Belajar dari Masalah Tahun Lalu, Kemenhaj Tegaskan Kartu Nusuk Mutlak Dibagikan di Tanah Air

HIMPUHNEWS - Pemerintah menegaskan kebijakan distribusi kartu nusuk bagi jamaah calon haji Indonesia harus tuntas sebelum keberangkatan ke Arab Saudi. Langkah ini diambil menyusul evaluasi penyelenggaraan haji tahun-tahun sebelumnya yang masih menyisakan persoalan akses jamaah di Tanah Suci.
Direktur Jenderal Pengendalian Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah Harun Al Rasyid menegaskan kartu pintar atau smart card nusuk wajib diserahkan kepada jamaah sejak masih berada di dalam negeri.
"Kartu nusuk ini mutlak harus diserahkan di Indonesia," kata Direktur Jenderal Pengendalian Haji dan Umrah Kemenhaj Harun Al Rasyid di Kota Padang, Kamis.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Harun memberikan pembekalan kepada 90 Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Embarkasi Haji Padang.
Harun mengungkapkan, penegasan ini tidak terlepas dari pengalaman penyelenggaraan haji sebelumnya. Dalam beberapa tahun terakhir, masih ditemukan jamaah haji Indonesia yang tiba di Tanah Suci tanpa memegang kartu nusuk, sehingga memicu berbagai kendala selama pelaksanaan ibadah.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh kembali terulang karena kartu nusuk merupakan instrumen penting dalam sistem pelayanan haji di Arab Saudi.
Syarikah Diminta Buka Kantor di Jakarta
Untuk memastikan distribusi berjalan lancar, pada penyelenggaraan musim haji 1447 Hijriah Kemenhaj meminta setiap syarikah membuka kantor perwakilan di Jakarta. Keberadaan kantor ini diharapkan mempermudah proses pendistribusian kartu nusuk kepada seluruh jamaah calon haji sebelum keberangkatan.
Selain itu, setiap syarikah juga diminta merekrut pegawai di Jakarta guna mempercepat proses penyaluran kartu nusuk ke masing-masing embarkasi haji di Indonesia.
Dengan memegang kartu nusuk sejak dari tanah air, jamaah memiliki kepastian akses untuk memasuki wilayah-wilayah krusial selama ibadah haji, mulai dari Makkah, Madinah, hingga area puncak haji di Arafah.
Kartu nusuk tidak hanya berfungsi sebagai identitas jamaah, tetapi juga menjadi kunci akses ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Pendistribusian sejak di Indonesia dinilai lebih efektif untuk memangkas potensi persoalan teknis yang kerap muncul jika pembagian dilakukan setibanya di Arab Saudi.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
