Kisah Haru Tukang Bakso Asal Bone, Berangkat Haji dengan Kursi Roda Pulang dengan Langkah Kaki
HIMPUHNEWS - Di antara jutaan tamu Allah yang menunaikan ibadah haji setiap tahun, selalu ada kisah-kisah yang meninggalkan jejak haru dan pelajaran tentang kekuasaan-Nya. Salah satunya datang dari Supanto, seorang penjual bakso berusia 73 tahun asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Saat berangkat menuju Tanah Suci, Supanto harus menggunakan kursi roda. Kondisi fisiknya yang mengalami kelumpuhan membuat aktivitas sehari-hari tidak lagi mudah dijalani. Namun keterbatasan itu tidak menghalangi tekadnya untuk memenuhi panggilan Allah SWT ke Baitullah.
Tidak ada yang menyangka, lelaki sederhana yang mengumpulkan biaya haji dari hasil berjualan bakso itu akan pulang dengan cerita yang membuat banyak orang terharu.
Ia kembali ke Indonesia dengan berjalan kaki.
Perjalanan Seorang Penjual Bakso Menuju Baitullah
Kisah Supanto pertama kali menarik perhatian Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan, Iqbal Ismail.
Iqbal mengaku bertemu langsung dengan Supanto dan istrinya saat mengantar rombongan jemaah haji khusus dari PT An-Nur Ma'arif pada 14 Mei 2026.
"Pada saat itu kami melihat ada jemaah atas nama Supanto dan istrinya menggunakan kursi roda. Ternyata beliau adalah penjual bakso di Kabupaten Bone," ujar Iqbal Ismail kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).
Di tengah banyaknya kisah tentang perjalanan haji, sosok Supanto meninggalkan kesan tersendiri. Bukan hanya karena kondisi fisiknya, tetapi juga karena perjuangannya mewujudkan impian berhaji dari hasil usaha sederhana yang digelutinya selama bertahun-tahun.
"Jadi dengan menjual bakso bisa melaksanakan ibadah haji melalui haji khusus. Ini luar biasa karena semangatnya luar biasa," katanya.
Bagi banyak orang, kisah Supanto menjadi pengingat bahwa panggilan ke Tanah Suci tidak mengenal batas profesi maupun keadaan. Allah membuka jalan bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh berikhtiar.
Sebuah Doa di Hadapan Ka'bah
Sebelum berpisah, Iqbal mengaku sempat memberikan semangat kepada Supanto.
Ia menyarankan agar jemaah lansia tersebut memperbanyak doa saat berada di depan Ka'bah, memohon kesehatan dan kemudahan kepada Allah SWT.
"Di saat itu saya berikan semangat, saya berikan motivasi, berdoa di saat sudah di depan Ka'bah agar dapat diberikan oleh Allah untuk bisa jalan kembali," tuturnya.
Bagi setiap Muslim, Ka'bah bukan sekadar bangunan suci yang menjadi kiblat salat. Di tempat itulah jutaan doa dipanjatkan dengan penuh harap, air mata ditumpahkan, dan harapan-harapan diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Tak ada yang tahu doa mana yang akan dikabulkan. Namun setiap hamba diperintahkan untuk terus berikhtiar dan berharap kepada-Nya.
Pulang Tanpa Kursi Roda
Beberapa waktu kemudian, kabar yang tak terduga sampai ke telinga Iqbal.
Ia mendengar bahwa Supanto sudah tidak lagi menggunakan kursi roda dan mampu berjalan sendiri.
Kabar itu membuatnya tergerak untuk menyambut langsung kepulangan Supanto di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pada 17 Juni 2026.
"Di saat mau balik saya dengar beliau sudah bisa jalan, makanya saya termotivasi untuk menjemput beliau. Saya lihat langsung pada saat beliau kembali sudah tidak menggunakan kursi roda," ungkapnya.
Pemandangan yang dilihat Iqbal saat itu sangat berbeda dibanding ketika keberangkatan beberapa pekan sebelumnya.
Lelaki yang dulu didorong menggunakan kursi roda kini telah berdiri dan berjalan dengan kakinya sendiri.
Ada satu kisah lain yang tak kalah menyentuh.
Saat bertemu kembali dengan Supanto, Iqbal sempat menanyakan keberadaan kursi roda yang sebelumnya digunakan selama berada di Tanah Suci.
Jawaban yang diterimanya membuatnya semakin terharu.
"Saya tanya mana kursi rodanya, ternyata dia sudah sumbangkan di Masjidil Haram untuk jemaah-jemaah di sana," bebernya.
Di saat banyak orang mungkin ingin menyimpan barang tersebut sebagai kenang-kenangan, Supanto justru memilih meninggalkannya untuk membantu orang lain yang membutuhkan.
Sebuah tindakan sederhana yang mencerminkan nilai kepedulian dan keikhlasan yang sering kali tumbuh selama perjalanan spiritual di Tanah Suci.
Ikhtiar, Doa, dan Kehendak Allah
Apa yang dialami Supanto menjadi pelajaran tentang hubungan antara ikhtiar manusia dan kehendak Allah SWT.
Sebagai seorang Muslim, ia telah melakukan apa yang bisa dilakukan: bekerja keras mencari nafkah, menabung untuk berhaji, berangkat ke Tanah Suci meski dalam kondisi terbatas, serta memanjatkan doa dengan penuh harap.
Pada akhirnya, segala sesuatu kembali kepada kehendak Allah.
"Artinya di saat Allah ingin pak Supanto jalan, jalan. Kalau Allah menghendaki, insyaallah. Itu menjadi motivasi bagi pak Supanto dan akhirnya alhamdulillah bisa berjalan kembali," imbuhnya.
Bagi banyak orang, kisah Supanto mungkin akan dikenang sebagai cerita tentang kesembuhan. Namun lebih dari itu, kisah ini adalah tentang keyakinan yang tidak pernah padam, tentang seorang penjual bakso yang tetap percaya pada pertolongan Allah meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu.
Dan di Tanah Suci, tempat jutaan doa bertemu dengan harapan, Supanto menemukan hadiah yang tidak pernah ia duga sebelumnya: kesempatan untuk kembali melangkah.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku

