Bandara Kertajati Jadi Pusat MRO, Kemenhub: Penerbangan Haji dan Umrah Jalan Terus

HIMPUHNEWS - Rencana pemerintah menjadikan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sebagai pusat Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat dipastikan tidak akan mengganggu operasional penerbangan sipil. Bandara tersebut tetap akan melayani penerbangan komersial, termasuk keberangkatan dan kepulangan jemaah haji maupun umrah.
Kepastian itu disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR, Kamis (16/7/2026).
“Kertajati memang akan difungsikan untuk MRO militer, tetapi fungsi untuk penerbangan jemaah haji dan umrah tetap di situ,” ujarnya.
Lukman menegaskan, aktivitas penerbangan di Bandara Kertajati akan tetap berlangsung, meskipun saat ini pergerakan penumpang masih cukup bergantung pada musim penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.
Lonjakan Penumpang Dipicu Musim Haji
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan, jumlah penumpang internasional di Bandara Kertajati mengalami lonjakan signifikan pada April 2026.
Kenaikan tersebut mencapai 711,85 persen dibandingkan Maret 2026. Menurut BPS, peningkatan itu terutama dipengaruhi faktor musiman berupa penyelenggaraan ibadah haji.
Sejalan dengan meningkatnya aktivitas penerbangan haji, Bandara Kertajati pada tahun ini melayani 40 kelompok terbang (kloter) haji, meningkat dibandingkan 28 kloter pada tahun sebelumnya.
Kertajati Dikembangkan Jadi Kawasan Industri Dirgantara
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong pengembangan Bandara Kertajati sebagai pusat industri kedirgantaraan nasional.
Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) bersama PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI telah menandatangani kesepakatan untuk mengembangkan kawasan Kertajati sebagai pusat aktivitas industri dirgantara.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan klaster Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO), Aerostructure, serta Unmanned Aerial System (UAS) guna memperkuat ekosistem industri kedirgantaraan nasional.
Pada tahap awal, kedua pihak akan mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas yang telah tersedia, termasuk runway Bandara Kertajati, untuk mendukung uji terbang berbagai produk PTDI, baik pesawat Fixed Wing, Rotary Wing, maupun UAS, untuk kebutuhan pertahanan dan komersial.
Pengembangan tersebut juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi PTDI seiring penugasan pengadaan 80 unit pesawat CN235 dan 30 unit pesawat N219.
Selain PTDI, produsen pesawat asal Eropa, Airbus, telah menandatangani kerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas terkait pengembangan pusat MRO dan komponen pesawat di Kertajati.
Tak hanya itu, pemerintah Amerika Serikat juga disebut menyampaikan keinginan membangun pusat pemeliharaan mesin pesawat Hercules di Indonesia.
Pemerintah menyiapkan Bandara Kertajati sebagai lokasi pengembangan fasilitas tersebut karena dinilai memiliki lahan yang luas serta infrastruktur penerbangan yang mendukung pembangunan pusat pemeliharaan pesawat berskala internasional.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
