Cuaca Saudi Capai 45 Derajat, Ini Cara Aman Jamaah Haji Beraktivitas di Luar Ruangan

HIMPUHNEWS - Cuaca panas ekstrem yang melanda Arab Saudi menjadi tantangan serius bagi jamaah haji, khususnya asal Indonesia yang tidak terbiasa dengan suhu tinggi hingga mencapai 45 derajat Celsius. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, mulai dari dehidrasi hingga heat stroke, terutama saat aktivitas ibadah banyak dilakukan di luar ruangan.
Dokter spesialis gizi klinik Dr. dr. A. Yasmin Syauki, M.Sc., Sp.GK(K), MHPE mengingatkan jamaah haji untuk lebih waspada menjaga kondisi tubuh selama berada di Tanah Suci, baik di Madinah maupun Makkah.
“Risiko kesehatan yang paling sering bisa dialami oleh jamaah haji saat ini, yaitu di Tanah Suci, baik di Madinah maupun di Makkah, itu adalah dehidrasi dan heat stroke,” kata Yasmin dilansir ANTARA, Selasa (12/4).
Menurut Yasmin, suhu udara di Arab Saudi saat musim haji tergolong sangat ekstrem bagi masyarakat Indonesia. Ia menilai tubuh jamaah perlu beradaptasi dengan kondisi yang jauh berbeda dibandingkan cuaca di dalam negeri.
“Karena suhu yang ekstrem, di mana di Indonesia itu kita tidak pernah mengalami suhu yang sangat ekstrem, misalnya suhu panas itu bisa sampai 40 derajat hingga 42, 41, 45 bahkan bisa ya,” ujarnya.
Jaga Cairan Meski Tidak Haus
Yasmin menekankan pentingnya menjaga kecukupan cairan tubuh secara konsisten, bahkan ketika rasa haus belum muncul. Menurutnya, rasa haus bukan satu-satunya indikator tubuh membutuhkan cairan.
“Pertama adalah kita menjaga asupan cairan kita, dengan tetap mengonsumsi air putih walaupun itu tidak haus,” katanya.
Ia menyarankan pola konsumsi air putih dilakukan bertahap sepanjang hari. Setelah makan pagi, makan siang, dan makan malam, jamaah dianjurkan minum satu hingga dua gelas air putih.
“Setelah makan pagi, makan siang, dan makan malam, kita minum air putih secukupnya satu gelas, bisa dua gelas,” ujarnya.
Tak hanya itu, konsumsi cairan juga perlu dilakukan di sela waktu makan agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi.
“Kemudian, di antara makan pagi ke makan siang, kita juga minum air putih satu sampai dua gelas. Di antara makan siang dan makan malam, kita konsumsi air putih juga satu sampai dua gelas,” katanya.
Untuk membantu menjaga hidrasi, jamaah juga dianjurkan mengonsumsi buah-buahan sebagai sumber cairan tambahan.
“Kemudian, kita bisa mengonsumsi buah-buahan juga di antara makan pagi ke makan siang, makan siang ke makan malam, atau setelah makan malam. Sehingga kecukupan cairan kita itu tetap terjaga,” ujarnya.
Hindari Keluar Saat Matahari Terik
Selain menjaga asupan cairan, Yasmin meminta jamaah membatasi aktivitas di luar ruangan saat suhu sedang berada di puncaknya, terutama sekitar tengah hari.
“Hindari berada di luar ruangan pada saat matahari sangat terik, misalnya di jam 12 siang hari. Itu hindari berada di luar ruangan, sebaiknya di dalam ruangan,” katanya.
Menurut dokter dari Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar itu, jamaah sebaiknya memanfaatkan area tertutup seperti masjid, hotel, atau pusat perbelanjaan untuk mengurangi risiko paparan panas secara langsung.
Jika terpaksa harus keluar ruangan, jamaah disarankan menggunakan perlindungan tambahan seperti masker dan kacamata.
“Jika bepergian di luar ruangan, maka sebaiknya memakai kacamata dan memakai masker. Karena pada saat kita berada di luar ruangan, maka udara sangat panas,” ujarnya.
Ia juga menyarankan jamaah menyemprotkan air ke wajah secara berkala untuk membantu menjaga kelembapan tubuh saat menghadapi suhu panas ekstrem.
Yasmin mengatakan saran tersebut bukan hanya berdasarkan pengetahuan medis, tetapi juga pengalaman pribadinya saat menjalankan ibadah haji pada tahun lalu dengan kondisi suhu yang serupa.
“Karena alhamdulillah tahun lalu saya juga menjalani ibadah haji, dan suhunya hampir sama dengan tahun ini. Maka saya juga merasakan bahwa hawa sangat panas ketika kita berada di luar ruangan,” katanya.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
