Jarang Diketahui, Ini yang Ada di Balik Area Makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi

HIMPUHNEWS — Masjid Nabawi menjadi salah satu tempat yang paling dirindukan umat Islam ketika berkunjung ke Madinah. Selain menjadi masjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW, di kawasan inilah terdapat tempat peristirahatan terakhir Rasulullah SAW.
Makam Nabi Muhammad SAW berada di Kamar Suci Nabi atau Sacred Prophetic Chamber, di bagian tenggara Masjid Nabawi. Ruangan tersebut juga menjadi tempat pemakaman dua sahabat terdekat Rasulullah sekaligus khalifah pertama dan kedua, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA.
Namun, jemaah yang berziarah ke Masjid Nabawi tidak dapat melihat makam Rasulullah SAW secara langsung. Area pemakaman berada di balik sejumlah lapisan pelindung yang telah dibangun dan diperkuat sepanjang sejarah.
Di balik kawasan yang sangat dihormati tersebut terdapat sejumlah fakta sejarah menarik. Berikut beberapa di antaranya.
1. Nabi Muhammad Dimakamkan di Tempat Beliau Wafat
Tempat makam Rasulullah SAW bukan dipilih secara sembarangan.
Saat Nabi Muhammad SAW wafat, muncul pembicaraan mengenai lokasi pemakamannya. Ada yang mengusulkan agar beliau dimakamkan di dekat mimbar, sementara yang lain mengusulkan pemakaman di Baqi.
Abu Bakar RA kemudian menyampaikan hadis yang pernah didengarnya dari Rasulullah SAW:
“Seorang Nabi tidak pernah dimakamkan kecuali di tempat ia wafat.”
Artinya, seorang nabi dimakamkan di tempat ia wafat.
Nabi Muhammad SAW kemudian dimakamkan di tempat beliau wafat, yakni kamar Aisyah RA.
Dalam riwayat Aisyah RA yang dikutip dalam bahan, menjelang wafat Rasulullah SAW mengucapkan:
“Ya Allah! (Bersama) Kekasih Yang Mahatinggi.”
Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun setelah mengalami sakit selama sekitar 14 hari.
2. Ada Tiga Makam dalam Kamar Suci
Rasulullah SAW tidak sendiri di dalam Kamar Suci Nabi.
Dua sahabat terdekat beliau, Abu Bakar RA dan Umar bin Khattab RA, juga dimakamkan di tempat tersebut.
Abu Bakar RA wafat pada usia 63 tahun dan dimakamkan di dekat Rasulullah SAW sesuai keinginannya.
Setelah itu, Umar bin Khattab RA juga dimakamkan di dalam kamar tersebut setelah wafat.
Dengan demikian, terdapat tiga makam di dalam kawasan Kamar Suci Nabi:
-
Nabi Muhammad SAW
-
Abu Bakar Ash-Shiddiq RA
-
Umar bin Khattab RA
Ketiganya berada di kawasan yang dahulu merupakan bagian dari kediaman Aisyah RA.
3. Makam Nabi Tidak Bisa Dilihat Langsung
Meski jemaah dapat mendatangi kawasan di sekitar makam untuk menyampaikan salam, lokasi pemakaman Nabi Muhammad SAW tidak dapat dilihat secara langsung.
Kamar tempat makam berada telah dilindungi oleh lapisan dinding dan penghalang.
Di bagian depan terdapat kisi-kisi atau pagar yang menjadi batas antara jemaah dan kawasan Kamar Suci.
Terdapat tiga bukaan berbentuk lingkaran yang menjadi penanda posisi tiga makam. Bukaan paling besar di sisi kiri menghadap ke arah makam Nabi Muhammad SAW, bagian tengah menandai posisi makam Abu Bakar RA, sedangkan sisi kanan menghadap posisi makam Umar RA.
Namun, makam ketiganya tidak terlihat melalui bukaan tersebut.
