himpuh.or.id

10-15% Jamaah Haji Alami Gangguan Mental, Kemenkes Siapkan Strategi Pendekatan Holistik

Kategori : Berita, Ditulis pada : 23 April 2026, 08:00:42

WhatsApp Image 2026-04-23 at 10.51.11.jpeg

HIMPUHNEWS - Di tengah kompleksitas pelaksanaan ibadah haji yang melibatkan jutaan orang dari berbagai negara, aspek kesehatan mental jamaah menjadi sorotan serius. Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya pendekatan holistik dan penataan ekspektasi agar jamaah dapat menjalani ibadah dengan lebih tenang dan khusyuk.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengungkapkan bahwa haji 2026 diikuti lebih dari 1,8 juta jamaah dunia, termasuk 221.000 jamaah asal Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 11.000 merupakan lansia yang memiliki kerentanan lebih tinggi, baik secara fisik maupun mental.

"Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa. Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jamaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental," ujarnya di Jakarta, Rabu.

Gangguan Mental dan Tidur Jadi Perhatian

Data Kemenkes menunjukkan sekitar 10–15 persen jamaah membutuhkan perhatian khusus terkait kesehatan jiwa. Sementara itu, gangguan tidur dialami oleh 30–40 persen jamaah akibat perubahan ritme sirkadian dan padatnya aktivitas ibadah.

Temuan dari Balai Pengobatan Haji Indonesia juga mengungkapkan bahwa kelompok lansia menjadi yang paling rentan, dengan 80 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat menunjukkan gejala demensia.

Kondisi lingkungan di Tanah Suci turut memperberat tantangan tersebut. Suhu di Makkah yang mencapai rata-rata 35–38 derajat Celsius dengan kelembapan rendah berpotensi memicu dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan tidur.

Selain faktor fisik, tekanan psikologis juga muncul dari aturan baru pemerintah Arab Saudi, seperti kebijakan visa, pembatasan akses ke Makkah, serta penggunaan aplikasi digital Nusuk. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan tambahan, terutama bagi jamaah yang kurang terbiasa dengan teknologi.

Aktivitas ibadah yang intens seperti tawaf dan sa’i juga dapat memicu kelelahan emosional. Ditambah lagi, perbedaan budaya, keterbatasan fasilitas, serta interaksi dalam kerumunan besar berpotensi menimbulkan rasa frustrasi hingga isolasi sosial.

"Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspektasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jamaah mampu menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani oleh harapan yang terlalu tinggi," katanya.

Strategi Holistik: Dari Konseling hingga Dukungan Sosial

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenkes mendorong penerapan pendekatan holistik sejak sebelum keberangkatan. Strategi ini mencakup konseling pra-haji, pelatihan manajemen stres, pengaturan jadwal ibadah yang seimbang dengan waktu istirahat, serta perhatian terhadap hidrasi dan nutrisi.

Selain itu, praktik relaksasi seperti doa dan zikir dinilai efektif dalam membantu menenangkan pikiran. Dukungan sosial antarjamaah juga menjadi faktor penting dalam menciptakan rasa kebersamaan dan mengurangi kecemasan.

"Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius," ujarnya.

Dengan kesiapan mental yang matang, ekspektasi yang realistis, serta kedisiplinan dalam mengikuti aturan, jamaah diharapkan dapat menjalani ibadah haji 2026 dengan lebih tenang, khusyuk, dan penuh keberkahan.

 

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id