himpuh.or.id

Asrama Haji Disiapkan Jadi Pusat Layanan Umrah, Ini Fasilitas yang Bisa Dimanfaatkan

Kategori : Berita, Ditulis pada : 18 Agustus 2026, 09:00:34

1776769282_50e13645ae6b2b77baed.jpg

HIMPUHNEWS — Kementerian Haji dan Umrah berencana mengoptimalkan lebih dari 30 asrama haji yang tersebar di Indonesia agar tidak hanya digunakan saat musim haji. Fasilitas tersebut diarahkan menjadi pusat layanan atau service hub bagi jemaah umrah sekaligus aset negara yang produktif sepanjang tahun.

Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengatakan, tantangan pemerintah bukan sekadar membangun fasilitas baru, tetapi memastikan aset yang telah dibiayai negara dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Asrama haji seharusnya tidak hanya menjadi pusat pengeluaran anggaran pemerintah, tetapi perlu berkembang menjadi sumber penerimaan negara melalui pengelolaan fasilitas yang optimal,” ujar Gus Irfan seusai meresmikan gedung baru Asrama Haji Kelas I Embarkasi Banjarmasin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (10/7/2026).

Gedung baru tersebut dibangun melalui skema pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) 2025. Bangunan dua lantai itu memiliki 44 kamar dengan kapasitas 176 orang. Setiap kamar dilengkapi tempat tidur, lemari, meja, kursi, dan kamar mandi di dalam ruangan dengan fasilitas menyerupai hotel bintang tiga.

Pada musim haji 2026, Embarkasi Banjarmasin melayani 6.804 jemaah asal Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yang terbagi dalam 19 kelompok terbang.

Dari Tempat Transit Jadi Pusat Layanan Umrah

Gus Irfan ingin fungsi asrama haji diperluas dari sekadar tempat transit jemaah menjadi pusat pelayanan yang dapat beroperasi sepanjang tahun.

Indonesia saat ini memiliki lebih dari 30 asrama haji dengan kondisi dan kapasitas berbeda. Sekitar 16 di antaranya berfungsi sebagai embarkasi pemberangkatan jemaah, sedangkan fasilitas lainnya berstatus embarkasi antara, asrama transit, maupun fasilitas pendukung.

“Membangun itu bukan hal yang mudah, tetapi merawat dan memaksimalkan penggunaannya jauh lebih sulit,” kata Gus Irfan.

Dalam konsep service hub, infrastruktur dan pengalaman pelayanan yang selama ini digunakan untuk jemaah haji dapat dimanfaatkan untuk melayani jemaah umrah.

Asrama haji dapat digunakan sebagai lokasi persiapan sebelum keberangkatan, mulai dari manasik, pemeriksaan dokumen, pemeriksaan kesehatan, pengecekan visa dan tiket, penanganan bagasi, hingga pemberian informasi perlindungan selama jemaah berada di Arab Saudi.

Potensi pemanfaatannya cukup besar. Menjelang penghentian sementara penerbangan umrah sebelum musim haji 2026, Kementerian Haji dan Umrah mencatat sedikitnya 43.363 jemaah direncanakan berangkat hingga 18 April 2026 melalui 439 Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).

Pengembangan asrama haji sebagai pusat layanan umrah juga membutuhkan sejumlah perangkat pendukung, mulai dari standar pelayanan, pola kerja sama dengan PPIU, sistem reservasi dan tarif, perlindungan data jemaah, hingga mekanisme pengawasan.

Selain itu, integrasi pelayanan membutuhkan koordinasi dengan pemerintah daerah, otoritas bandara, maskapai, imigrasi, karantina kesehatan, perbankan syariah, dan perusahaan transportasi.

Tak Semua Daerah Harus Bangun Asrama Haji

Di sisi lain, pemerintah tidak mengharuskan seluruh daerah membangun asrama haji baru untuk menjadi embarkasi. Gus Irfan menyebut model yang diterapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta pada musim haji 2026 dapat menjadi alternatif.

Karena belum memiliki asrama haji permanen di sekitar Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), hotel digunakan sebagai tempat tinggal sementara sekaligus pusat pelayanan jemaah.

Pemeriksaan jemaah, penanganan barang bawaan, hingga proses check-in dilakukan di hotel sehari sebelum keberangkatan. Sepanjang musim haji 2026, Embarkasi YIA melayani 26 kloter dengan sekitar 9.111 jemaah asal DIY dan sejumlah wilayah eks Karesidenan Kedu, Jawa Tengah.

“Pola tersebut dapat menjadi alternatif bagi daerah lain yang memenuhi persyaratan, terutama dari sisi kelayakan bandara dan jumlah jamaah haji,” ujar Gus Irfan.

Dengan pola tersebut, pemerintah dapat menyesuaikan model pelayanan berdasarkan kebutuhan masing-masing daerah, baik melalui pembangunan, revitalisasi, penyewaan fasilitas, maupun kemitraan.

Tetap Utamakan Pelayanan Jemaah

Meski diarahkan menjadi aset produktif, fungsi utama asrama haji sebagai infrastruktur pelayanan publik tetap harus dipertahankan. Pada musim haji, seluruh fasilitas diprioritaskan untuk kebutuhan persiapan, pemberangkatan, dan pemulangan jemaah.

Di luar musim haji, fasilitas seperti kamar, aula, ruang pertemuan, hingga layanan manasik dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Pengelolaannya juga berpotensi menghasilkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Aktivitas asrama sepanjang tahun juga diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui keterlibatan penyedia makanan, jasa transportasi, laundry, UMKM, tenaga kebersihan, keamanan, hingga pemandu manasik.

Kementerian Haji dan Umrah pun menghadapi pekerjaan lanjutan untuk memastikan konsep tersebut berjalan. Optimalisasi asrama haji membutuhkan standar pelayanan, sistem pengawasan, target pemanfaatan, hingga indikator manfaat ekonomi dan sosial agar fasilitas negara tidak kembali menganggur setelah musim haji berakhir.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id