
HIMPUHNEWS - Persaingan penerbangan menuju Arab Saudi masih menjadi tantangan bagi maskapai nasional di tengah dorongan pemerintah untuk memperbesar peran Garuda Indonesia dan Lion Group dalam perjalanan umrah. Data Kementerian Perhubungan mencatat Saudia mengangkut 720.354 penumpang sepanjang Januari–September 2026, sementara Garuda Indonesia sebanyak 449.370 penumpang dan Lion Group 440.843 penumpang.
Data tersebut mencakup penumpang menuju Arab Saudi dan bukan jumlah jemaah umrah secara khusus. Meski demikian, angka itu memberikan gambaran mengenai persaingan layanan penerbangan menuju negara tujuan tersebut, yang menjadi salah satu konteks penguatan maskapai nasional dalam industri umrah.
Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) menekankan bahwa peningkatan penggunaan maskapai nasional perlu diikuti perbaikan daya saing, kepastian kapasitas, dan kualitas pelayanan. Tanpa pembenahan tersebut, penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) masih menghadapi keterbatasan ketika menentukan pilihan penerbangan bagi jemaah.
“HIMPUH mengharapkan adanya peningkatan daya saing, kepastian kapasitas, dan perbaikan kualitas pelayanan maskapai Nasional, utamanya Lion Air, agar tidak lagi menjadi pilihan terakhir bagi jemaah Umrah Indonesia,” Demikian pernyataan resmi HIMPUH yang diterima himpuhnews Kamis (29/10).
Biaya Avtur Menjadi Salah Satu Tantangan
Salah satu persoalan yang disoroti dalam pertemuan koordinasi antara pemerintah, maskapai, pengelola bandara, dan asosiasi penyelenggara umrah pada 26 Oktober 2026 adalah tingginya biaya operasional penerbangan.
Lion Group menyebut kenaikan harga avtur sebagai salah satu pemicu kenaikan harga tiket. Perbedaan harga bahan bakar antarb bandara juga menjadi perhatian, termasuk selisih harga yang disebut mencapai Rp7.100 per liter antara Bandara Kuala Lumpur dan bandara di Indonesia.
Dalam laporan pertemuan tersebut, harga bahan bakar di Indonesia juga digambarkan bervariasi antardaerah. Bandara Batam disebut memiliki harga termurah, sedangkan Bandara Jayapura disebut sebagai yang termahal.
Kondisi biaya ini menjadi tantangan ketika maskapai nasional dituntut menyediakan penerbangan yang kompetitif. Bagi PPIU, harga tiket merupakan salah satu komponen penting dalam menyusun paket perjalanan, sementara kapasitas dan kepastian jadwal turut menentukan pilihan penerbangan yang tersedia bagi jemaah.
Analisis strategis HIMPUH dalam laporan tersebut menyoroti persoalan biaya sebagai salah satu faktor penentu harga paket umrah.
“Tingginya biaya avtur, komponen operasional, dan keterbatasan pilihan penerbangan dapat mempengaruhi harga akhir paket Umrah," demikian catatan strategis HIMPUH.
Lion Group Paparkan Potensi Kapasitas Armada
Dalam pertemuan yang sama, Lion Group memaparkan armada yang dimiliki, terdiri atas 20 pesawat Boeing 737-900 berkapasitas 215 kursi, empat pesawat Boeing 737-9 berkapasitas 215 kursi, dan 10 pesawat Airbus A330 berkapasitas 400 penumpang.
Berdasarkan paparan tersebut, potensi kapasitas angkut Lion Air mencapai 9.150 penumpang per hari. Namun, laporan HIMPUH memberikan catatan bahwa angka tersebut masih memerlukan konfirmasi mengenai cakupan rute serta realisasi ketersediaannya untuk penerbangan umrah.
"Karena itu, jumlah armada dan potensi kapasitas belum dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kebutuhan penerbangan umrah dapat dipenuhi. Ketersediaan kursi pada rute yang dibutuhkan, jadwal keberangkatan, dan kepastian operasional tetap menjadi pertimbangan bagi penyelenggara," papar HIMPUH.
Lion Group mengajukan sejumlah usulan untuk memperbaiki efisiensi penerbangan. Di antaranya pengkajian tarif batas atas dan batas bawah sesuai kondisi operasional, skema harga avtur khusus penerbangan umrah, efisiensi biaya layanan di Arab Saudi, serta pengembangan mekanisme lindung nilai valuta asing.
Usulan lainnya meliputi relaksasi jam operasional bandara, penyederhanaan perizinan penerbangan tambahan, dan pemanfaatan fasilitas asrama haji untuk mendukung operasional umrah.
HIMPUH Tekankan Daya Saing Tanpa Mengorbankan Layanan
Bagi HIMPUH, penguatan maskapai nasional perlu disertai pembenahan yang memungkinkan perusahaan penerbangan bersaing melalui harga dan layanan. Kebijakan untuk meningkatkan penggunaan maskapai dalam negeri harus berjalan seiring dengan kesiapan operasional, bukan hanya mendorong perubahan pilihan penerbangan.
“Apabila pemerintah menghendaki peningkatan penggunaan maskapai Nasional, diperlukan langkah yang mampu meningkatkan daya saing biaya tanpa mengurangi standar keselamatan dan pelayanan," bunyi pernyataan HIMPUH.
Asosiasi juga menilai gambaran struktur harga yang lebih transparan diperlukan sebagai dasar penyampaian masukan kebijakan. Dengan informasi biaya yang lebih jelas, persoalan daya saing dapat dibahas dengan mempertimbangkan kebutuhan maskapai, keberlangsungan usaha PPIU, dan keterjangkauan biaya perjalanan bagi jemaah.
"Penguatan penerbangan nasional pada akhirnya membutuhkan dukungan dari berbagai sisi, mulai dari efisiensi operasional dan ketersediaan kapasitas hingga peningkatan kualitas pelayanan. HIMPUH menekankan bahwa langkah tersebut perlu dilakukan secara terukur agar penguatan industri penerbangan nasional dapat berjalan seiring dengan kebutuhan nyata penyelenggaraan umrah," tegas HIMPUH.
Bagikan:
Komentar
Belum ada komentar pada posting ini.