Nuzulul Quran: Kisah Malam Ketika Wahyu Al-Quran Pertama Kali Diturunkan Ke Muka Bumi
HIMPUHNEWS - Malam itu sunyi. Angin bertiup lembut di sekitar bukit-bukit Makkah. Langit tampak tenang, seakan menyimpan sebuah peristiwa besar yang akan mengubah sejarah umat manusia.
Di sebuah tempat yang sepi di malam ke-17 Ramadhan di Gua Hira, seorang lelaki tengah larut dalam perenungan mendalam. Ia adalah Muhammad, yang saat itu belum diangkat menjadi Rasul.
Beliau telah beberapa hari berada di gua tersebut untuk melakukan tahannuts atau khalwah—sebuah ritual perenungan spiritual yang intens. Dalam istilah yang digunakan Imam Al-Ghazali, momen ini merupakan saat manusia menyerap aspirasi dari langit, mencari makna hidup dan kebenaran di tengah masyarakat yang diliputi kegelapan moral.
Tidak ada yang menyangka, malam itu akan menjadi titik awal perubahan besar dalam sejarah umat manusia.
Pertemuan Pertama dengan Malaikat Jibril
Saat Nabi Muhammad keluar dari Gua Hira, tiba-tiba sebuah sosok agung menampakkan diri di hadapannya.
Dialah Malaikat Jibril, pembawa wahyu dari Allah SWT. Dengan suara penuh wibawa, Jibril berkata:
“Selamat atas anda, Muhammad. Aku Jibril pembawa ‘Suara Tuhan’. Anda adalah Rasulullah, utusan Allah kepada umat ini.”
Kemudian malaikat itu merengkuh tubuh Nabi dan berkata:
“Bacalah!”
Namun Nabi Muhammad menjawab dengan jujur:
“Aku tidak bisa membaca.”
Jibril kembali berkata:
“Bacalah!”
Muhammad kembali menjawab dengan jawaban yang sama. Malaikat Jibril kemudian mendekap beliau dengan kuat. Setelah dilepaskan, perintah itu kembali diulang.
Pada saat itulah Nabi Muhammad akhirnya mengucapkan ayat-ayat yang kelak menjadi wahyu pertama dalam Al-Quran:
إِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ. خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. إِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ الَّذِى عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan (perantaraan) pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al ‘Alaq, 1-5).
Setelah wahyu pertama itu selesai dibacakan, Malaikat Jibril pun menghilang. Namun peristiwa tersebut meninggalkan rasa yang sangat mendalam bagi Nabi Muhammad.
Tubuh beliau gemetar. Keringat dingin mengalir dari pori-porinya. Rasa takut dan kebingungan menyelimuti dirinya.
Nabi Pulang dengan Tubuh Menggigil
Dalam keadaan gemetar, Nabi Muhammad segera pulang menemui istrinya, Khadijah.
Sesampainya di rumah, beliau masuk ke kamar dan berkata dengan suara penuh kecemasan:
“Selimuti aku, selimuti aku, sayang!”
Khadijah segera menyelimuti tubuh suaminya dengan penuh kasih.
Setelah rasa takutnya sedikit mereda, Nabi Muhammad menceritakan apa yang baru saja dialaminya di Gua Hira.
Dengan suara cemas beliau berkata:
“Aku takut diriku, sayang. Aku khawatir sekali.”
Namun Khadijah menenangkan beliau dengan penuh keyakinan dan kelembutan. Ia berkata:
كَلّا. أَبْشِرْ فَوَ اللهِ لَا يُخْزِيكَ اللهُ اَبَداً, وَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِى الضَّيْفَ, وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Tidak, sayangku. Demi Allah, Dia tidak akan pernah merendahkanmu. Engkaulah orang yang akan mempersatukan dan mempersaudarakan umat manusia, memikul beban penderitaan orang lain, bekerja untuk mereka yang papa, menjamu tamu dan menolong orang-orang yang menderita demi kebenaran.”
Ucapan Khadijah menjadi peneguh hati bagi Nabi Muhammad di saat yang sangat genting.
Awal Perubahan Besar dalam Sejarah Manusia
Peristiwa malam itu kemudian dikenal sebagai Nuzulul Quran, yaitu momen turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.
Dari Gua Hira yang sunyi, lahirlah sebuah risalah yang kelak mengubah arah sejarah umat manusia.
Al-Quran yang diturunkan malam itu menjadi pedoman hidup umat Islam, sumber nilai moral, hukum, dan peradaban yang terus memengaruhi dunia hingga hari ini.
Malam Nuzulul Quran bukan sekadar peristiwa sejarah.
Ia adalah awal kelahiran sebuah misi besar: membawa cahaya petunjuk bagi umat manusia.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku

