himpuh.or.id

Tiga Tingkatan Manusia Saat Lailatul Qadar, Kamu di Level Mana?

Kategori : Berita, Ditulis pada : 11 Maret 2026, 11:44:12

WhatsApp-Image-2026-03-06-at-22.23.48-800x533.jpeg

HIMPUHNEWS - Bulan Ramadan menyimpan satu malam yang sangat istimewa bagi umat Islam, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini dikenal sebagai malam penuh kemuliaan, di mana Allah SWT melimpahkan keberkahan yang sangat besar kepada hamba-hamba-Nya.

Al-Qur’an dan berbagai riwayat hadis menjelaskan bahwa pada malam tersebut pahala amal kebaikan dilipatgandakan. Bahkan, satu amal kebaikan yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar disebut lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan.

Karena keistimewaan itu, umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan berbagai bentuk ibadah.

Anjuran Menghidupkan 10 Malam Terakhir Ramadan

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Lailatul Qadar biasanya terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil.

Karena itu, Rasulullah SAW memberikan teladan dengan memperbanyak ibadah pada periode tersebut.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُأَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَه

Rasulullah SAW biasa ketika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau kencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.

Hadis ini menggambarkan kesungguhan Rasulullah dalam memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan untuk beribadah kepada Allah.

Tiga Tingkatan dalam Menghidupkan Lailatul Qadar

Dalam kitab Nihayatuz Zain, ulama besar Syaikh Nawawi menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga tingkatan dalam menghidupkan malam Lailatul Qadar.

Tingkatan tersebut adalah tingkatan ‘ulya (tinggi), wustha (pertengahan), dan dunya (rendah).

1. Tingkatan ‘Ulya: Tingkatan Tertinggi

Tingkatan pertama adalah ‘ulya, yaitu tingkatan paling tinggi dalam menghidupkan malam Lailatul Qadar.

Seseorang dinilai mencapai tingkatan ini apabila ia melaksanakan shalat wajib secara berjemaah dan juga memperbanyak shalat sunnah pada malam tersebut.

Di antara ibadah yang dapat dilakukan pada tingkatan ini antara lain:

  • Shalat Tarawih

  • Shalat Witir

  • Shalat Tahajud

  • Shalat Taubat

  • Shalat Hajat

Pada tingkatan ini, seorang Muslim benar-benar memanfaatkan malam Lailatul Qadar untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai bentuk ibadah.

2. Tingkatan Wustha: Memperbanyak Dzikir

Tingkatan kedua adalah wustha atau tingkatan pertengahan.

Pada tingkatan ini, seseorang mungkin tidak banyak melaksanakan shalat sunnah, tetapi ia menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan memperbanyak dzikir kepada Allah.

Bentuk dzikir tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti:

  • membaca Al-Qur’an

  • tadarus Al-Qur’an

  • membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW

  • berdoa dan berdzikir

Melalui amalan-amalan tersebut, seseorang tetap memperoleh keutamaan Lailatul Qadar dengan mengingat Allah sepanjang malam.

3. Tingkatan Dunya: Tingkatan Terendah

Tingkatan terakhir adalah dunya, yaitu tingkatan paling rendah dalam menghidupkan malam Lailatul Qadar.

Seseorang dinilai berada pada tingkatan ini apabila ia hanya melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh secara berjemaah, tanpa melakukan ibadah tambahan lainnya pada malam tersebut.

Meskipun termasuk tingkatan paling rendah, amalan ini tetap memiliki nilai keutamaan karena seseorang tetap ikut menghidupkan malam tersebut dengan ibadah berjemaah.

Golongan yang Merugi

Sementara itu, di luar tiga tingkatan tersebut terdapat golongan yang disebut sebagai orang-orang yang merugi.

Mereka adalah orang-orang yang melaksanakan shalat Isya dan Subuh secara sendirian, serta tidak melakukan ibadah lain pada malam Lailatul Qadar.

Padahal, malam tersebut merupakan kesempatan besar bagi seorang Muslim untuk meraih pahala yang sangat besar dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan sering disebut sebagai momen terbaik untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta memohon ampunan kepada Allah.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id