Dengan kata lain, apa yang dilihat jemaah dari luar bukanlah makam Nabi Muhammad SAW secara langsung.
4. Kamar Suci Dulunya Rumah Aisyah RA
Salah satu fakta penting dalam sejarah makam Rasulullah adalah lokasinya yang awalnya merupakan rumah Aisyah RA.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, para istri Rasulullah tinggal di rumah-rumah sederhana atau hujrah yang berada berdekatan dengan Masjid Nabawi.
Ketika Rasulullah SAW sakit menjelang wafat, beliau berada di kediaman Aisyah RA.
Karena seorang nabi dimakamkan di tempat wafatnya, kamar tersebut kemudian menjadi lokasi pemakaman Rasulullah.
Setelah Abu Bakar dan Umar wafat, keduanya juga dimakamkan di kawasan yang sama.
Perkembangan dan perluasan Masjid Nabawi pada masa-masa berikutnya kemudian membuat kawasan bekas rumah tersebut menjadi bagian dari kompleks Masjid Nabawi seperti yang dikenal sekarang.
5. Dilindungi Dinding Berlapis Sepanjang Sejarah
Perlindungan terhadap makam Nabi Muhammad SAW mengalami perkembangan selama berabad-abad.
Bahan menyebut salah satu dinding di sekitar kamar dibangun pada 91 H pada masa Umar bin Abdul Aziz dengan tujuan mencegah orang memasuki area makam.
Lapisan perlindungan kembali diperkuat pada periode-periode berikutnya.
Pada 1282 M atau 678 H, Al-Zahir Baybars disebut membangun struktur pelindung dengan ketinggian sekitar tiga meter.
Setelah kebakaran besar Masjid Nabawi pada 886 H atau 1481 M, Sultan Al-Ashraf Qaitbay kemudian melakukan rekonstruksi dan memperkuat kawasan tersebut menggunakan struktur besi.
Pada masa Kesultanan Utsmaniyah, struktur kubah di atas Kamar Suci juga mengalami renovasi.
Sultan Mahmud II memerintahkan penggantian kubah setelah ditemukan keretakan pada bagian luarnya. Kubah baru dibangun menggunakan batu bata dan kemudian dicat hijau pada masa Sultan Abdul Mejid.
Kubah hijau tersebut kini menjadi salah satu ciri paling mudah dikenali dari kompleks Masjid Nabawi.
6. Pernah Selamat dari Kebakaran Besar Masjid Nabawi
Masjid Nabawi beberapa kali mengalami peristiwa kebakaran besar dalam sejarah.
Salah satunya terjadi pada 645 H. Kebakaran disebut menghancurkan sebagian besar kawasan masjid, tetapi lokasi makam Rasulullah tetap terjaga.
Bagian atap di sekitar struktur makam dilaporkan mengalami kerusakan dan kemudian dilakukan upaya pemulihan.
Kebakaran besar kembali terjadi pada 886 H setelah petir menyambar salah satu menara Masjid Nabawi pada bulan Ramadan.
Api menyebabkan kerusakan pada bangunan masjid dan kemudian mendorong dilakukannya rekonstruksi besar pada masa Sultan Qaitbay.
Dalam berbagai pembangunan tersebut, kawasan makam Nabi tetap diperlakukan secara khusus untuk menjaga kesuciannya.
Apa Itu Mawajahah?
Di sekitar Kamar Suci terdapat kawasan yang dikenal sebagai Mawajahah, yaitu tempat jemaah menghadap ke arah makam Rasulullah SAW untuk menyampaikan salam.
Pada bagian tersebut terdapat penanda yang mengarah ke posisi makam Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar RA, dan Umar RA.
Di atas kisi-kisi Mawajahah juga terdapat kutipan Surah Al-Hujurat ayat 3 yang berbicara mengenai adab merendahkan suara di hadapan Rasulullah.
Meski berada sangat dekat dengan lokasi makam, jemaah tetap tidak dapat melihat tempat pemakaman secara langsung.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
