himpuh.or.id

Muzdalifah: Malam Suci di Antara Arafah dan Mina, Jantung Perjalanan Haji

Kategori : Berita, Khazanah, Topik Hangat, Haji 1447 H / 2026 M, Ditulis pada : 27 Mei 2026, 07:48:48

FotoJet - 2026-05-27T075020.569.jpg

HIMPUHNEWS - Muzdalifah menjadi salah satu lokasi paling sakral dalam rangkaian ibadah haji. Di hamparan tanah terbuka inilah jutaan jemaah dari seluruh dunia bermalam usai menjalani wukuf di Arafat, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Mina untuk melaksanakan lempar jumrah.

Pada malam 10 Dzulhijjah, kawasan Muzdalifah dipenuhi lautan manusia yang larut dalam doa, dzikir, dan ibadah. Para jemaah melaksanakan salat Maghrib dan Isya secara jamak qashar mengikuti sunnah Rasulullah SAW, dalam suasana yang tenang dan penuh kekhusyukan.

Nama Muzdalifah diyakini berasal dari kata zulaf al-layl yang menggambarkan kedatangan jemaah pada awal malam, atau dari kata izdalaf yang berarti “mendekat”, merujuk pada perjalanan spiritual para jemaah yang semakin dekat menuju Masjidil Haram. Berlokasi di antara Arafah dan Mina, kawasan ini berjarak sekitar delapan kilometer dari Masjidil Haram dan memiliki luas lebih dari 11,68 juta meter persegi dengan kapasitas mencapai lebih dari dua juta jemaah.

Muzdalifah bukan sekadar tempat persinggahan, melainkan bagian penting dari inti perjalanan haji. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Al-Masy’ar Al-Haram.” Ayat tersebut menegaskan kedudukan spiritual Muzdalifah sebagai tempat memperbanyak dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Di tengah kawasan ini berdiri Al-Mash’ar Al-Haram Mosque yang menjadi pusat ibadah dan doa para jemaah. Tempat tersebut juga memiliki sejarah penting karena menjadi lokasi Rasulullah SAW bermalam dan mengumpulkan batu kerikil untuk ritual lempar jumrah.

Dahulu, jemaah haji menjalani malam di Muzdalifah dengan fasilitas yang sangat sederhana. Namun kini, Pemerintah Arab Saudi terus menghadirkan berbagai pengembangan besar demi meningkatkan kenyamanan dan keselamatan jemaah.

Di bawah kepemimpinan Salman bin Abdulaziz Al Saud dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, kawasan Muzdalifah mengalami transformasi signifikan melalui berbagai proyek modernisasi.

Salah satunya dilakukan Kidana Development Company melalui proyek jalur pejalan kaki Mashaer Path seluas 170 ribu meter persegi. Jalur ini dilengkapi lantai karet ramah lingkungan yang membantu mengurangi panas dan kelelahan jemaah saat berjalan kaki.

Tak hanya itu, tersedia pula fasilitas penunjang seperti area duduk, kipas kabut air, stasiun air minum, titik pengisian daya ponsel, jalur kendaraan dan mobil golf, hingga papan petunjuk arah yang memudahkan mobilitas jutaan jemaah.

Sementara itu, Ministry of Islamic Affairs, Dawah and Guidance melakukan peningkatan layanan di Masjid Al-Mash’ar Al-Haram melalui perbaikan pencahayaan, sistem audio, penyediaan karpet, serta perluasan area salat perempuan hingga 100 persen.

Untuk menjaga keamanan selama puncak haji, otoritas Saudi juga mengoperasikan sistem digital modern dan kamera pintar yang memantau pergerakan jemaah secara real-time dari pusat kontrol utama.

Perpaduan antara kekuatan spiritual, sejarah panjang, dan dukungan teknologi modern menjadikan Muzdalifah bukan hanya tempat bermalam, tetapi juga simbol perjalanan suci yang menjadi jantung dari ibadah haji itu sendiri.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id