himpuh.or.id

Innalillahi, Muazin Masjidil Haram Sheikh Ibrahim Al-Madani Wafat di Usia 48 Tahun

Kategori : Berita, Ditulis pada : 22 September 2026, 08:30:00

WhatsApp Image 2026-09-22 at 07.45.27 (1).jpeg

 

HIMPUHNEWS — Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Muazin Masjidil Haram, Sheikh Ibrahim bin Adel Hamzah Al-Madani, wafat pada Senin dini hari, 10 Rabiul Akhir 1448 H atau 21 September 2026, dalam usia sekitar 48 tahun.

Salat jenazah dilaksanakan setelah salat Asar di Masjidil Haram dan dipimpin Sheikh Waleed Shamsan. Setelah itu, jenazah Sheikh Ibrahim dimakamkan di Pemakaman Al-Mu’alla, Makkah.

Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang muazin yang sejak remaja telah akrab dengan lantunan azan. Lahir di Madinah pada 8 Dzulhijjah 1397 H, Sheikh Ibrahim tumbuh di lingkungan religius dan memiliki latar belakang akademik di bidang studi Al-Qur’an.

Kakeknya merupakan seorang hafiz Al-Qur’an yang turut membentuk pendidikan dan kehidupan keagamaannya sejak kecil.

Mengumandangkan Azan Sejak Remaja

Sheikh Ibrahim mulai mengumandangkan azan ketika masih remaja di sejumlah masjid di lingkungan tempat tinggalnya. Pada masa awal, ia menggunakan gaya azan Mesir sebelum kemudian banyak mengumandangkan azan dengan corak tradisional Madinah selama masa sekolah menengah hingga kuliah.

Ia pernah bergantian mengumandangkan azan bersama tiga tetangganya hingga menyelesaikan pendidikan tinggi. Aktivitas sebagai muazin sempat terhenti ketika ia mengajar di luar Madinah.

Meski tidak pernah menjadi muazin Masjid Nabawi, Madinah memiliki pengaruh besar terhadap karakter suara dan kecintaannya kepada azan.

Pada 1428 H, Sheikh Ibrahim kembali mendapat kesempatan mengumandangkan azan di Masjid Al-Maddah. Ia bertugas di sana hingga kemudian ditunjuk menjadi muazin Masjidil Haram pada Ramadan 1439 H atau 2018.

Tentang perjalanan tersebut, Sheikh Ibrahim pernah mengatakan:

“Saya menghabiskan 43 tahun hidup saya di Madinah, tetapi Allah berkehendak agar saya menjadi muazin di Makkah. Ini adalah nikmat yang sangat besar, dan segala puji hanya milik Allah,” kata dia dikutip dari theislamicinformation.

Makkah dan Madinah Punya Karakter Azan Berbeda

Dalam pandangannya, gaya azan Madinah memiliki karakter lembut, manis, dan penuh kedalaman emosi. Corak tersebut umumnya menggunakan maqam Bayat dengan frasa melodi yang lebih panjang serta ornamen suara yang lebih kuat.

Sementara gaya azan Makkah memiliki karakter berbeda. Frasanya lebih pendek dan kuat dengan lebih sedikit ornamen, sekaligus membawa kesan keagungan dan ketundukan di hadapan Ka’bah.

Sheikh Ibrahim mempelajari gaya Makkah ketika berkunjung bersama ayahnya. Dalam perjalanan itu, ia bertemu Sheikh Abdul Latif Mulla, mantan muazin Masjidil Haram yang juga merupakan sahabat kakeknya.

Mengutip Sheikh Al-Sha’rawi, Sheikh Ibrahim pernah menggambarkan perbedaan karakter dua kota suci tersebut dengan kalimat:

“Makkah adalah keagungan, sedangkan Madinah adalah keindahan.”

Gugup Saat Pertama Kali Azan di Masjidil Haram

Salah satu pengalaman paling membekas dalam hidup Sheikh Ibrahim adalah ketika pertama kali dipercaya mengumandangkan azan di Masjidil Haram. Ia mengaku tidak dapat tidur sepanjang malam sebelum menjalankan tugas tersebut.

“Saya tetap terjaga sepanjang malam. Anda akan mengumandangkan azan di Masjid Suci. Bahkan sebuah kesalahan atau batuk pun akan membuat perbedaan. Itu adalah tanggung jawab yang sangat besar.”

Kegugupan tersebut perlahan berubah menjadi rasa syukur setelah ia menyelesaikan azan. Namun, besarnya momen itu baru benar-benar ia rasakan ketika Sheikh Muhammad Ba Sa’d menunjukkan rekaman video dari luar masjid.

Dalam video tersebut, ribuan jemaah terlihat melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah sementara suara azannya bergema di Masjidil Haram. Sheikh Ibrahim mengaku menangis saat melihatnya.

“Siapakah saya sampai suara saya dikumandangkan di Masjid Suci? Siapakah saya hingga orang-orang di sana mendengar suara saya? Ini adalah pilihan Allah dan anugerah dari-Nya.”

Ia juga pernah menyampaikan pandangan rendah hati mengenai amanah yang diterimanya.

“Ada orang-orang yang suaranya lebih baik daripada saya, dan ada orang-orang yang lebih baik daripada saya dalam kesalehan dan keutamaan. Namun, itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki.”

Azan Bukan Sekadar Keindahan Suara

Suara Sheikh Ibrahim dikenal luas melalui azan dan takbir di Masjidil Haram. Namun, orang-orang yang mengenalnya juga mengenang kehidupan ibadahnya di luar mikrofon.

Salah seorang muazin Masjidil Haram menyebut Sheikh Ibrahim terkadang menetap selama berhari-hari di Mukabbariyyah dan jarang meninggalkan tempat tersebut. Ia menghabiskan waktu untuk beribadah, terutama pada bagian akhir malam.

Bagi Sheikh Ibrahim, azan bukan sekadar pertunjukan kemampuan vokal. Ia memandangnya sebagai amanah suci yang menuntut kejujuran, kepercayaan, dan keikhlasan dari seorang muazin.

Menurutnya, muazin mengangkat suara untuk menyampaikan kesaksian paling besar tentang kebenaran: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Karena itu, ia meyakini seorang muazin juga harus menjadi pribadi yang jujur dan dapat dipercaya.

Azan terakhir Sheikh Ibrahim di Masjidil Haram disebut sebagai azan pertama Subuh pada Senin, 21 September 2026, hanya beberapa jam sebelum ia wafat.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id