himpuh.or.id

Bukan Sekadar Akomodasi, Kompleks Haji di Makkah Dinilai Bisa Dorong Ekonomi Nasional

Kategori : Berita, Ditulis pada : 09 Januari 2026, 07:00:46

Tawaf.jpg

HIMPUHNEWS - Rencana pembangunan Kompleks Haji Indonesia di Makkah dinilai tidak hanya berdampak pada layanan jamaah, tetapi juga berpotensi mendorong pergerakan ekonomi di dalam negeri. Salah satu efek yang disorot adalah peluang penyerapan tenaga kerja di Indonesia melalui rantai pasok kebutuhan jamaah haji.

Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menilai, keberadaan kompleks tersebut dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect), terutama jika pengelolaan ekosistem pendukung, seperti konsumsi dan logistik, melibatkan pelaku usaha dari Tanah Air.

Rantai Pasok Dapur Jadi Peluang Besar

Herry mencontohkan sektor penyediaan makanan bagi jamaah haji sebagai salah satu bidang yang berpotensi digarap oleh pemasok Indonesia, mulai dari bahan baku hingga kebutuhan dapur.

“Misalnya, dari lauk-pauk seperti ikan dan tempe sampai bumbu dapur. Ini peluang yang besar, sehingga berdampak juga pada penyerapan tenaga kerja di tanah air,” ujar Herry di Jakarta, Kamis (08//01)

Selain memberi manfaat ekonomi, keterlibatan Indonesia dalam penyediaan konsumsi jamaah juga dinilai dapat meningkatkan kenyamanan jamaah haji selama berada di Arab Saudi.

Menurut Herry, jamaah akan merasakan pengalaman yang lebih dekat dengan kebiasaan di kampung halaman, terutama dari sisi makanan yang sesuai selera masyarakat Indonesia.

“Efek pengganda ini jangan dilupakan. Ini punya nilai ekonomi dan sosial yang lebih besar ketimbang dari sekadar pengembalian investasi yang diterima dari proyek akomodasi kampung haji di Arab Saudi,” ujarnya.

Jamaah Haji Disebut Pasar Pasti

Lebih lanjut, Herry menyebut proyek Kompleks Haji sebagai langkah strategis bagi Danantara dan perekonomian nasional. Ia menyoroti besarnya jumlah jamaah haji Indonesia yang selama ini membelanjakan dana triliunan rupiah untuk akomodasi dan kebutuhan lain di Arab Saudi.

“Dengan kehadiran proyek Kampung Haji yang dikelola oleh entitas usaha atau badan milik Indonesia, maka belanja yang dikeluarkan oleh jamaah haji akan kembali ke Indonesia sebagai hasil investasi yang dilakukan oleh Danantara,” ujar Herry.

Ia juga menilai jamaah haji merupakan pasar khusus dengan tingkat kepastian yang tinggi dalam jangka panjang.

“Jamaah haji merupakan captive market. Tinggal jamaah umrah yang jadi pekerjaan rumah, bagaimana bisa digarap sekalian. Selain itu, bisnis tersebut sustain dalam jangka panjang. Dengan demikian, ada kepastian daya serap pasar. Risiko bisnisnya jadi lebih rendah,” kata Herry.

Peringatan Soal Stabilisasi Ongkos Haji

Meski demikian, Herry mengingatkan agar investasi tersebut tidak berdampak pada kenaikan biaya haji. Menurutnya, stabilisasi harga harus menjadi perhatian utama Danantara dan pemerintah.

“Jangan sampai gara-gara Danantara investasi di Arab Saudi, ongkos haji malah naik. Karena itu, menurut saya, Danantara harus melibatkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Kalau BPKH dapat untung dari investasi di sektor riil bersama Danantara, dampak positifnya ke subsidi biaya haji yang bisa lebih besar,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterlibatan BPKH penting untuk menjaga stabilitas biaya haji ke depan.

“Keterlibatan BPKH bisa saja masuk di ekosistem dapur, seperti yang selama ini sudah dilakukan oleh entitas anak usahanya di Arab Saudi. Pentingnya keterlibatan BPKH adalah dalam rangka stabilisasi ongkos haji, bukan soal bisnis,” ujar Herry.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id