Inspiratif! Penjual Es Kelapa Ini Daftarkan 24 Anggota Keluarga untuk Haji

HIMPUHNEWS - Deru kendaraan bermotor memecah pagi di sekitar Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Bukan iring-iringan pejabat atau rombongan resmi, melainkan seorang penjual es kelapa yang datang membawa mimpi besar untuk keluarganya: berangkat ke Tanah Suci.
Pria itu dikenal warga sebagai Haji Ali. Dengan lima unit mobil dan belasan kendaraan roda dua, ia mendaftarkan 24 anggota keluarganya—anak, ponakan, hingga cucu—untuk mendapatkan porsi haji. Kehadiran rombongan berjumlah 36 orang itu pun menyedot perhatian warga sekitar.
Kepala Kantor Kemenhajumrah Gowa, Alim Bahri, membenarkan pendaftaran tersebut. “Kami telah menerima rombongan H Ali yang mendaftarkan anak, ponakan dan cucu-cucunya,” kata Alim Bahri dikutip dari Antara Selasa (13/01).
Pemandangan itu dinilai tidak lazim. Seorang penjual es kelapa datang bukan hanya untuk dirinya, melainkan sekaligus membawa puluhan anggota keluarga, mendaftarkan mereka sejak dini demi satu tujuan yang sama.
Haji Ali (61) tak menutupi niatnya. “Kami datang untuk daftarkan anak, ponakan, dan cucu dapat porsi haji,” katanya.
Baginya, pendaftaran ini bukan keputusan mendadak. Ia telah merasakan dua kali berhaji—pada 1996 dan 2012—pengalaman yang kemudian menumbuhkan tekad agar keluarganya kelak merasakan hal serupa.
Ia sadar, daftar tunggu haji bisa memakan waktu puluhan tahun. Karena itu, langkah diambil sekarang, meski keberangkatan masih lama di depan mata. Dengan pendaftaran saat ini, ke-24 anggota keluarganya dijadwalkan melunasi sisa setoran dan berangkat pada 2050.
“Semoga Allah memberikan umur panjang dan dapat menunaikan rukun Islam yang kelima itu,” ujarnya.
Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan soal antrean panjang dan biaya haji, kisah Haji Ali menyajikan sudut pandang lain: ketekunan dari usaha sederhana, kesabaran menunggu, dan visi jauh ke depan untuk keluarga. Dari gerobak es kelapa, ia menanam harapan agar kelak satu per satu orang-orang terdekatnya menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
