himpuh.or.id

Dari Pasar Terbesar Menuju Pusat Ekosistem Haji dan Umrah Dunia: Mengapa Indonesia Belum Sampai ke Sana?

Kategori : Berita, Khazanah, Ditulis pada : 03 Juli 2026, 19:26:21

FotoJet (54).jpg

HIMPUHNEWS - Indonesia selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pasar haji dan umrah terbesar di dunia. Pada penyelenggaraan haji 1447H/2026, Indonesia kembali menjadi negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia dengan lebih dari 221 ribu jemaah. Di sisi lain, jumlah jemaah umrah Indonesia juga terus menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat, meningkat dari sekitar 1,37 juta jemaah pada 2023 menjadi 1,47 juta jemaah pada 2024.

Besarnya jumlah jemaah tersebut menjadikan Indonesia salah satu aktor penting dalam dinamika industri haji dan umrah global. Di saat yang sama, Indonesia juga merupakan salah satu pasar ekonomi syariah terbesar di dunia yang terus berkembang di berbagai sektor.

Besarnya jumlah jemaah tersebut sering dipandang sebagai bukti bahwa Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam industri haji dan umrah global. Namun muncul pertanyaan yang layak untuk direnungkan: apakah menjadi pasar terbesar secara otomatis menjadikan Indonesia sebagai pusat ekosistem haji dan umrah dunia?

Jawabannya belum tentu.

Dalam ekonomi modern, pihak yang memperoleh manfaat terbesar tidak selalu mereka yang memiliki jumlah konsumen terbanyak. Nilai terbesar justru lebih banyak dinikmati oleh mereka yang mampu membangun keterhubungan antar pelaku, mengelola rantai nilai, dan menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.

Di sinilah tantangan sesungguhnya bagi Indonesia.

Kita telah berhasil menjadi pasar yang besar. Namun hingga hari ini, Indonesia masih berada dalam proses panjang untuk bertransformasi menjadi pusat ekosistem yang mampu memengaruhi arah perkembangan industri haji dan umrah dunia.

Menjadi Besar Belum Tentu Menjadi Berpengaruh

Dalam banyak diskusi industri, besarnya jumlah jemaah sering kali diasumsikan sebagai ukuran utama pengaruh ekonomi. Padahal keduanya tidak selalu berjalan beriringan.

Berbagai sektor ekonomi global menunjukkan bahwa terdapat negara dengan pasar yang sangat besar, tetapi tidak menikmati manfaat ekonomi terbesar karena sebagian besar nilai tambah masih diciptakan dan dikendalikan oleh pihak lain.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan dalam industri haji dan umrah.

Jutaan jemaah Indonesia berangkat ke Tanah Suci setiap tahun. Namun sebagian besar nilai ekonomi yang mengelilingi perjalanan tersebut masih tersebar pada berbagai mata rantai yang belum sepenuhnya dikuasai oleh pelaku industri nasional. Mulai dari teknologi, distribusi layanan, pengembangan kompetensi, sertifikasi, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.

Akibatnya, Indonesia sering kali berperan sebagai pasar yang besar, tetapi belum sepenuhnya berfungsi sebagai pusat yang menggerakkan dan mengembangkan ekosistem secara menyeluruh.

Masih Berorientasi pada Volume, Belum pada Nilai Tambah

Selama bertahun-tahun, keberhasilan industri haji dan umrah Indonesia cenderung diukur dari pertumbuhan jumlah jemaah yang diberangkatkan. Ukuran tersebut tentu penting karena mencerminkan besarnya kebutuhan masyarakat dan kemampuan industri dalam melayani perjalanan ibadah.

Namun dalam perspektif pembangunan ekosistem, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada volume.Nilai strategis justru terletak pada kemampuan menciptakan, mengelola, dan memperluas nilai tambah yang lahir dari aktivitas tersebut.

Di sinilah salah satu akar persoalan yang masih dihadapi Indonesia. Sebagian besar perhatian industri masih berfokus pada peningkatan jumlah keberangkatan, sementara pembangunan rantai nilai yang lebih luas belum berkembang secara optimal.

Akibatnya, industri tumbuh, tetapi pengaruhnya belum tumbuh dalam skala yang sama. Jumlah jemaah meningkat, tetapi kapasitas untuk menghasilkan inovasi, membangun standar, mengembangkan teknologi, dan menciptakan kolaborasi lintas sektor masih perlu diperkuat.

Karena itu, transformasi yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar memperbesar pasar, melainkan mengubah cara pandang terhadap industri itu sendiri. Dari orientasi volume menuju orientasi nilai tambah. Dari fokus pada transaksi menuju pembangunan ekosistem.

Dari Pengirim Jemaah Menjadi Orkestrator Ekosistem

Salah satu kekuatan terbesar Indonesia adalah stabilitas permintaan. Jumlah jemaah yang besar memberikan fondasi yang tidak dimiliki banyak negara lain.

Namun untuk menjadi pemain yang lebih berpengaruh dalam industri global, Indonesia perlu melangkah lebih jauh. Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengirim jemaah terbesar.

Menjadi pasar terbesar adalah posisi. Menjadi pusat ekosistem adalah kepemimpinan.

Kepemimpinan ekosistem (ecosystem leadership) tidak berarti mengendalikan seluruh industri. Kepemimpinan ekosistem berarti kemampuan menjadi titik temu yang menghubungkan berbagai pelaku, mendorong inovasi, membangun standar bersama, mengembangkan kompetensi, dan menciptakan nilai tambah yang dapat dirasakan oleh seluruh pemangku kepentingan.

Dalam konteks haji dan umrah, kepemimpinan tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan sumber daya manusia, pengembangan teknologi perjalanan ibadah, pusat pelatihan dan sertifikasi, inovasi layanan, serta kolaborasi yang mampu menghubungkan pelaku industri Indonesia dengan berbagai mitra internasional.

Dengan kata lain, Indonesia perlu bergerak dari posisi sebagai peserta ekosistem menuju penggerak ekosistem.

Hambatan Struktural yang Masih Dihadapi

Meskipun memiliki potensi besar, terdapat sejumlah hambatan yang masih perlu diatasi. Salah satunya adalah masih terfragmentasinya ekosistem industri.

Pelaku perjalanan ibadah, lembaga pendidikan, sektor keuangan syariah, penyedia teknologi, asosiasi, dan berbagai industri pendukung lainnya masih sering bergerak dalam ruang masing-masing tanpa integrasi yang cukup kuat.

Padahal dalam ekonomi modern, daya saing tidak lagi ditentukan oleh kekuatan satu institusi semata, melainkan oleh kualitas kolaborasi yang terbangun dalam sebuah ekosistem.

Di sisi lain, investasi pada pengembangan teknologi dan inovasi juga masih perlu diperkuat. Transformasi digital yang berlangsung di Arab Saudi menunjukkan bahwa masa depan industri haji dan umrah akan semakin dipengaruhi oleh kemampuan mengelola data, membangun integrasi layanan, dan menciptakan pengalaman jemaah yang lebih baik.

Hambatan berikutnya adalah pengembangan sumber daya manusia. Untuk menjadi pusat ekosistem dunia, Indonesia membutuhkan SDM yang mampu beroperasi pada level internasional, memahami dinamika industri global, menguasai teknologi, serta membangun jejaring lintas negara.

Persaingan Masa Depan Tidak Lagi Soal Jumlah Jemaah

Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, persaingan industri kemungkinan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang mengirim jemaah terbanyak.

Persaingan akan semakin ditentukan oleh siapa yang mampu membangun dan mengembangkan ekosistem layanan yang mengelilingi perjalanan ibadah tersebut.

