himpuh.or.id

Ajyad, Madrasah Kepemimpinan Rasulullah SAW yang Kini Menjadi Jalur Hilir Mudik Jemaah Haji

Kategori : Berita, Khazanah, Ditulis pada : 30 Juni 2026, 11:00:33

5f421413ab04ec22a06a7006fcfebe19.jpg

HIMPUHNEWS - Bagi jemaah haji Indonesia, Ajyad identik dengan salah satu terminal bus shalawat yang menghubungkan kawasan pemondokan, terutama wilayah Misfalah, menuju Masjidil Haram. Setiap hari, ribuan jemaah datang dan pergi dari tempat ini untuk menunaikan salat maupun rangkaian ibadah lainnya.

Namun, siapa sangka, kawasan yang kini dipenuhi hotel berbintang, pusat perbelanjaan, dan arus kendaraan tanpa henti itu pernah menjadi sebuah "ruang pendidikan" yang dipilih Allah SWT untuk membentuk karakter manusia terbaik sepanjang sejarah.

Di tempat inilah, menurut berbagai riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah menggembala kambing semasa kecil. Sebuah pekerjaan yang mungkin dipandang sederhana, tetapi justru menjadi madrasah kepemimpinan yang menempa para nabi sebelum memikul amanah risalah.

Jejak Ajyad Sebelum Islam

Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, menjelaskan bahwa Ajyad telah dikenal sebagai kawasan permukiman jauh sebelum datangnya Islam.

Pada masa lalu, wilayah ini dikenal dengan nama Al-Ajiyadain, yaitu dua kawasan Ajyad—Ajyad Besar dan Ajyad Kecil—yang berada di sekitar Jabal Abu Qubais.

Kini, wajah kawasan itu telah berubah total. Perbukitan yang dahulu menjadi tempat penggembalaan telah berganti menjadi kawasan modern yang menjadi salah satu pusat aktivitas jemaah haji dari berbagai penjuru dunia.

Namun, perubahan fisik itu tidak menghapus nilai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Ketika Allah SWT Mendidik Seorang Nabi Melalui Penggembalaan

Menurut Ahmad Musyaddad, Allah SWT memilih profesi menggembala kambing sebagai salah satu proses pendidikan bagi Rasulullah SAW.

Ia mengutip hadis riwayat Imam Ahmad yang menunjukkan bahwa sejumlah nabi juga melewati fase kehidupan serupa sebelum diangkat menjadi rasul.

"Aku diutus oleh Allah menjadi seorang rasul dan aku pernah menjadi penggembala kambing di kawasan Ajyad," ujar Musyaddad mengutip sabda Rasulullah SAW.

مُوسَى بُعِثَ وَهُوَ رَاعِي غَنَمٍ، وَدَاوُدُ بُعِثَ وَهُوَ رَاعِي غَنَمٍ، وَبُعِثْتُ وَأَنَا أَرْعَى غَنَمًا لِأَهْلِي بِأَجْيَادٍ

Artinya:

"Musa diutus (menjadi rasul) dan ia adalah seorang pengembala kambing. Daud diutus dan ia adalah seorang pengembala kambing. Dan saya diutus (menjadi rasul) sementara saya (sebelumnya) menggembala kambing keluargaku di Ajyad (daerah pegunungan di Makkah)." (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW mulai menggembala sejak berusia sekitar delapan tahun.

Bagi sebagian orang, menggembala mungkin sekadar pekerjaan mencari nafkah. Namun, menurut Musyaddad, Allah SWT justru menjadikannya sebagai proses pembentukan karakter yang sangat mendalam.

"Di sinilah madrasah Nabi SAW. Di sinilah beliau dididik, bukan dengan kertas, bukan dengan pensil, bukan dengan papan tulis, tetapi dengan satu instrumen bernama penggembala kambing," tuturnya.

Kalimat itu menggambarkan bahwa pendidikan terbesar tidak selalu berlangsung di ruang kelas. Padang penggembalaan menjadi tempat Rasulullah SAW belajar menghadapi kehidupan secara langsung.

Belajar Memimpin Sebelum Memimpin Umat

Menggembala kambing bukan pekerjaan yang mudah.

