Disrupsi Industri Makin Nyata, Prof Rhenald Kasali Ajak Pelaku Travel di HIMPUH Tinggalkan Cara Bisnis Lama

HIMPUHNEWS – Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof Rhenald Kasali, mengingatkan pelaku usaha travel haji dan umrah yang tergabung dalam Himpunan Penyelenggara Umrah Haji (HIMPUH) agar bersiap menghadapi perubahan besar dalam industri perjalanan ibadah. Perubahan itu mencakup transformasi digital, pergeseran pola konsumen, hingga dinamika regulasi yang terus berkembang mengikuti zaman.
Hal tersebut disampaikan Prof Rhenald dalam sesi talkshow pada kegiatan Musyawarah Kerja (MUKER) HIMPUHyang digelar di The Trans Luxury Hotel Bandung, Senin (26/1). Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa dunia kini berada dalam situasi penuh ketidakpastian, sehingga perusahaan travel tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara lama.
“Hari ini kita menghadapi ketidakpastian. Teknologi, waduh teknologi ini merubah perilaku. Memunculkan generasi baru yang berbeda sama kita. Dan mengubah banyak hal termasuk regulasi juga ikut berubah,” ujar Prof Rhenald di hadapan peserta MUKER.
Jamaah Umrah Muda Lebih Mandiri dan Suka Membandingkan Layanan
Prof Rhenald menyoroti munculnya generasi jamaah baru, terutama jamaah muda, yang sangat akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa mencari informasi secara mandiri, membandingkan layanan travel, hingga menjadikan review sebagai dasar utama dalam menentukan pilihan perjalanan ibadah.
Ia menjelaskan bahwa pola konsumsi jamaah kini jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Jika dulu jamaah cenderung pasif dan menerima layanan travel apa adanya, kini mereka justru aktif, kritis, dan cepat memberikan penilaian.
“Mereka ini adalah pembanding layanan karena mereka hidupnya dunia digital. Kemudian ini, mereka review driven. Tergantung daripada review, apapun juga mereka review,” kata Prof Rhenald.
Menurutnya, travel umrah harus memahami bahwa jamaah hari ini semakin sadar harga, terbiasa dengan kemudahan, menuntut respons cepat, serta memiliki toleransi rendah terhadap janji yang berlebihan.
Saudi Vision 2030 Jadi Sinyal Modernisasi Besar dalam Industri Umrah
Dalam kesempatan itu, Prof Rhenald juga mengaitkan transformasi industri umrah dengan program besar Arab Saudi melalui Saudi Vision 2030. Ia menilai Saudi sedang menyiapkan masa depan ekonomi baru pasca-minyak, termasuk dengan memperluas modernisasi layanan ibadah dan wisata religi.
Ia menegaskan bahwa perubahan besar di Saudi akan berdampak langsung terhadap ekosistem perjalanan haji dan umrah, termasuk bagi penyelenggara travel di Indonesia.
“Kenapa Saudi bikin Saudi Vision 2030? Jawabnya dia merasa tidak yakin bahwa minyak ini masih akan terus bertahan. Maka Saudi berpikir untuk menciptakan cara baru. Dibikinlah cara baru, dengan pelayanan baru, dengan cara baru, dan seterusnya,” ungkapnya.
Arab Saudi, lanjut Prof Rhenald, kini tidak hanya memposisikan diri sebagai tujuan ibadah semata, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang ramah dengan infrastruktur modern dan layanan digital.
“Visa makin mudah dan infrastruktur makin ramah. Karena dia perlu pengganti minyak. Bukan hanya sekedar tempat untuk ibadah saja. Tapi juga wisata,” jelasnya.
Travel Tidak Bisa Bertahan dengan Cara Lama
Prof Rhenald menekankan bahwa perubahan zaman menuntut perusahaan travel untuk tidak sekadar bertahan, tetapi benar-benar bertransformasi. Ia mengingatkan bahwa banyak bisnis keluarga besar di Indonesia yang gagal karena tetap menggunakan pola lama dan tidak mampu membaca perubahan pasar.
Menurutnya, travel haji dan umrah juga akan menghadapi ujian serupa jika tidak melakukan inovasi dan adaptasi.
“Kalau kita berpikirnya akan pakai cara lama, cara baru bermunculan, bagaimana dengan perusahaan kita ikut berubah apa nggak? Apakah kita pasrah saja mengikuti nasib? Kita suruh Tuhan yang bekerja terus buat kita,” tegas Prof Rhenald.
Ia mengingatkan bahwa perusahaan yang hanya pasrah tanpa inisiatif akan tertinggal, sementara pemain baru akan masuk dengan cara-cara digital yang lebih cepat dan efisien.
Salah satu isu besar yang disoroti Prof Rhenald adalah munculnya fenomena jamaah umrah yang semakin mandiri. Dengan kemajuan platform digital, online travel agent, dan kemudahan akses informasi, sebagian jamaah mulai mempertanyakan kebutuhan menggunakan jasa travel konvensional.
Menurutnya, kondisi ini harus dijawab dengan peningkatan kualitas layanan, inovasi, serta membangun kepercayaan jamaah melalui pengalaman yang lebih baik.
“Online travel agent dan platform digital makin agresif. Dan muncul fenomena umrah bisa jalan sendiri. Dan akhirnya mereka berkata ngapain pakai travel,” tuturnya.
Prof Rhenald menilai travel harus mampu membuktikan nilai tambahnya, bukan hanya sebagai penyedia tiket dan hotel, tetapi juga sebagai pendamping ibadah yang amanah, profesional, dan adaptif.
Perlu Sinergi dengan Pemerintah
Dalam konteks penguatan industri, Prof Rhenald juga menekankan pentingnya kolaborasi antara asosiasi travel seperti HIMPUH dengan pemerintah. Ia menilai ajakan Kementerian Haji dan Umrah kepada HIMPUH untuk bersinergi merupakan langkah strategis agar pelayanan jamaah semakin optimal.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem penyelenggaraan haji dan umrah yang lebih tertata, profesional, serta sesuai dengan regulasi terbaru.
Dengan sinergi yang kuat, penyelenggara perjalanan ibadah Indonesia dapat memberikan pelayanan terbaik, aman, nyaman, serta relevan dengan kebutuhan jamaah masa kini.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
