Psikolog Ungkap Risiko Stres Jemaah Haji Saat di Tanah Suci

HIMPUHNEWS - Perubahan pola hidup selama menjalankan ibadah haji dinilai menjadi tantangan serius bagi kondisi psikologis jemaah. Peralihan dari lingkungan rumah yang serba personal ke sistem akomodasi komunal di Tanah Suci membuat sebagian jemaah rentan mengalami stres.
Guru Besar Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Abdul Mujib mengatakan, perubahan lingkungan yang drastis menjadi faktor utama munculnya tekanan mental pada jemaah haji Indonesia selama berada di Arab Saudi.
Menurut Mujib, jemaah yang sebelumnya terbiasa hidup mandiri di rumah harus beradaptasi dengan kehidupan bersama di asrama dan pemondokan haji. Proses adaptasi inilah yang kerap memicu stres.
"Karena dengan perubahan waktu, perubahan sosial, perubahan segalanya itu, dengan kondisi yang awalnya serba mandiri di rumah, kemudian harus dengan akomodasi bersama, itu akan menjadi masalah," ujar Mujib.
Pernyataan tersebut disampaikan usai dirinya menjadi pemateri dalam diklat calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Senin (19/01).
Petugas Diminta Siaga Sejak Awal
Mujib menekankan pentingnya kesiapan mental petugas haji dalam menghadapi kondisi psikologis jemaah. Ia menilai petugas perlu memiliki asumsi dasar bahwa setiap jemaah berpotensi mengalami masalah psikologis selama pelaksanaan ibadah.
Asumsi tersebut, kata dia, bukan untuk menimbulkan kekhawatiran berlebihan, melainkan agar petugas siap melakukan penanganan sejak dini.
Beragam faktor dapat memperberat kondisi mental jemaah, mulai dari perbedaan iklim, budaya, hingga perubahan kebiasaan hidup sehari-hari.
Hal Kecil Bisa Picu Masalah Besar
Mujib mencontohkan, jemaah yang terbiasa memiliki privasi tinggi di rumah harus beradaptasi dengan tidur sekamar bersama orang lain, berbagi kamar mandi, serta mengonsumsi makanan yang belum tentu sesuai selera.
Akumulasi dari persoalan-persoalan kecil tersebut, menurutnya, berpotensi memicu ledakan emosi bahkan depresi apabila tidak ditangani dengan baik.
Karena itu, ia mendorong setiap petugas haji memiliki kemampuan dasar Pertolongan Pertama Psikologis, meskipun tidak berlatar belakang psikologi.
"Setidak-tidaknya ada sesuatu yang umum bisa dikuasai. Misalnya, bagaimana bisa menenangkan orang yang lagi stres atau depresi," ujarnya.
Mujib juga mengingatkan bahwa pendekatan penanganan stres tidak bisa disamaratakan. Latar belakang sosial jemaah, baik dari perkotaan maupun pedesaan, memengaruhi respons psikologis mereka.
Jika kondisi psikologis jemaah dinilai berat, petugas diminta segera merujuk yang bersangkutan ke tenaga ahli atau tim kesehatan yang tersedia.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