Seorang penggembala harus memastikan seluruh ternaknya mendapatkan makanan yang cukup, tidak tercerai-berai, serta terlindungi dari berbagai ancaman.

Kesabaran diuji setiap hari.

Keputusan harus diambil dalam berbagai situasi.

Kepekaan terhadap makhluk yang dipimpin terus diasah.

Kemandirian dibentuk tanpa henti.

Menurut Musyaddad, seluruh proses itu menjadi bekal kepemimpinan Rasulullah SAW bahkan sebelum beliau menerima wahyu.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa pengalaman menggembala merupakan bagian dari perjalanan hampir seluruh nabi.

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ، فَقَالَ أَحْصَابُهُ: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيْطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ

Artinya:

"Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali ia pernah menggembala kambing." Para sahabat bertanya, "Apakah engkau juga demikian, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Iya, dahulu aku menggembalakannya untuk penduduk Mekah dengan upah beberapa qirath." (HR. Imam Ahmad)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa menggembala bukan profesi yang rendah. Sebaliknya, pekerjaan itu menjadi sekolah kehidupan yang melatih tanggung jawab, kesabaran, ketegasan, sekaligus kasih sayang kepada yang dipimpin.

Kepemimpinan yang Tumbuh dari Padang Penggembalaan

Musyaddad menjelaskan bahwa sejumlah ulama melihat hubungan yang sangat erat antara aktivitas menggembala dengan kepemimpinan.

Seorang penggembala tidak boleh membiarkan seekor pun kambingnya tertinggal. Ia bertanggung jawab memastikan semuanya memperoleh makanan, tetap bersama kelompoknya, dan aman dari gangguan binatang buas.

"Pelajaran ini sudah didapatkan Nabi SAW sejak usia delapan tahun. Sehingga beliau tumbuh menjadi sosok pemimpin yang otentik. Kepemimpinannya memang sudah disiapkan oleh Allah SWT," ujarnya.

Menariknya, lanjut Musyaddad, teori kepemimpinan modern pun mengenal dua unsur utama seorang pemimpin, yaitu menghadirkan kesejahteraan (prosperity) dan keamanan (security).

Nilai-nilai tersebut sejatinya telah dipraktikkan oleh seorang penggembala sejak ribuan tahun silam, jauh sebelum dirumuskan dalam berbagai teori kepemimpinan modern.

Dari Kandang Kuda Perang hingga Terminal Bus Shalawat

Ajyad tidak hanya dikenal sebagai tempat Rasulullah SAW menggembala kambing.

Dalam sejumlah literatur, nama Ajyad berasal dari bentuk jamak kata jawad yang berarti kuda-kuda tangkas atau kuda perang.

Pada masa lampau, kawasan ini menjadi tempat kaum Quraisy menambatkan kuda-kuda perang mereka. Bahkan, dalam beberapa riwayat disebutkan Nabi Ismail AS pernah menerima kuda-kuda tangkas di kawasan tersebut. Karena itu, penulisan nama kawasan ini kadang dijumpai sebagai Ajyad, kadang pula Jiyad.

Kini, wajah Ajyad telah berubah sepenuhnya.

Bukit-bukit tempat Rasulullah SAW pernah menggembala kambing telah berganti menjadi bangunan-bangunan modern. Ribuan jemaah setiap hari melintasi kawasan ini tanpa menyadari bahwa langkah mereka sebenarnya sedang melewati sebuah tempat yang pernah menjadi madrasah kepemimpinan Rasulullah SAW.

Ajyad mengajarkan bahwa pemimpin besar tidak lahir secara instan. Allah SWT terlebih dahulu mendidiknya melalui kesabaran, tanggung jawab, kerja keras, dan kepedulian terhadap yang dipimpin.

Di balik hiruk-pikuk terminal bus shalawat yang tak pernah sepi, Ajyad tetap menyimpan pesan yang tak lekang oleh waktu: di tempat sederhana inilah Allah SWT menempa seorang penggembala menjadi pemimpin terbesar dalam sejarah umat manusia, Nabi Muhammad SAW.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id