himpuh.or.id

Total Belanja Jemaah Haji 2026 Capai Rp4,25 Triliun, Hampir Separuhnya Buat Beli Oleh-oleh

Kategori : Berita, Ditulis pada : 10 Agustus 2026, 09:00:19

WhatsApp Image 2026-08-10 at 06.41.47.jpeg

HIMPUHNEWS – Tradisi membawa buah tangan dari Tanah Suci masih menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar bagi jemaah haji Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan pengeluaran pribadi jemaah selama penyelenggaraan ibadah haji 2026 mencapai Rp4,25 triliun, dengan hampir separuhnya digunakan untuk membeli oleh-oleh.

Nilai tersebut merupakan pengeluaran yang dikeluarkan langsung oleh jemaah di luar Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Besarnya belanja pribadi ini turut menjadi bagian dari total nilai ekonomi penyelenggaraan ibadah haji Indonesia pada 2026.

Belanja Oleh-Oleh Dominasi Pengeluaran Jemaah

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pembelian oleh-oleh menjadi komponen terbesar dalam pengeluaran pribadi jemaah haji.

"Komponen terbesar adalah membeli oleh-oleh. Bapak Ibu pasti dapat oleh-oleh kan dari yang saudara yang berangkat haji, sekitar 46,1 persen dari pengeluarannya," ungkap Kepala BPS Amalia Adininggar di kantor BPS, Kamis (6/8/2026).

Amalia menjelaskan, dari total pengeluaran pribadi sebesar Rp4,25 triliun, sekitar Rp3,4 triliun berasal dari jemaah haji reguler, sedangkan sekitar Rp857 miliar berasal dari jemaah haji khusus.

Jumlah jemaah haji reguler pada penyelenggaraan haji 2026 tercatat sekitar 203.320 orang, sementara jemaah haji khusus mencapai sekitar 17.680 orang.

Menurut Amalia, tingginya belanja oleh-oleh tidak terlepas dari tradisi masyarakat Indonesia yang menjadikan buah tangan sebagai bagian penting setelah menunaikan ibadah haji.

Nilai Ekonomi Haji Capai Rp29,25 Triliun

Secara keseluruhan, BPS memperkirakan penyelenggaraan ibadah haji 2026 menghasilkan nilai ekonomi sebesar Rp29,25 triliun.

Nilai tersebut terdiri atas BPIH haji reguler sebesar Rp16,7 triliun, BPIH haji khusus sekitar Rp7,2 triliun, serta pengeluaran pribadi jemaah sebesar Rp4,25 triliun.

Dari keseluruhan nilai ekonomi tersebut, sekitar Rp8,78 triliun atau sekitar 30 persen diperkirakan menjadi konsumsi dalam negeri, yaitu pembelian barang dan jasa yang diproduksi di Indonesia atau menggunakan bahan baku dari Indonesia.

"Sekitar 70 persen merupakan pengeluaran yang dilakukan di Arab Saudi atau untuk barang dan jasa yang ada di tanah suci," tuturnya.

Dengan porsi konsumsi domestik tersebut, pengeluaran jemaah haji diperkirakan memberikan kontribusi sekitar 0,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Indeks Kepuasan Layanan Haji Masuk Kategori Memuaskan

Selain memaparkan nilai ekonomi penyelenggaraan haji, BPS juga melaporkan Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) 2026 mencapai 83,28 poin, yang masuk dalam kategori memuaskan.

Amalia mengatakan capaian tersebut diperoleh melalui metodologi baru yang dinilai lebih komprehensif dibandingkan metode sebelumnya.

"Nilai IKLHI luar negeri tahun 2026 sebesar 82,71, sedangkan IKLHI dalam negeri mencapai 83,85. Secara keseluruhan nilai IKLHI berada pada kategori memuaskan," kata Amalia, di kantor BPS, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, metode baru tidak hanya mengukur hasil layanan di Arab Saudi, tetapi juga mencakup seluruh proses penyelenggaraan haji, mulai dari layanan di dalam negeri hingga pelayanan di Tanah Suci sesuai regulasi terbaru.

Survei IKLHI 2026 dilakukan terhadap 14.400 jemaah haji melalui metode self-enumeration menggunakan kuesioner berbasis kertas maupun daring yang dilengkapi dengan wawancara dan observasi lapangan.

Hasil survei menunjukkan nilai IKLHI layanan luar negeri mencapai 82,71 poin, sedangkan IKLHI layanan dalam negeri sebesar 83,85 poin.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id