himpuh.or.id

World Cup 2026 dan Haji: Ketika Dua Juta "Pemain" Menjalankan Ibadah Terbesar di Dunia

Kategori : Berita, Khazanah, Topik Hangat, Ditulis pada : 03 Juli 2026, 17:51:15

FotoJet (53).jpg

HIMPUHNEWS - Dunia baru saja menyaksikan dua mega event

Belum lama ini, umat Islam di seluruh dunia baru saja menyelesaikan penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi. Sekitar dua juta jemaah dari berbagai negara telah menuntaskan rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, Mina, Makkah, dan Madinah. Di balik kekhusyukan tersebut, berlangsung sebuah operasi kemanusiaan dan spiritual berskala global yang melibatkan jutaan manusia, ratusan ribu petugas, serta koordinasi lintas sektor yang sangat kompleks.

Pada saat yang hampir bersamaan, perhatian dunia kini tertuju kepada World Cup 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Stadion-stadion dipenuhi penonton, hotel-hotel penuh, transportasi massal bekerja tanpa henti, dan pemerintah tiga negara mengerahkan sumber daya yang sangat besar demi memastikan turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut berjalan sukses.

Sebagai seseorang yang baru saja menyelesaikan musim operasional haji 2026, saya justru melihat adanya persamaan yang menarik antara kedua peristiwa global tersebut.

Keduanya merupakan mega event yang membutuhkan persiapan bertahun-tahun, melibatkan jutaan manusia dari berbagai negara, memerlukan koordinasi lintas lembaga, pengelolaan transportasi, akomodasi, keamanan, kesehatan, komunikasi, hingga sistem mitigasi risiko yang sangat matang.

Namun, setelah mengamati keduanya dari perspektif Operations Management, saya sampai pada sebuah kesimpulan yang menarik.

Jika World Cup merupakan salah satu event olahraga terbesar di dunia, maka penyelenggaraan ibadah haji merupakan salah satu operasi kemanusiaan dan spiritual paling kompleks yang diselenggarakan setiap tahun.

Mengapa demikian?

Ketika Semua Orang Menjadi Pemain

Mari kita mulai dari pertandingan sepak bola.

Bayangkan pertandingan fase grup World Cup 2026 antara Argentina melawan Austria.

Sorotan kamera dunia tertuju ke stadion. Puluhan ribu penonton memenuhi tribun. Jutaan orang lainnya menyaksikan melalui televisi dan media digital.

Namun apabila diperhatikan, di dalam lapangan hanya terdapat 22 pemain dan 1 orang wasit.

Artinya, hanya 23 orang yang benar-benar menjalankan pertandingan.

Sementara puluhan ribu orang lainnya adalah penonton.

Mereka memang harus membeli tiket, mengantre memasuki stadion, melewati pemeriksaan keamanan, mencari tempat duduk, membeli makanan, menggunakan toilet, bahkan menghadapi kemacetan sebelum dan sesudah pertandingan.

Namun mereka tetap bukan bagian dari permainan.

Mereka hanya menyaksikan.

Bandingkan dengan penyelenggaraan ibadah haji.

Di Arafah...

Di Muzdalifah...

Di Mina...

Tidak ada satu pun penonton.

Seluruh manusia yang hadir adalah pelaku utama ibadah.

Sekitar dua juta jemaah dari lebih 180 negara bergerak menuju lokasi yang sama untuk melaksanakan ritual yang hampir bersamaan, pada waktu yang sama, sesuai ketentuan syariat.

Dengan kata lain, apabila World Cup memiliki 23 orang yang menjalankan pertandingan, maka penyelenggaraan haji memiliki sekitar dua juta "pemain" yang harus menjalankan ibadah secara bersamaan.

Di sinilah letak perbedaan mendasarnya.

Kompleksitas yang Sangat Berbeda

Dalam ilmu Operations Management, tingkat kompleksitas suatu operasi dipengaruhi oleh banyaknya aktivitas yang harus berlangsung secara bersamaan (simultaneous operations), saling bergantung (interdependency), memiliki keterbatasan ruang (capacity constraint), serta dibatasi oleh waktu yang sangat ketat (time critical operation).

Semua karakteristik tersebut terdapat dalam penyelenggaraan haji.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah seluruh jemaah harus berada di Arafah.

Setelah itu, mereka bergerak menuju Muzdalifah.

Kemudian menuju Mina.

Selanjutnya kembali ke Masjidil Haram untuk thawaf ifadah.

Semua dilakukan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan.

Tidak ada pilihan untuk memundurkan jadwal seminggu kemudian.

