Lewati ke konten utama

Banyak yang Bisa Umrah, tapi Belum Daftar Haji? HIMPUH Ungkap PR Finansial Umat

Kategori: Berita,Kegiatan · Ditulis pada: 04 November 2026, 12:00:00

WhatsApp Image 2026-11-03 at 14.04.16.jpeg

HIMPUHNEWS – Keinginan masyarakat Indonesia untuk beribadah ke Tanah Suci belum selalu diikuti langkah nyata mempersiapkan perjalanan haji. Sebagian orang dapat merencanakan perjalanan umrah, tetapi belum menjadikan pendaftaran haji sebagai bagian dari prioritas keuangan jangka panjang.

Muhamad Solihin dari Divisi Bidang Hukum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) menyoroti kesenjangan tersebut. Dalam Live Podcast HIMPUH bersama Bank Danamon Syariah bertajuk Sinergi untuk Layanan Haji dan Umrah yang Lebih Kuat, ia membandingkan jumlah perjalanan umrah dengan pendaftaran haji setiap tahun.

Solihin menyebut jumlah jemaah umrah setiap tahun mencapai sekitar 1,5 juta hingga 2 juta orang. Sementara itu, pendaftar haji setiap tahun menurut angka yang ia peroleh diperkirakan sekitar 500 ribu hingga 600 ribu orang.

“Apakah mereka ini tidak mampu untuk daftar haji? Tidak mungkinnya umrah. Padahal kita bicara haji reguler sekitar Rp25 juta, umrah berapa? Rp30 juta, Rp40 juta, Rp50 juta,” ujar Solihin dalam podcast yang disiarkan melalui kanal YouTube HIMPUH TV, dikutip Rabu (4/11).

Menurut Solihin, kondisi tersebut menjadi pekerjaan bersama bagi masyarakat, penyelenggara perjalanan, dan pemerintah. Persoalannya bukan semata kemampuan menyediakan dana, tetapi juga kesadaran untuk memulai proses pendaftaran dan mempersiapkan kebutuhan haji sejak awal.

“Mau umrah berkali-kali, itu tidak akan menggugurkan kebutuhan kita berhaji,” katanya.

Niat Berhaji Perlu Diikuti Perencanaan Keuangan

Solihin menilai, salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah mengubah keinginan berhaji menjadi tindakan konkret. Tanpa perencanaan keuangan, calon jemaah berisiko terus menunda pendaftaran maupun persiapan dana keberangkatan.

Pandangan tersebut sejalan dengan Dwi Rachmawati Suryani, Syariah Funding Product Head Bank Danamon Syariah. Ia mengatakan, masyarakat Indonesia memiliki niat besar untuk berhaji, tetapi niat tersebut kerap belum diwujudkan dalam langkah perencanaan yang terukur.

“Masyarakat Indonesia itu niatnya besar banget. Tapi sering kali niatnya tidak diwujudkan dalam bentuk aksi. Padahal kalau tidak ada perencanaan finansialnya, ya tidak mulai-mulai,” ujar Dwi.

Sebagai perencana keuangan, Dwi menyarankan tiga langkah sederhana. Pertama, menetapkan tujuan keuangan sekaligus menentukan waktu yang ingin dicapai. Kedua, menghitung kebutuhan dana dengan mempertimbangkan kemungkinan kenaikan biaya. Ketiga, menghitung kebutuhan tabungan secara berkala agar target tersebut dapat dipersiapkan sejak sekarang.

“Jadi kita harus tentukan dulu tujuan keuangannya dan kapan waktunya. Kemudian kita coba menghitung kebutuhan dananya dengan juga mempertimbangkan kira-kira ada kenaikan biaya atau tidak. Setelah tahu jumlahnya, tinggal dihitung mundur berapa yang harus disiapkan setiap bulan,” jelasnya.

Menurut Dwi, pola tersebut dapat diterapkan untuk berbagai tujuan perjalanan ibadah, baik umrah maupun haji. Dengan target dan perhitungan yang jelas, masyarakat memiliki gambaran mengenai dana yang perlu disiapkan dan waktu untuk mencapainya.

Jangan Tunggu Waktu Pelunasan untuk Mulai Menabung

Persiapan keuangan, lanjut Dwi, idealnya tidak berhenti setelah calon jemaah memperoleh nomor porsi haji. Masa tunggu keberangkatan justru dapat dimanfaatkan untuk membangun kesiapan dana pelunasan secara bertahap.

Ia mendorong calon jemaah mulai menyisihkan dana sejak dini agar beban finansial tidak menumpuk menjelang keberangkatan. Menurutnya, berangkat haji dengan persiapan dana yang lebih matang juga akan membuat jemaah merasa lebih nyaman.

“Sebisa mungkin menabung untuk pelunasan. Karena secara biaya bagi nasabah juga menjadi lebih ringan. Akan lebih nyaman sebenarnya ketika berangkat haji itu sudah tidak ada beban pembiayaan,” kata Dwi.

Ia menambahkan, edukasi persiapan pelunasan dapat diberikan sejak jemaah mendaftar dan memperoleh nomor porsi. Langkah serupa juga penting bagi mereka yang telah lama menunggu jadwal keberangkatan.

“Pada saat ada pendaftaran nomor porsi, biasanya kami melanjutkan edukasi untuk persiapan pelunasan. Atau yang sudah punya nomor porsi beberapa tahun sebelumnya, itu juga bisa kita ajak menyiapkan pelunasannya melalui tabungan,” ujarnya.

Bagi Dwi, perencanaan keuangan haji perlu menjadi bagian dari kesiapan ibadah, sebagaimana persiapan fisik dan pengetahuan. Dengan membangun kebiasaan menabung dan menghitung kebutuhan sejak awal, calon jemaah diharapkan tidak hanya memiliki niat untuk berhaji, tetapi juga kesiapan finansial ketika kesempatan berangkat tiba.

Bagikan:

Komentar

Mohon login atau registrasi untuk mengirimkan komentar Anda.

Komentar yang sudah Anda ketik tetap tersimpan selama proses login.

Belum ada komentar pada posting ini.