Lewati ke konten utama

HIMPUH Minta Terminal Umrah Soetta Tak Cuma Jadi Label, Fasilitas Juga Harus Siap!

Kategori: Berita,Topik Hangat · Ditulis pada: 30 Oktober 2026, 10:00:00

6819847913c39.jpeg

HIMPUHNEWS - Terminal khusus umrah dan haji di Bandara Soekarno-Hatta diharapkan menjadi fasilitas yang mempermudah perjalanan ibadah masyarakat Indonesia. Namun, kesiapan Terminal 2F justru menjadi sorotan para penyelenggara perjalanan umrah karena dinilai belum mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan operasional penerbangan.

Persoalan tersebut mencuat dalam pertemuan koordinasi antara Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Perhubungan, maskapai penerbangan, pengelola bandara, dan asosiasi penyelenggara umrah pada Senin 26 Oktober 2026.

Dalam pertemuan tersebut, seluruh asosiasi yang hadir menyampaikan keluhan terhadap pelayanan Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta. Ketidaksiapan pengelola menjadi perhatian karena dinilai dapat berdampak terhadap keamanan dan kenyamanan jemaah, terutama ketika aktivitas keberangkatan dan kepulangan berlangsung dengan kebutuhan operasional yang tinggi.

Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) secara khusus menyoroti kapasitas terminal yang belum memadai untuk menampung seluruh penerbangan umrah dari Jakarta. Asosiasi meminta adanya perluasan dan peningkatan fasilitas pendukung apabila Terminal 2 tetap dipertahankan sebagai lokasi pelayanan penerbangan umrah.

Kapasitas dan Distribusi Bagasi Jadi Persoalan

Persoalan Terminal 2F tidak hanya disoroti oleh penyelenggara perjalanan. Pengelola bandara, PT Angkasa Pura Indonesia, juga mengakui adanya kendala kapasitas dan distribusi bagasi.

Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia, Agus Hariyadi, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan desain dan perencanaan fasilitas pada masa sebelumnya yang belum sepenuhnya mengantisipasi peningkatan kebutuhan layanan jemaah umrah.

"Persoalan distribusi bagasi menjadi salah satu aspek penting karena berkaitan langsung dengan kelancaran proses pelayanan penumpang. Ketika fasilitas belum mampu mengimbangi kebutuhan operasional, proses penanganan bagasi dan pergerakan jemaah berpotensi menghadapi hambatan," demikian pernyataan HIMPUH mengutip pernyataan dari Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia, Agus Hariyadi.

Pengelola bandara juga menyebut Saudi Airlines sebagai salah satu maskapai yang dinilai kurang kooperatif terhadap pemberlakuan Terminal 2F sebagai terminal umrah.

Pengakuan mengenai persoalan kapasitas dan bagasi tersebut memperlihatkan bahwa pembenahan terminal tidak cukup hanya melalui penetapan fungsi pelayanan khusus. Kesiapan infrastruktur, pengaturan operasional, serta koordinasi antara pengelola bandara dan maskapai juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.

HIMPUH Minta Terminal 2F Diperluas

HIMPUH menilai kapasitas Terminal 2F saat ini belum cukup untuk menampung dan memfasilitasi seluruh penerbangan umrah yang diberangkatkan dari Jakarta. Karena itu, peningkatan fasilitas perlu menjadi prioritas apabila terminal tersebut tetap digunakan untuk pelayanan penerbangan umrah.

“Apabila Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta akan tetap dipertahankan sebagai terminal pelayanan penerbangan Umrah, diperlukan perluasan dan peningkatan fasilitas pendukung,” papar HIMPUH.

Asosiasi menilai peningkatan fasilitas diperlukan untuk mengimbangi kebutuhan operasional, volume jemaah, serta standar kenyamanan pelayanan. Dengan demikian, pengembangan terminal perlu memperhatikan kapasitas yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhan penerbangan umrah dari Jakarta.

HIMPUH juga menegaskan bahwa kapasitas terminal saat ini belum mencukupi seluruh kebutuhan penerbangan tersebut.

“Saat ini kapasitas Terminal 2F belum memadai untuk menampung dan memfasilitasi seluruh penerbangan Umrah yang diberangkatkan dari Jakarta,” Bunyi pernyataan HIMPUH.

Persoalan ini menjadi perhatian penting karena pelayanan bandara merupakan bagian dari keseluruhan pengalaman perjalanan ibadah. Kesiapan fasilitas sejak proses keberangkatan hingga kepulangan akan turut menentukan kenyamanan jemaah.

Pembenahan Terminal Perlu Melibatkan Semua Pihak

Selain perluasan fasilitas, persoalan pelayanan Terminal 2F juga membutuhkan koordinasi antara pemerintah, pengelola bandara, maskapai, dan penyelenggara perjalanan umrah. Masing-masing pihak memiliki peran dalam memastikan fasilitas yang disediakan dapat berfungsi sesuai kebutuhan operasional.

Pengelola bandara sendiri menyatakan terbuka untuk menerima masukan asosiasi guna meningkatkan kualitas pelayanan. Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian dari pembahasan mengenai kebutuhan perbaikan infrastruktur penerbangan umrah.

Bagi HIMPUH, peningkatan fasilitas terminal bukan semata-mata persoalan kenyamanan, melainkan juga kebutuhan untuk mendukung kelancaran pelayanan jemaah dalam skala yang lebih besar.

"Jika Terminal 2F tetap dipertahankan sebagai terminal pelayanan umrah, kapasitas dan fasilitas pendukung perlu disesuaikan dengan kebutuhan penerbangan yang dilayani. Pembenahan tersebut diharapkan mampu mengurangi persoalan operasional sekaligus memastikan jemaah memperoleh layanan yang lebih baik ketika berangkat maupun kembali ke Indonesia," tegas HIMPUH.

Bagikan:

Komentar

Mohon login atau registrasi untuk mengirimkan komentar Anda.

Komentar yang sudah Anda ketik tetap tersimpan selama proses login.

Belum ada komentar pada posting ini.