himpuh.or.id

IATA: Maskapai Timur Tengah Diproyeksikan Rugi US$4,3 Miliar

Kategori : Berita, Travel, Ditulis pada : 11 Juni 2026, 16:17:15

FotoJet (20).jpg

HIMPUHNEWS – Industri penerbangan Timur Tengah menghadapi tantangan berat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan.

International Air Transport Association (IATA) memperkirakan maskapai-maskapai di kawasan Timur Tengah akan membukukan kerugian hingga US$4,3 miliar atau sekitar Rp70 triliun pada tahun 2026 akibat dampak konflik regional yang berkepanjangan, lonjakan harga bahan bakar, serta terganggunya operasional penerbangan.

Dilansir Arabian Business, Timur Tengah menjadi satu-satunya kawasan di dunia yang diproyeksikan mencatatkan kerugian industri penerbangan tahun ini. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan capaian tahun 2025, ketika maskapai-maskapai di kawasan masih mampu meraih keuntungan sekitar US$7,2 miliar atau Rp117 triliun.

Menurut IATA, konflik yang terjadi di kawasan telah memicu gangguan signifikan terhadap aktivitas penerbangan. Penutupan ruang udara di sejumlah negara, perubahan jalur penerbangan, hingga meningkatnya biaya operasional menjadi faktor utama yang menekan kinerja maskapai.

Selain itu, lonjakan harga bahan bakar penerbangan atau avtur turut memperburuk kondisi industri. Kenaikan harga energi global membuat biaya operasional maskapai meningkat tajam, sementara sejumlah operator juga harus menempuh rute yang lebih panjang akibat pembatasan ruang udara di beberapa wilayah.

Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, menyebut situasi yang terjadi saat ini memberikan tekanan yang sangat besar terhadap industri penerbangan Timur Tengah. Meski secara global industri penerbangan masih diperkirakan membukukan keuntungan, kondisi di Timur Tengah jauh lebih menantang dibanding kawasan lainnya.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah maskapai besar di kawasan Teluk tetap melanjutkan agenda ekspansi mereka. Emirates, Qatar Airways, Etihad Airways, hingga Riyadh Air masih menjalankan strategi pertumbuhan armada dan jaringan penerbangan internasional sebagai bagian dari rencana jangka panjang mereka.

Riyadh Air misalnya, baru saja menerima dua unit pertama Boeing 787-9 Dreamliner yang akan menjadi bagian dari ambisi Arab Saudi untuk menghubungkan Riyadh dengan lebih dari 100 destinasi internasional pada tahun 2030.

IATA menilai kawasan Timur Tengah masih memiliki keunggulan strategis berkat posisinya yang berada di persimpangan Asia, Afrika, dan Eropa.

Keunggulan geografis tersebut diyakini akan menjadi modal penting bagi pemulihan industri penerbangan ketika situasi keamanan kembali stabil.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id