Lewati ke konten utama

Jemaah Haji Indonesia Terbantu oleh Mereka, Siapa Sebenarnya Generasi Aiwa?

Kategori: Berita · Ditulis pada: 30 Oktober 2026, 07:00:00

disiplin-dan-ramah-tamah-jemaah-haji-indonesia-dipuji-banyak-negara-12062025-075346-2.jpg

HIMPUHNEWS - Di balik kelancaran pelayanan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi, ada sosok-sosok yang mungkin tak banyak dikenal publik. Mereka bukan selalu warga negara Indonesia yang datang dari Tanah Air, melainkan keturunan Indonesia yang lahir dan tumbuh di Arab Saudi. Di kalangan petugas haji, sebagian dari mereka dikenal dengan sebutan generasi Aiwa.

Sebutan tersebut berawal dari kebiasaan sederhana saat menjawab panggilan. Kata aiwa, yang lazim digunakan dalam percakapan bahasa Arab untuk berarti “iya”, menjadi ciri yang melekat pada mereka. Namun, di balik nama yang terdengar unik itu, tersimpan peran penting dalam mendukung operasional penyelenggaraan ibadah haji, terutama ketika petugas Indonesia harus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pihak setempat.

Kasubdit Pengkajian Kitab Kuning, Direktorat Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Nonformal, Nasrullah Jasam, menjelaskan asal-usul sebutan tersebut. “Lantas, kenapa dipanggil Aiwa? Karena ketika dipanggil mereka menjawab ‘aiwa’,” kata Nasrullah, dikutip dari laman Kementerian Agama, Kamis (29/10/2026).

Bukan Sekadar Keturunan Indonesia, Mereka Jadi Penghubung di Tanah Suci

Generasi Aiwa memiliki latar belakang yang beragam. Sebagian merupakan keturunan masyarakat Nusantara yang menetap di Arab Saudi selama beberapa generasi. Mereka lahir dan besar dalam lingkungan berbahasa Arab sehingga tidak semuanya lancar berbahasa Indonesia. Bahkan, ada yang belum pernah menginjakkan kaki di negara asal leluhurnya.

Kondisi tersebut tidak menghalangi mereka untuk ikut berkontribusi dalam pelayanan haji. Sebagian direkrut sebagai tenaga musiman operasional haji, sementara lainnya membantu layanan akomodasi, transportasi, dan konsumsi. Kehadiran mereka menjadi sumber daya pendukung bagi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Keunggulan mereka terletak pada kemampuan memahami bahasa dan lingkungan sosial setempat. Ketika petugas Indonesia perlu berkoordinasi dengan instansi atau pihak layanan di Arab Saudi, pemahaman tersebut dapat membantu memperlancar komunikasi. Kedekatan dengan budaya setempat juga berguna ketika muncul persoalan yang membutuhkan penanganan cepat.

“Keberadaan mereka di PPIH Arab Saudi betul-betul dibutuhkan,” ujar Nasrullah.

Peran itu memperlihatkan bahwa pelayanan haji tidak hanya bertumpu pada jumlah petugas atau fasilitas yang tersedia. Kemampuan menjembatani perbedaan bahasa, kebiasaan, dan cara berkomunikasi juga menjadi bagian penting dalam mendukung pelayanan bagi jemaah Indonesia di Tanah Suci.

Ketika Beda Cara Bicara Bisa Memicu Kesalahpahaman

Meski memiliki keunggulan dalam memahami lingkungan Arab Saudi, bekerja bersama petugas Indonesia bukan berarti selalu berjalan mulus. Perbedaan budaya komunikasi justru menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi generasi Aiwa, terutama bagi mereka yang baru bergabung dalam pelayanan haji.

Nasrullah menceritakan, ada tenaga musiman yang sempat mengalami kesalahpahaman dengan petugas Indonesia karena perbedaan intonasi ketika berbicara. Gaya komunikasi yang dianggap wajar oleh seseorang bisa ditafsirkan sebagai sikap kurang sopan oleh orang lain. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa penguasaan bahasa saja belum tentu cukup untuk menghindari persoalan komunikasi.

Seiring waktu, sebagian dari mereka mulai menyesuaikan diri dengan kebiasaan orang Indonesia. Sapaan seperti bapak, ibu, mas, dan mbak mulai digunakan dalam interaksi sehari-hari. Mereka pun semakin mengenal cara berkomunikasi dengan petugas maupun jemaah dari Indonesia.

Proses adaptasi itu terkadang melahirkan cerita ringan. Nasrullah, misalnya, mengingat seorang tenaga pendukung yang mengatakan “menurut pendapatan saya”, padahal maksudnya adalah “menurut pendapat saya”. Kekeliruan tersebut memperlihatkan bagaimana seseorang yang terbiasa menggunakan bahasa Arab dapat menghadapi tantangan ketika beradaptasi dengan bahasa Indonesia.

Pengalaman itu sekaligus menegaskan bahwa kerja lintas budaya membutuhkan penyesuaian dari kedua belah pihak. Petugas Indonesia perlu memahami latar belakang generasi Aiwa, sementara tenaga pendukung tersebut juga perlu mengenali kebiasaan komunikasi masyarakat Indonesia agar koordinasi berjalan lebih efektif.

Kisah Ni’mat dan Pemulangan Jemaah Korban Mina

Kontribusi warga keturunan Indonesia di Arab Saudi tidak hanya berkaitan dengan komunikasi dan dukungan operasional. Nasrullah juga menceritakan pengalaman Ni’mat Nur Matasief, warga keturunan Palembang yang membantu proses pemulangan jemaah Indonesia korban peristiwa Mina pada 2015.

Menurut penuturan Nasrullah, jemaah tersebut telah menjalani perawatan selama sekitar tujuh bulan di rumah sakit Arab Saudi. Keluarga menginginkan pasien segera dipulangkan ke Indonesia, tetapi kondisi kesehatannya belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan menggunakan penerbangan biasa. Pemulangan membutuhkan penanganan khusus agar sesuai dengan kondisi pasien.

Ni’mat, yang ketika itu disebut bekerja sebagai manajer promosi pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Garda Nasional Arab Saudi, kemudian mengirimkan surat kepada pengambil kebijakan setempat. Ia menjelaskan opsi pemulangan menggunakan medical evacuation atau medevac, yakni evakuasi medis melalui udara dengan pesawat yang dilengkapi fasilitas penunjang kesehatan.

Nasrullah menyebut permohonan tersebut akhirnya disetujui. Jemaah itu dapat dipulangkan menggunakan fasilitas medevac tanpa biaya, dengan nilai yang menurutnya mencapai lebih dari Rp 2 miliar. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana pemahaman terhadap sistem layanan kesehatan setempat dan kemampuan menjalin komunikasi dapat membantu mencari jalan keluar dalam situasi yang tidak mudah.

Pengalaman Ni’mat juga memberikan gambaran lebih luas mengenai kontribusi keturunan Indonesia di Arab Saudi. Peran mereka tidak selalu terlihat di garis depan pelayanan, tetapi dalam kondisi tertentu, pengetahuan, akses, dan kepedulian mereka dapat membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi jemaah.

Ikatan dengan Nusantara yang Bertahan Lintas Generasi

Keberadaan generasi Aiwa tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang hubungan masyarakat Nusantara dengan Tanah Suci. Perjalanan ke Arab Saudi sejak dahulu bukan semata-mata untuk menunaikan ibadah haji, tetapi juga untuk menuntut ilmu agama. Sebagian orang kemudian menetap dan membangun kehidupan di sana, sehingga hubungan dengan Nusantara berlanjut melalui generasi berikutnya.

Jejak hubungan keilmuan tersebut antara lain terlihat dalam perjalanan ulama Nusantara seperti Syekh Abdul Rauf as-Singkili, Syekh Yusuf al-Makassari, dan Syekh Nawawi al-Bantani. Nama-nama itu menjadi bagian dari sejarah hubungan intelektual antara Nusantara dan dunia Islam, meskipun kisah setiap ulama memiliki konteks perjalanan dan kehidupan yang berbeda.

Dalam konteks masa kini, keterlibatan keturunan Indonesia dalam pelayanan haji menjadi salah satu bentuk lain dari hubungan yang terus terpelihara tersebut. Sebagian mungkin tidak lagi fasih berbahasa Indonesia atau belum pernah mengunjungi negeri leluhurnya. Namun, mereka tetap dapat mengambil bagian dalam membantu jemaah yang datang dari Indonesia.

Nasrullah memandang kontribusi itu sebagai wujud kecintaan terhadap tanah leluhur. “Mereka tunjukkan rasa kecintaan mereka kepada tanah air dengan membantu para jemaah haji asal Indonesia,” katanya.

Kisah generasi Aiwa memperlihatkan bahwa hubungan dengan Indonesia tidak selalu ditentukan oleh tempat lahir atau kemampuan berbahasa. Di tengah penyelenggaraan ibadah haji yang melibatkan banyak pihak dan membutuhkan koordinasi lintas negara, ikatan sejarah, pengetahuan lokal, dan kepedulian dapat menjadi modal penting untuk membantu sesama.

Bagikan:

Komentar

Mohon login atau registrasi untuk mengirimkan komentar Anda.

Komentar yang sudah Anda ketik tetap tersimpan selama proses login.

Belum ada komentar pada posting ini.