himpuh.or.id

Imbas Pembatasan Israel, Warga Gaza Tak Bisa Haji dan Kurban Selama 3 Tahun Berturut-turut

Kategori : Berita, Ditulis pada : 29 Mei 2026, 07:30:57

_250330173129-605.png.jpeg

HIMPUHNEWS - Ribuan warga Palestina di Jalur Gaza kembali harus mengubur harapan menunaikan ibadah haji pada musim haji tahun ini. Kondisi tersebut menandai tahun ketiga berturut-turut masyarakat Gaza tidak dapat berangkat ke Tanah Suci akibat pembatasan perbatasan dan konflik yang terus berlangsung di wilayah tersebut.

Tak hanya kehilangan kesempatan berhaji, warga Gaza juga kembali tidak dapat melaksanakan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha. Runtuhnya sektor peternakan serta pembatasan masuknya hewan hidup ke wilayah Gaza membuat tradisi keagamaan tersebut kembali terhenti untuk tahun ketiga secara beruntun.

Ribuan Calon Jemaah Kehilangan Kesempatan Berhaji

Sebelum konflik berkepanjangan yang terjadi sejak Oktober 2023, Gaza memiliki kuota sekitar 2.500 jemaah haji setiap tahun. Banyak warga Palestina harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan berangkat ke Makkah.

Namun, penutupan dan pembatasan perlintasan yang dilakukan Israel membuat warga Gaza tidak dapat melakukan perjalanan haji selama tiga musim berturut-turut.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina di Gaza menyebut lebih dari 10.000 warga Palestina kehilangan kesempatan menunaikan ibadah haji sejak dimulainya serangan Israel. Bahkan, sejumlah calon jemaah dilaporkan meninggal dunia sebelum sempat mewujudkan impian mereka berangkat ke Tanah Suci.

Meskipun penyeberangan Rafah yang menghubungkan Gaza dan Mesir sempat dibuka kembali secara terbatas pada awal tahun ini, akses tersebut sebagian besar hanya diperuntukkan bagi evakuasi medis dan kasus-kasus kemanusiaan yang mendapat persetujuan melalui prosedur Israel.

Luka Spiritual Warga Gaza

Bagi banyak warga Palestina, gagalnya berangkat haji bukan hanya persoalan perjalanan yang tertunda, melainkan kehilangan kesempatan menjalankan salah satu ibadah terpenting dalam Islam.

"Kami seharusnya berada di sana pada hari-hari suci ini," ujar salah satu warga Palestina, Najia Abu Lehia (64) kepada Reuters.

Najia mengenang dirinya dan sang suami telah melakukan berbagai persiapan untuk menunaikan ibadah haji sebelum perang pecah dan menggagalkan seluruh rencana yang telah disusun.

Sektor Haji dan Umrah Gaza Lumpuh

Dampak konflik juga dirasakan industri perjalanan haji dan umrah di Gaza. Sebuah studi yang diterbitkan pada Mei 2026 oleh Pusat Studi Politik Palestina (PCPS) menyebut kampanye Israel terhadap sektor haji dan umrah di Gaza sebagai "genosida ekonomi struktural".

Penelitian yang ditulis Khaled Abu Amer itu mengungkap seluruh 78 perusahaan perjalanan berlisensi yang bergerak di sektor haji dan umrah mengalami keruntuhan total.

Ketua Asosiasi Perusahaan Haji dan Umrah Gaza, Mohammed al-Astal, menyatakan sebagian besar kantor perusahaan tersebut rusak atau hancur akibat konflik yang berlangsung.

Kerusakan tersebut menyebabkan kerugian modal yang diperkirakan melebihi US$4 juta. Selain itu, terdapat dana sekitar US$2 juta hingga US$3 juta yang masih tertahan pada pihak eksternal, termasuk maskapai penerbangan dan hotel di Arab Saudi maupun Mesir.

Sebelum perang berlangsung, sektor haji dan umrah disebut mampu menyuntikkan sedikitnya US$12 juta setiap tahun ke dalam perekonomian lokal. Hilangnya aktivitas tersebut berdampak pada lebih dari 1.500 pekerja langsung maupun tidak langsung yang menggantungkan mata pencaharian dari sektor tersebut.

Laporan PCPS menilai kerusakan yang terjadi bukan sekadar dampak sampingan konflik, melainkan bagian dari kebijakan yang disengaja karena sektor tersebut berulang kali menjadi sasaran penghancuran.

Persiapan Haji Tak Mungkin Dilakukan

Ketidakpastian akses keluar masuk Gaza juga membuat otoritas keagamaan setempat tidak dapat mempersiapkan penyelenggaraan haji sebagaimana mestinya.

"Kami tidak dapat menyelenggarakan musim (haji) ini karena kami tidak diberi jaminan bahwa perbatasan akan dibuka," kata Rami Abu Staitah, Direktur Jenderal Haji dan Umrah di Kementerian Wakaf.

"Persiapan membutuhkan kontrak awal yang kompleks untuk perumahan dan transportasi, yang tidak mungkin dilakukan dalam kondisi ini," sambungnya.

Kementerian Wakaf Palestina juga meminta komunitas internasional, Arab Saudi, dan Mesir untuk melakukan intervensi guna memisahkan pelaksanaan ibadah haji dari dinamika politik yang berlangsung.

Tiga Tahun Tanpa Kurban

Dampak konflik juga meluas ke pelaksanaan ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha.

Otoritas Palestina di Gaza mengumumkan penyembelihan hewan kurban tidak dapat dilakukan tahun ini. Dengan demikian, masyarakat Gaza kembali tidak bisa melaksanakan kurban selama tiga tahun berturut-turut.

Kondisi tersebut dipicu runtuhnya sektor peternakan akibat perang serta pembatasan masuknya hewan hidup ke Jalur Gaza.

Lembaga-lembaga kemanusiaan internasional sebelumnya telah berulang kali memperingatkan memburuknya kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut. Sebagian besar penduduk masih hidup dalam pengungsian dan bergantung pada bantuan yang jumlahnya terbatas.

Data Kamar Dagang dan Industri Gaza menunjukkan lebih dari 90 persen sektor peternakan di wilayah itu mengalami kerusakan atau kehancuran sejak perang dimulai. Pembatasan pergerakan barang dan perlengkapan pertanian turut memperparah kondisi tersebut.

Selain itu, masuknya hewan hidup ke Gaza juga diblokir sehingga mempersempit rantai pasokan yang sudah berada dalam kondisi rapuh.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), hingga November tahun lalu sedikitnya 80 persen populasi domba dan 70 persen populasi kambing di Gaza telah terbunuh atau mati selama konflik berlangsung.

Kini, sebagian besar dari sekitar 2,3 juta penduduk Gaza masih hidup dalam pengungsian, menempati kamp-kamp tenda dan bangunan yang rusak akibat perang. Konflik yang masih berlangsung disebut telah menewaskan sekitar 72.775 warga Palestina dan memicu kecaman dari berbagai negara di dunia.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id