Dari Stasiun Makkah Menuju Masa Depan Haji Indonesia

HIMPUHNEWS - Setelah berakhirnya penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M, penulis berkesempatan melakukan perjalanan dari Makkah menuju Jeddah dengan menggunakan kereta cepat Al Haramain.
Perjalanan yang seharusnya menjadi rutinitas biasa itu justru menghadirkan sebuah percakapan singkat yang meninggalkan kesan mendalam dan memunculkan sebuah refleksi penting tentang perencanaan jangka panjang.
Di ruang tunggu Stasiun Kereta Makkah yang megah dan modern, penulis bertemu dengan seorang pria paruh baya asal Inggris yang baru saja menunaikan ibadah haji. Dengan raut wajah penuh keheranan, ia memandang sekeliling stasiun yang luas, bersih, dan tertata rapi.
"Saudaraku," katanya, "stasiun kereta ini sangat besar dan mewah. Namun saya tidak melihat keramaian ataupun hiruk-pikuk penumpang yang akan bepergian. Apakah ini tidak termasuk pemborosan?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi mengandung sudut pandang yang menarik. Penulis kemudian mencoba menjelaskan berdasarkan pengalaman selama beberapa tahun mengikuti penyelenggaraan haji dan menggunakan berbagai moda transportasi di Arab Saudi.
"Dalam musim haji," jawab penulis, "ada periode-periode tertentu yang sangat padat. Biasanya terjadi saat perpindahan jemaah sesuai siklus paket dan masa tinggal hotel di Makkah maupun Madinah, misalnya pada akhir Dzulqa'dah atau awal Dzulhijjah. Pada waktu-waktu tersebut, stasiun ini dapat dipenuhi oleh ribuan jemaah. Bahkan di luar musim haji, kondisi stasiun akan jauh lebih sepi dibandingkan sekarang."
Percakapan itu kemudian membawa penulis pada sebuah ingatan tentang pembangunan infrastruktur Arab Saudi yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Pikiran melayang ke akhir tahun 1980-an, saat Pemerintah Arab Saudi membangun dan mengoperasikan Terminal Haji Jeddah yang hingga kini masih menjadi salah satu gerbang utama kedatangan dan kepulangan jemaah haji dunia.
Lebih dari empat dekade telah berlalu, namun fasilitas tersebut tetap berfungsi dan terus melayani jutaan jemaah haji maupun umrah setiap tahunnya.
Penulis kemudian melanjutkan penjelasan kepada sahabat baru dari Inggris tersebut.
"Saudaraku, stasiun kereta ini tidak dibangun untuk kebutuhan hari ini saja. Sama seperti Terminal Haji Jeddah yang telah digunakan lebih dari 40 tahun, fasilitas ini merupakan bagian dari visi besar Arab Saudi untuk puluhan tahun ke depan. Lihatlah ke arah sana, Menara Jam Makkah terlihat jelas. Pemerintah Arab Saudi sedang membangun masa depan kota-kota suci agar semakin mampu melayani jumlah jemaah yang terus bertambah, sekaligus menjadikan Makkah dan Madinah lebih nyaman, ramah, dan terbuka bagi umat Islam dari seluruh dunia."
Tak lama kemudian kereta yang kami tunggu tiba. Percakapan singkat itu pun berakhir. Kami berpisah dengan saling mengucapkan terima kasih. Namun bagi penulis, dialog sederhana tersebut menyisakan pelajaran yang sangat berharga: pembangunan besar tidak selalu dapat dinilai dari kondisi hari ini, melainkan dari tujuan jangka panjang yang ingin dicapai.
Kapan Kita Bisa?
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada Rabu, 9 Juni 2026, penulis mendapat kesempatan menghadiri Rapat Dengar Pendapat dengan Komite III DPD RI dalam rangka evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M.
Di tengah diskusi yang membahas berbagai dinamika penyelenggaraan haji, pikiran penulis kembali teringat pada percakapan di Stasiun Kereta Makkah. Saat itulah muncul sebuah pertanyaan yang layak kita renungkan bersama:
Kapan Indonesia memiliki peta jalan (road map) penyelenggaraan haji jangka panjang yang disepakati dan dijalankan secara konsisten oleh seluruh pemangku kepentingan?
Penyelenggaraan haji Indonesia merupakan pekerjaan besar yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, DPR, DPD, penyelenggara layanan, hingga berbagai institusi pendukung lainnya.
Setiap tahun evaluasi dilakukan, berbagai catatan disampaikan, dan beragam rekomendasi dihasilkan. Namun tanpa arah jangka panjang yang jelas, tidak jarang pembahasan yang sama kembali muncul dari tahun ke tahun.
Sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan duduk bersama dan menyusun sebuah Road Map Penyelenggaraan Haji Indonesia yang visioner, terukur, dan berkelanjutan. Road map tersebut tidak hanya menjawab tantangan hari ini, tetapi juga mengantisipasi kebutuhan 10, 20, bahkan 30 tahun ke depan.
Sebab, seperti yang ditunjukkan oleh Arab Saudi melalui pembangunan infrastruktur hajinya, keberhasilan tidak lahir dari keputusan sesaat. Keberhasilan dibangun melalui visi yang panjang, perencanaan yang matang, dan konsistensi dalam pelaksanaannya.
Pada akhirnya, setiap pembangunan besar memang memiliki tujuan. Pertanyaannya bukan lagi apakah tujuan itu ada, melainkan apakah kita telah menyiapkan langkah-langkah yang cukup jauh untuk mencapainya.
Karena masa depan penyelenggaraan haji Indonesia tidak dibangun untuk satu musim haji, tetapi untuk generasi-generasi jemaah yang akan datang.
Ditulis oleh: Hilman Farikhi, Sekretaris Jenderal (Sekjend) HIMPUH.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