Pada masa mendatang, pengaruh tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah jemaah yang dilayani. Kemampuan memanfaatkan teknologi, memahami data, membangun jaringan kolaborasi, dan menjaga kepercayaan akan menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing industri.

Karena itu, visi menjadikan Indonesia sebagai pusat ekosistem haji dan umrah dunia tidak boleh dipahami sebagai ambisi simbolik. Visi tersebut harus diterjemahkan menjadi agenda pembangunan industri yang konkret dan berkelanjutan.

Peran Strategis HIMPUH dalam Membangun Ekosistem

Tidak ada satu perusahaan atau institusi yang mampu membangun ekosistem sendirian.

Karakter utama sebuah ekosistem justru terletak pada kemampuan berbagai pihak untuk berkolaborasi, berbagi pengetahuan, membangun standar bersama, dan menciptakan nilai yang saling menguatkan.

Karena itu, keberadaan institusi penghubung yang mampu mempertemukan berbagai kepentingan dalam industri menjadi faktor yang sangat menentukan.

Dalam konteks pembangunan ekosistem, nilai terbesar HIMPUH bukan hanya sebagai organisasi keanggotaan, tetapi sebagai platform yang mampu menyatukan berbagai kepentingan industri ke dalam agenda bersama yang berorientasi jangka panjang.

Sebagai organisasi yang menghimpun pelaku industri, HIMPUH memiliki posisi yang memungkinkan lahirnya kolaborasi, peningkatan kompetensi, pertukaran pengetahuan, dan penguatan standar industri secara berkelanjutan.

Di tengah perubahan yang semakin cepat, peran tersebut menjadi semakin penting dalam membangun fondasi ekosistem yang lebih kuat, lebih terintegrasi, dan lebih kompetitif.

Agenda Strategis yang Perlu Didorong

Transformasi dari pasar menuju pusat ekosistem tidak akan terjadi secara otomatis seiring bertambahnya jumlah jemaah. Perubahan tersebut membutuhkan agenda strategis yang mampu memperkuat keterhubungan antar pelaku, memperluas penciptaan nilai tambah, dan membangun daya saing industri secara berkelanjutan.

Pertama, memperkuat integrasi antar pelaku dalam ekosistem haji dan umrah nasional.

Kedua, meningkatkan investasi pada pengembangan SDM dan teknologi.

Ketiga, memperluas kolaborasi internasional yang membuka akses terhadap pasar, pengetahuan, dan inovasi global.

Keempat, memperkuat tata kelola industri agar mampu menciptakan kepercayaan dan daya saing jangka panjang.

Kelima, mendorong lahirnya inovasi yang mampu menciptakan nilai tambah baru bagi jemaah dan pelaku industri.

Penutup

Menjadi pasar terbesar adalah anugerah demografis. Namun menjadi pusat ekosistem merupakan hasil dari visi, strategi, inovasi, dan kerja kolektif yang berlangsung dalam jangka panjang.

Indonesia telah memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara lain: jumlah jemaah yang besar, industri yang terus berkembang, ekonomi syariah yang bertumbuh, serta sumber daya manusia yang semakin kompeten. Tantangan berikutnya adalah mengubah seluruh potensi tersebut menjadi pengaruh yang nyata dalam ekosistem global.

Pada akhirnya, masa depan industri haji dan umrah Indonesia tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak jemaah yang berhasil diberangkatkan, melainkan oleh seberapa besar nilai tambah yang mampu diciptakan bagi ekosistem yang mengelilinginya.

Menjadi pasar terbesar adalah posisi yang diwariskan oleh demografi. Menjadi pusat ekosistem adalah kepemimpinan yang dibangun melalui visi, kolaborasi, dan penciptaan nilai tambah. Kepemimpinan itulah yang akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi peserta dalam industri global atau tumbuh menjadi salah satu penggerak utamanya.

 

Ditulis oleh: Yudistira, Direktur Direktur PT Safari Cahaya Putra (Praktisi dan Pengamat Industri Umrah).

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id