Air Mata Mbah Chulaeli di Tanah Suci: Ketika Keterbatasan Tak Mampu Menghalangi Panggilan Allah

HIMPUHNEWS - Tangannya bergetar. Mata tuanya berkaca-kaca. Di atas kursi roda yang menemaninya selama menjalani ibadah haji, Chulaeli Ali (73) hanya mampu menatap sebuah amplop yang baru saja diterimanya dari petugas haji Indonesia di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Selasa (9/6/2026).
"Ini buat Mbah ya, rezeki untuk keluarga Mbah Chulaeli di rumah," ujar seorang petugas haji sembari menyerahkan amplop tersebut.
Kalimat sederhana itu seketika meruntuhkan ketegaran pria asal Desa Pidodowetan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah tersebut. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya mengalir membasahi pipi renta yang dipenuhi kerutan usia.
"Maturnuwun," bisiknya lirih.
Tak ada pidato panjang. Tak ada kata-kata indah. Hanya rasa syukur yang meluap dari hati seorang hamba yang telah menempuh perjalanan panjang untuk memenuhi panggilan Allah SWT.
Perjalanan Seorang Petani Sederhana
Di kampung halamannya, Mbah Chulaeli bukanlah orang berada. Ia menjalani hidup sebagai petani. Demi memenuhi kebutuhan keluarga, ia juga pernah bekerja sebagai penarik becak motor.
Sementara sang istri membantu ekonomi rumah tangga dengan membuka usaha tambal ban sederhana di depan rumah.
Hari-hari mereka dijalani dengan penuh kesederhanaan. Namun seperti banyak kisah hidup lainnya, ujian datang tanpa diduga.
Beberapa tahun lalu, stroke menyerang tubuh Mbah Chulaeli. Penyakit itu membatasi geraknya. Aktivitas yang dulu dilakukan untuk mencari nafkah perlahan tidak lagi bisa dijalani.
Di usia yang semakin senja, ia harus bergantung pada kursi roda.
Namun satu hal yang tidak pernah lumpuh adalah harapannya.
Keinginan untuk menjadi tamu Allah tetap hidup di dalam dadanya.
Meski kondisi fisik melemah dan kemampuan ekonomi serba terbatas, niat berhaji tidak pernah ia kubur.
Berangkat Seorang Diri ke Tanah Suci
Perjalanan haji tahun ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang bagi seseorang yang sungguh-sungguh memenuhi panggilan-Nya.
Di usia 73 tahun, Mbah Chulaeli berangkat ke Tanah Suci seorang diri.
Saat fase puncak haji berlangsung, ia mengikuti program Safari Wukuf yang disediakan pemerintah Indonesia bagi jamaah lansia dan penyandang disabilitas agar tetap dapat menjalankan rukun haji secara sempurna.
Di sinilah kisah haru itu bermula.
Kamal Pramayuda, petugas Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 2 Makkah, menjadi salah satu orang yang mendampingi Mbah Chulaeli selama proses Safari Wukuf.
Dalam berbagai kesempatan, Kamal melihat sang kakek kerap terdiam dan menitikkan air mata.
"Saya pendamping Bapak Chulaeli selama safari wukuf lansia, mulanya beliau itu sering menangis jika kami ajak berbincang tentang keluarganya," ungkap Kamal.
Dari percakapan-percakapan sederhana itulah, Kamal mengetahui bahwa Mbah Chulaeli membawa bekal yang sangat terbatas.
Namun ada satu hal yang paling membuatnya sedih.
Ia belum mampu membeli oleh-oleh untuk keluarga yang menantinya di Kendal.
"Pernah suatu saat saya bertanya tentang oleh-oleh untuk keluarganya, saat itu Mbah Chulaleli semakin menangis karena belum membeli oleh-oleh. Hal itu yang membuat hati kami tergerak," kenang Kamal.
Ketika Ukhuwah Menjadi Keluarga
Cerita itu menyentuh hati para petugas haji.
Tanpa komando dan tanpa proposal bantuan, kepedulian tumbuh secara spontan.
Kamal bersama rekan-rekannya mulai mengumpulkan dana. Ada yang membeli kurma, cokelat, boneka, sorban hingga abaya untuk keluarga Mbah Chulaeli.
Tidak sedikit pula yang membantu merapikan koper dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya selama berada di Tanah Suci.
"Ada beberapa teman yang kemudian dengan sukarela bahu-membahu membelikan oleh-oleh untuk beliau. Alhamdulillah terkumpul sangat banyak, ada abaya, sorban, coklat, kurma, boneka, sangat tidak disangka," kata Kamal.
Bukan hanya petugas yang menunjukkan kepedulian.
Sesama jamaah satu rombongan juga bergantian membantu. Ada yang mencucikan pakaian, menyuapi makanan, hingga membelikan bubur kentang untuk menjaga kondisi kesehatannya selama menjalani ibadah.
Bagi Mbah Chulaeli, orang-orang yang awalnya tidak dikenal itu perlahan menjadi keluarga.
Di tengah jutaan manusia yang berkumpul di Tanah Suci, ia menemukan kasih sayang yang hadir tanpa diminta.
Doa dari Kendal
Kebaikan para petugas dan jamaah akhirnya sampai ke telinga keluarga di kampung halaman.
Khaedar (50), putra Mbah Chulaeli, mengaku tidak mampu menyembunyikan rasa harunya saat mendengar bagaimana ayahnya dirawat dan diperhatikan selama menjalankan ibadah haji.
"Terima kasih kepada semua yang telah membantu dan memperhatikan bapak saya, saya mewakili keluarga Pak Chulaeli tidak bisa membalas satu-persatu," ucap Khaedar.
Bagi keluarga, bantuan itu bukan sekadar pemberian materi.
Lebih dari itu, mereka melihat bagaimana Allah menghadirkan pertolongan melalui tangan-tangan orang baik yang bahkan sebelumnya tidak pernah mereka kenal.
Ketika Allah Membukakan Jalan
Kisah Mbah Chulaeli mengingatkan bahwa ibadah haji bukan hanya tentang kemampuan fisik atau kelapangan materi.
Di balik jutaan langkah jamaah yang berjalan mengelilingi Ka'bah, terdapat kisah-kisah ketulusan yang sering kali luput dari perhatian.
Seorang petani sederhana yang pernah menarik becak motor, seorang lansia yang harus duduk di kursi roda, seorang ayah yang menangis karena belum mampu membeli oleh-oleh untuk keluarganya, akhirnya pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.
Ia membawa pengalaman tentang persaudaraan.
Tentang kepedulian.
Tentang kasih sayang yang tumbuh karena iman.
Dan yang terpenting, ia membawa bukti bahwa ketika niat untuk memenuhi panggilan Allah dijaga dengan ketulusan, selalu ada jalan yang dibukakan-Nya.
Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, Mbah Chulaeli mengajarkan satu pelajaran sederhana: bahwa perjalanan menuju Baitullah bukan hanya soal seberapa kuat kaki melangkah, melainkan seberapa kuat hati menjaga harapan kepada Allah SWT.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
