himpuh.or.id

40 Tahun Menabung untuk Haji, Tukang Sol Sepatu ini Justru Berikan Seluruh Uangnya kepada Tetangga

Kategori : Berita, Khazanah, Ditulis pada : 11 September 2026, 09:00:48

WhatsApp Image 2026-09-11 at 11.06.03.jpeg

HIMPUHNEWS - Ada kerinduan yang dipelihara bertahun-tahun. Ada pula perjalanan yang pada akhirnya tidak pernah benar-benar dimulai.

Begitulah kisah Ali bin al-Muwaffaq, seorang tukang sol sepatu asal Damaskus yang hidup pada masa tabiin. Selama 40 tahun, ia menabung sedikit demi sedikit dari penghasilannya. Tujuannya hanya satu: menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

Hari demi hari berlalu. Sedikit demi sedikit uang dikumpulkan. Hingga akhirnya terkumpul 350 dirham, jumlah yang cukup untuk mewujudkan impian yang telah lama ia pendam.

Musim haji pun tiba. Ali bersiap berangkat.

Namun takdir menghadirkan perjalanan lain.

Kisah tersebut diceritakan dalam buku 198 Kisah Haji Wali-Wali Allah karya Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny.

Aroma Masakan dari Rumah Sebelah

Suatu hari, menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci, istri Ali yang sedang mengandung mencium aroma masakan dari rumah tetangga.

Keinginan sederhana muncul. Sang istri ingin mencicipi sedikit makanan tersebut dan meminta Ali datang ke rumah tetangga untuk memintanya.

Ali pun memenuhi permintaan istrinya.

Ia mendatangi rumah di sebelahnya dan menyampaikan maksud kedatangannya. Namun jawaban yang diterimanya jauh dari yang dibayangkan.

Tetangganya menangis.

“Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa. Hari ini kulihat ada seekor keledai mati tergeletak, maka kami mengambilnya, memotongnya, dan memasaknya untuk mereka. Ini bukan makanan halal bagimu.”

Kalimat itu mengguncang Ali.

Di rumahnya tersimpan 350 dirham untuk perjalanan haji. Sementara hanya beberapa langkah dari tempat tinggalnya, sebuah keluarga sudah tiga hari menahan lapar hingga terpaksa memasak bangkai untuk bertahan hidup.

Ali dihadapkan pada pilihan berat: mempertahankan tabungan yang dikumpulkannya selama empat dekade atau menyelamatkan keluarga yang sedang kelaparan di depan matanya.

Ia memilih yang kedua.

Tabungan 40 Tahun Berpindah Tangan

Ali bergegas kembali ke rumah.

Uang 350 dirham yang telah dikumpulkannya sedikit demi sedikit selama 40 tahun diambil. Bukan untuk membeli bekal perjalanan. Bukan pula untuk membayar ongkos menuju Tanah Suci.

Seluruhnya diberikan kepada keluarga tetangganya.

Keinginannya berangkat haji pada tahun itu pun kandas.

“Demikianlah perjalanan hajiku,” pungkas Ali bin al-Muwaffaq.

Ia tidak jadi berangkat menuju Makkah. Namun kisah tersebut justru berlanjut jauh dari Damaskus.

Kisah yang Disebut dalam Mimpi Abdullah bin al-Mubarak

Dalam cerita yang sama, Abdullah bin al-Mubarak, ulama ahli hadits terkemuka yang tinggal di Bagdad, dikisahkan tertidur setelah menunaikan ibadah haji.

Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan membicarakan jamaah haji pada tahun tersebut.

Salah satu malaikat dalam mimpi itu menyebut terdapat 600 ribu jamaah yang menunaikan haji. Namun pembicaraan kemudian mengarah kepada seseorang yang justru tidak datang ke Tanah Suci.

Namanya Ali bin al-Muwaffaq, tukang sepatu dari Damaskus.

Dikisahkan, Abdullah bin al-Mubarak terbangun dalam keadaan gemetar. Rasa penasaran kemudian membawanya menuju Damaskus untuk mencari sosok yang namanya ia dengar dalam mimpi tersebut.

Ia menyusuri kota hingga akhirnya menemukan rumah Ali.

Setelah bertemu, Abdullah bin al-Mubarak meminta Ali menceritakan apa yang dialaminya. Dari situlah kisah tabungan 40 tahun dan keluarga tetangga yang kelaparan terungkap.

Ketika Jalan Menuju Allah Tak Selalu Sesuai Rencana

Kisah Ali bin al-Muwaffaq menyimpan pesan yang kuat tentang makna ibadah dan kepedulian terhadap sesama.

Selama puluhan tahun, ia telah mempersiapkan diri untuk sebuah perjalanan yang dianggapnya sebagai puncak kerinduan spiritual. Namun ketika penderitaan orang lain hadir tepat di depan mata, ia memilih mengorbankan sesuatu yang sangat berharga baginya.

Ali tidak mengabaikan tetangganya demi mengejar keinginannya sendiri.

Tabungan empat dekade itu berpindah tangan dalam satu keputusan.

Bukan karena cita-citanya pergi haji telah hilang. Justru karena ia melihat ada kebutuhan yang lebih mendesak di hadapannya.

Kisah tersebut sekaligus menghadirkan renungan bahwa perjalanan menuju Allah tidak selalu berlangsung melalui jalan yang sebelumnya direncanakan manusia.

Ada orang yang menempuh ribuan kilometer menuju Tanah Suci. Ada pula seseorang yang, dalam kisah Ali, bahkan tidak meninggalkan kotanya tetapi menunjukkan pengorbanan besar melalui kepedulian kepada tetangga.

Pada akhirnya, kisah ini bukan semata tentang seorang lelaki yang gagal berangkat haji.

Ia adalah cerita tentang bagaimana kerinduan beribadah bertemu dengan kemanusiaan—dan bagaimana sebuah keputusan untuk menolong orang yang sedang kelaparan menjadi perjalanan spiritual tersendiri.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id