Tidak ada pilihan berpindah lokasi sesuka hati.

Seluruh rangkaian tersebut telah ditentukan oleh syariat Islam.

Haji dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan

Dalam dunia akademik, haji sering dijadikan salah satu contoh Mass Gathering paling kompleks di dunia.

Organisasi kesehatan dunia, para peneliti kesehatan masyarakat, hingga akademisi di bidang Mass Gathering Medicine menggunakan penyelenggaraan haji sebagai laboratorium nyata dalam mempelajari pergerakan jutaan manusia, pengendalian penyakit menular, keselamatan publik, serta manajemen kerumunan (crowd management).

Tidak banyak penyelenggaraan di dunia yang setiap tahun mempertemukan jutaan manusia dari lebih dari 180 negara, dengan bahasa, budaya, usia, kondisi kesehatan, serta karakteristik yang sangat beragam.

Seluruhnya harus bergerak dalam ruang yang relatif terbatas.

Seluruhnya menghadapi suhu yang dapat melampaui 40 derajat Celsius.

Seluruhnya membutuhkan makanan, transportasi, sanitasi, pelayanan kesehatan, komunikasi, keamanan, dan perlindungan secara bersamaan.

Inilah yang menjadikan penyelenggaraan haji sangat unik.

Mengelola Risiko, Bukan Menghilangkannya

Selama lebih dari dua puluh tahun berkecimpung dalam penyelenggaraan haji, saya menyimpulkan satu hal.

Risiko tidak mungkin dihilangkan.

Yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi, mengukur, memetakan, kemudian memitigasinya.

Atas dasar itulah, menjelang musim haji 2026 kami menyusun 16 Matrix Risiko Operasional Haji, mulai dari proses pra-keberangkatan, pemeriksaan kesehatan, keberangkatan di bandara, kedatangan di Arab Saudi, pelaksanaan umrah wajib, fase Arafah-Muzdalifah-Mina, perpindahan antarkota, pelaksanaan Arbain, hingga kepulangan ke Indonesia. Setiap tahapan memiliki risiko yang berbeda sehingga membutuhkan strategi mitigasi yang berbeda pula. 

Pendekatan tersebut sebenarnya sejalan dengan konsep Enterprise Risk Management, yaitu bahwa organisasi yang baik bukanlah organisasi yang bebas dari risiko, melainkan organisasi yang mampu mengelola risiko secara sistematis.

Mengubah Cara Pandang Calon Jemaah

Masih banyak calon jemaah yang berharap seluruh proses haji berlangsung tanpa antrean, tanpa kepadatan, tanpa perubahan jadwal, dan tanpa hambatan.

Harapan tersebut tentu sangat manusiawi.

Namun, memahami kompleksitas penyelenggaraan haji akan membantu membangun ekspektasi yang lebih realistis.

Sebagian besar antrean bukan semata-mata disebabkan oleh buruknya pelayanan.

Sebagian besar kepadatan bukan berarti terjadi kegagalan sistem.

Sebaliknya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi logis ketika sekitar dua juta manusia melakukan aktivitas yang sama, pada lokasi yang sama, dan pada waktu yang sama.

Semakin seorang jemaah memahami kenyataan tersebut, semakin mudah ia menerima dinamika yang terjadi sebagai bagian dari perjalanan ibadah.

Persiapan Terbaik adalah Mempersiapkan Diri

Karena itu, saya selalu mengingatkan kepada setiap calon jemaah.

Jangan hanya menyiapkan koper.

Jangan hanya menyiapkan paspor.

Jangan hanya menyiapkan biaya.

Tetapi siapkan pula kesehatan.

Perkuat fisik.

Pelajari manasik.

Latih kesabaran.

Bangun ketahanan mental.

Sebab haji bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci.

Haji adalah perjalanan mengelola diri di tengah salah satu operasi kemanusiaan dan spiritual paling kompleks yang diselenggarakan setiap tahun.

Mungkin dunia akan terus mengagumi kemegahan World Cup 2026.

Namun bagi saya, setiap musim haji selalu menghadirkan kekaguman yang berbeda.

Bukan karena megahnya stadion.

Melainkan karena jutaan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya mampu bergerak menuju tujuan yang sama, pada waktu yang sama, dengan satu niat yang sama.

Memenuhi panggilan Allah SWT.

 

Ditulis oleh: Muhamad Solihin
Sales & Operation Director ESQ Tours | Praktisi Penyelenggaraan Haji | Dosen Pariwisata | Pengurus HIMPUH

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id