Aturan Akses Makkah Diperketat, Jemaah Haji Diminta Tak Bepergian Sendirian

HIMPUHNEWS - Pemerintah Arab Saudi mulai memperketat aturan akses masuk ke Kota Suci Makkah menjelang puncak penyelenggaraan ibadah haji 2026. Kebijakan ini berdampak langsung pada mobilitas jemaah, termasuk asal Indonesia, yang kini diminta meningkatkan kewaspadaan dan disiplin selama beraktivitas di Tanah Suci.
Merespons situasi tersebut, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau jemaah agar tidak bepergian sendirian. Sistem pendamping atau buddy system dinilai menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko selama menjalankan ibadah.
Wajib Berkelompok, Minimal Tiga Orang
Kepala Seksi Pelindungan Jemaah (Linjam) PPIH Arab Saudi Daerah Kerja Makkah, Tulus Widodo, menegaskan bahwa setiap aktivitas di luar hotel sebaiknya dilakukan secara berkelompok.
“Untuk petugas maupun jemaah, yang harus dijaga, yang harus dibuat, setiap pergerakan pastikan melakukan secara 'buddy system'. 'Buddy system' dalam hal ini tidak berdua, kami imbau minimal tiga orang,” ujar Tulus di Makkah, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, aturan tersebut bukan sekadar imbauan, melainkan langkah antisipatif terhadap berbagai kemungkinan yang bisa merugikan jemaah maupun petugas.
“Untuk itu kami mengimbau khususnya untuk petugas, apabila melakukan perjalanan pastikan 'buddy system' tidak dua orang, tapi tiga orang,” katanya.
Kartu Nusuk Harap Selalu Dibawa
Selain pembatasan mobilitas, jemaah juga diwajibkan membawa identitas resmi selama berada di Makkah. Tulus mengingatkan jemaah Indonesia, khususnya yang baru tiba dari Madinah, untuk selalu membawa Kartu Nusuk saat beraktivitas di luar hotel.
“Wajib bawa Kartu Nusuk,” tegasnya.
Kartu tersebut menjadi dokumen penting yang berkaitan dengan akses dan identifikasi jemaah selama di wilayah Makkah.
PPIH juga menyoroti penggunaan transportasi oleh jemaah. Tulus mengingatkan agar jemaah tidak sembarangan menggunakan taksi, terutama menuju Masjidil Haram.
“Di sini ada dua taksi yang resmi, taksi warna putih dan taksi warna hijau. Kenapa kita wajib menggunakan taksi yang resmi? Karena kalau taksi gelap berpotensi membuat jemaah harus turun di lokasi yang jauh dari Masjidil Haram, sehingga dapat menyulitkan perjalanan ibadah mereka,” pungkasnya.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
