJ). Ia mengaku mengambil alih program umrah tersebut dengan asumsi adanya dana Rp 480 juta yang dijanjikan.
"Saya berani mengambil alih Full Ramadan ini karena ada janji uang senilai Rp 480 juta. Tapi begitu saya cek untuk kepulangan jemaah, katanya uang tersebut sudah dihanguskan oleh pihak travel awal," terang Risma.
Ia mengaku kembali ke Indonesia lebih awal untuk menelusuri dana tersebut. Namun, ia justru mendapat informasi bahwa uang muka jemaah telah habis.
"Saya mau urus uang itu. Saya kaget ternyata sudah dihanguskan, padahal itu hak jemaah yang sudah lunas di awal. Saya tidak kenal siapa owner-nya (BIJ). Saya hanya beli akses Siskopatuh (travel lainnya) agar jemaah bisa berangkat resmi sesuai aturan Kemenag," jelasnya.
Risma juga membantah isu bahwa jemaah hanya dibekali tiket sekali jalan tanpa tiket pulang.
"Tidak mungkin visa keluar kalau tidak ada tiket pulang. Kalau tidak ada, pasti sudah ditahan di imigrasi sejak awal. Saya punya buktinya, tiket kepulangan itu ada," katanya.
Jemaah Mengaku Tertekan dan Terancam
Di sisi lain, salah satu jemaah, Haji Aminah, menyampaikan kondisi berbeda. Ia menyebut para jemaah sempat menghadapi tekanan dari pihak hotel terkait pembayaran.
"Hotel selalu menagih kami dan tadi malam masih terjadi penyitaan kunci kamar karena belum dibayar oleh pihak travel Haji Risma," ujar salah satu jemaah, Haji Aminah, saat dihubungi Kemenhaj Parepare, Kamis (2/4).
Aminah mengatakan rombongan terdiri dari jemaah asal Parepare dan Makassar. Ia sendiri berangkat bersama 10 orang dari Makassar.
"Saya orang Makassar, cuma gabung dengan orang Parepare. Saya sepuluh orang dari Makassar," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan kondisi psikologis jemaah yang terguncang akibat ketidakpastian kepulangan.
"Tidak pernah ada kepastian sama sekali dari pihak kementerian, kami bingung mau sampai kapan berada dalam kondisi begini kodong (kasihan) seperti ini," keluh Aminah.
Saat ini, pihak travel mengaku masih menunggu kepulangan mitra mereka, Haji Bashira, untuk membantu menyelesaikan persoalan dengan travel awal. Harapannya, polemik dana dapat segera tuntas sehingga jemaah bisa dipulangkan ke Indonesia.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
