himpuh.or.id

Titip Doa ke Jemaah Haji, Boleh Nggak Sih? Ini Kata Ulama

Kategori : Berita, Khazanah, Ditulis pada : 13 April 2026, 12:01:57

1123491_720.jpg

HIMPUHNEWS - Tradisi menitipkan doa kepada kerabat yang berangkat haji masih kuat di tengah masyarakat Indonesia. Harapan agar doa dipanjatkan di depan Ka’bah—tempat yang diyakini mustajab—membuat banyak orang memanfaatkan momen tersebut untuk menyampaikan hajatnya.

Namun di balik tradisi itu, muncul pertanyaan: apakah menitipkan doa dibenarkan dalam Islam, dan bagaimana etika melakukannya agar tidak membebani jemaah?

Ada Landasan, Tapi Jangan Berlebihan

Penceramah Buya Yahya menjelaskan bahwa secara hukum, menitipkan doa kepada jemaah haji atau umrah diperbolehkan.

Hal ini, menurutnya, memiliki dasar dalam ajaran Islam. Ia mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad SAW pernah meminta didoakan oleh Umar bin Khattab ketika hendak melaksanakan ibadah.

“Bawa aku dalam doamu.”

Pesan tersebut menunjukkan bahwa meminta didoakan oleh orang yang sedang berada di Tanah Suci bukanlah hal yang asing dalam tradisi Islam.

Etika: Sederhana, Jangan Merepotkan

Meski diperbolehkan, Buya Yahya mengingatkan agar praktik ini tidak dilakukan secara berlebihan hingga membebani jemaah.

“Minta doa boleh... tapi jangan repotkan, doanya satu gembok begitu, tidak kebaca nanti bingung. Serahkan suruh doain gitu saja. Kalau suruh baca (kertas), tidak harus seperti itu, ngerepoti itu,” ujarnya.

Ia menyoroti kebiasaan sebagian orang yang menitipkan daftar doa panjang dalam bentuk tulisan. Jika satu orang saja sudah panjang, bagaimana jika ratusan orang melakukan hal serupa.

Karena itu, ia menyarankan agar permintaan doa cukup disampaikan secara sederhana dan umum, misalnya memohon keselamatan atau berharap bisa menyusul ke Tanah Suci.

Soal Oleh-oleh: Budaya yang Perlu Dihentikan

Selain titip doa, Buya Yahya juga menyoroti kebiasaan meminta oleh-oleh kepada jemaah haji yang dinilai justru memberatkan.

Menurutnya, permintaan barang—meski terlihat sederhana seperti sajadah—akan menjadi beban jika datang dari banyak orang. Hal ini berkaitan dengan keterbatasan bagasi dan fokus ibadah jemaah.

Ia bahkan menyinggung potensi munculnya ketidakjujuran akibat tekanan tersebut. Jemaah bisa merasa serba salah: tidak membelikan dianggap tidak enak, tetapi jika dipenuhi justru memberatkan.

“Jangan minta hadiah, minta doa selesai. Kemudian Anda kasih duit. Kami ingin menghilangkan budaya gampang orang minta,” tegasnya.

Dukung dengan Cara yang Lebih Bijak

Alih-alih meminta, Buya Yahya justru menganjurkan agar masyarakat memberikan dukungan kepada jemaah yang berangkat haji, baik berupa doa maupun bantuan.

Jika jemaah memberikan oleh-oleh atas inisiatif sendiri setelah pulang, hal tersebut dapat diterima. Namun, memesan sejak awal dinilai berpotensi mengganggu kekhusyukan ibadah mereka.

Pada akhirnya, esensi dari hubungan sosial dalam ibadah haji bukanlah pada apa yang dibawa pulang, melainkan pada doa dan keberkahan yang dibagikan.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id