himpuh.or.id

Bukit Abu Shada’, Saksi Bisu Perjalanan Jemaah Haji di Jalur Kuno Menuju Makkah

Kategori : Berita, Khazanah, Ditulis pada : 30 Maret 2026, 12:28:42

FotoJet - 2026-03-30T123415.066.jpg

HIMPUHNEWS — Hari ini, perjalanan haji bisa ditempuh dalam hitungan jam dengan pesawat. Jemaah berangkat dengan nyaman, terjadwal, dan serba terfasilitasi.

Namun ratusan tahun lalu, kisahnya sangat berbeda.

Perjalanan menuju Tanah Suci adalah ujian panjang yang penuh risiko—menembus gurun, menghadapi panas ekstrem, dan menempuh perjalanan berbulan-bulan hanya untuk sampai ke Makkah.

Di antara jejak perjalanan panjang itu, berdiri sebuah saksi bisu yang masih bisa dilihat hingga hari ini: Bukit Abu Shada’.

Bukit Abu Shada’ ini berada di utara Kabupaten Al Lith, di jalur yang dahulu menjadi lintasan penting para jemaah dari selatan Jazirah Arab—seperti Yaman dan Oman—menuju Makkah.

Bahkan, jemaah dari Afrika, India, hingga Nusantara pun pernah melewati jalur ini setelah tiba di pelabuhan pesisir barat.

Bayangkan, rombongan besar berjalan kaki atau menunggang unta, membawa bekal seadanya, menembus panas siang dan dingin malam gurun.

Setiap langkah adalah perjuangan. Setiap persinggahan adalah harapan untuk bertahan.

Dan di tengah perjalanan itu, Bukit Abu Shada’ menjadi salah satu titik penting—tempat beristirahat, mengumpulkan tenaga, sekaligus memastikan arah perjalanan tetap benar.

Secara kasat mata, Bukit Abu Shada’ tampak seperti susunan batu raksasa yang menjulang. Formasinya terbentuk selama ribuan tahun oleh angin dan aliran air, menciptakan lanskap yang dramatis dan unik.

Di sekitarnya, terdapat cekungan alami yang dahulu menampung air hujan—sumber kehidupan bagi para musafir yang melintas.

Ada pula batu ikonik yang dikenal sebagai “Batu Abu Shada’”, yang hingga kini masih diselimuti cerita rakyat dan kisah turun-temurun dari masyarakat setempat.

Namun lebih dari itu, setiap lekukan batu di tempat ini seakan menyimpan jejak langkah para jemaah yang pernah singgah—lelah, tapi penuh keyakinan.

Jika hari ini jemaah bisa terbang langsung ke Jeddah atau Madinah dalam waktu singkat, dulu perjalanan haji adalah tentang ketahanan fisik, mental, dan iman.

Tak ada jadwal pasti.
Tak ada jaminan keselamatan.
Bahkan, tak sedikit yang harus menghadapi sakit, kehabisan bekal, hingga ancaman di tengah perjalanan.

Bukit Abu Shada’ menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan sekadar ritual, tetapi juga kisah panjang tentang perjuangan manusia mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kini, Bukit Abu Shada’ tak lagi menjadi tempat persinggahan kafilah haji. Namun, pesonanya tetap hidup sebagai destinasi wisata alam dan sejarah.

Bagi para penjelajah dan pecinta sejarah, tempat ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan. Ia menghadirkan pengalaman—membayangkan bagaimana dulu para jemaah melintasi gurun dengan penuh harap.

Di tengah kemajuan zaman, Bukit Abu Shada’ tetap berdiri— sebagai pengingat bahwa di balik kemudahan hari ini, ada sejarah panjang penuh perjuangan yang pernah dilalui oleh para jemaah haji.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id