Hadir di Travel Fair Kertajati, HIMPUH Dorong Optimasi Penerbangan Umrah lewat Harga Kompetitif

HIMPUHNEWS — Penyelenggaraan Travel Fair Kertajati Airport yang digelar di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati pada Jumat–Sabtu (6–7 Februari 2026) menjadi momentum penting untuk kembali menghidupkan wacana Kertajati sebagai hub penerbangan umrah Jawa Barat. Kegiatan ini juga dibarengi dengan rencana pembukaan penerbangan umrah berjadwal pada musim umrah 2026/2027.
Ketua Kordinator Wilayah (Korwil) Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) Jawa Barat, Dodi Sudrajat, menilai travel fair tersebut merupakan langkah positif untuk mengangkat kembali peran Bandara Kertajati yang selama ini masih minim aktivitas penerbangan reguler di luar musim haji.
Dodi menjelaskan, Travel Fair Kertajati Airport digelar sebagai bagian dari upaya mendorong optimalisasi bandara, yang saat ini baru dimanfaatkan secara maksimal untuk penerbangan haji reguler.
“Kegiatan Travel Fair ini disponsori oleh Danantara, kemudian Garuda, dan BIJB. Ini merupakan salah satu upaya untuk mendongkrak isu yang ada di BIJB Kertajati, yaitu masih minimnya optimalisasi penggunaan penerbangan di Kertajati. Saat ini bandara tersebut baru digunakan untuk haji reguler,” kata Dodi kepada himpuhnews, Jumat (06/02).
Ia menyebut, di luar musim haji, aktivitas penerbangan di Kertajati masih sangat terbatas dan belum mampu membentuk pasar yang kuat.
“Haji reguler biasanya digunakan setiap bulan Zulqaidah sampai Zulhijah. Di luar itu, penerbangan yang ada hanya satu atau dua rute, misalnya ke Singapura dan Malaysia. Namun, pasar rute-rute tersebut sekarang juga sudah terseok-seok, artinya tidak terisi penuh setiap hari,” ujarnya.
Wacana Umrah Berjadwal Kembali Muncul
Dalam travel fair tersebut, salah satu wacana utama yang diangkat adalah rencana penerbangan umrah berjadwal dari Kertajati. Menurut Dodi, inisiasi penerbangan dari bandara ini sebenarnya bukan hal baru.
“Penerbangan Kertajati sendiri sebenarnya sudah beberapa kali diinisiasi, bahkan sudah lebih dari lima tahun. Namun, inisiasi tersebut tidak pernah tuntas atau berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan political will dari para pemangku jabatan, baik Presiden, Kementerian Perhubungan, maupun Gubernur, agar bandara ini benar-benar bisa diaktifkan,” ungkapnya.
Ia menegaskan, keberlanjutan penerbangan tidak cukup hanya dengan pembukaan rute, tetapi membutuhkan kebijakan yang konsisten.

Akses dan Ekonomi Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Dodi menilai, selain aspek kebijakan, faktor ekonomi dan aksesibilitas masih menjadi tantangan utama bagi Bandara Kertajati. Lokasi yang relatif jauh dari pusat kota besar membuat bandara ini belum menjadi pilihan utama jamaah.
“Di sisi lain, faktor keekonomian juga harus diperhatikan. Saat ini, kapasitas ekonomi di wilayah Kertajati masih belum cukup kuat. Kota besar masih cukup jauh, dan akses ke Cirebon saja membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa secara operasional, Kertajati sebenarnya memiliki kelebihan dibanding bandara besar lainnya.
“Salah satu kekuatannya adalah adanya perlakuan khusus bagi pesawat, misalnya bebas parkir dan fleksibilitas jam terbang. Maskapai bisa memilih jam keberangkatan dan kepulangan dengan bebas karena bandara masih relatif sepi. Namun kelemahannya, ketika penumpang turun di Kertajati, kelanjutan perjalanan ke daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, atau Kalimantan menjadi sulit,” tutur Dodi.
Harga Kompetitif Jadi Penentu Utama
Menanggapi wacana menjadikan Kertajati sebagai hub penerbangan umrah Jawa Barat, Dodi menekankan bahwa kunci utamanya tetap pada aspek harga dan keekonomian.
“Dengan adanya rencana penerbangan berjadwal ini, peluang bagi penyelenggara umrah tentu ada. Namun, semua pihak harus duduk bersama untuk menciptakan tingkat keekonomian yang layak. Tanpa keekonomian yang kuat, dukungan apa pun tidak akan bertahan lama dan berpotensi runtuh kembali,” tegasnya.
Menurutnya, penerbangan umrah harus bersifat reguler dan dijaga konsistensinya agar pasar terbentuk.
“Yang terpenting adalah menciptakan harga yang kompetitif. Pesawat harus bersifat reguler, bukan charter, dan dipertahankan setidaknya selama satu hingga dua tahun. Jika harganya tidak bersaing dan kalah dari Jakarta, maka jamaah pasti akan memilih Jakarta,” jelas Dodi.
Harapan HIMPUH: Konsistensi dan Keberlanjutan
Ke depan, HIMPUH berharap wacana Kertajati sebagai hub umrah tidak berhenti pada diskusi dan agenda seremonial semata, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.
“Potensi pasar umrah nasional itu sekitar 1,5 sampai 2 juta jamaah per tahun. Jawa Barat sendiri menyumbang sekitar 20 sampai 30 persen. Dengan sekitar 3.000 travel umrah, maka sekitar 900 di antaranya berada di Jawa Barat,” kata Dodi.
Menurutnya, potensi tersebut seharusnya bisa menjadi dasar kuat untuk menjadikan Kertajati sebagai pusat keberangkatan umrah di Jawa Barat, asalkan ditopang oleh kebijakan harga dan penerbangan yang kompetitif.
“Ini seharusnya bisa menjadi momentum. Jika paket umrah dari Kertajati bisa dibuat lebih kompetitif, sebenarnya Kertajati akan unggul. Namun sampai sekarang, belum ada maskapai yang benar-benar bisa memberikan harga kompetitif dari Kertajati. Pada akhirnya, semuanya kembali lagi ke persoalan harga. Kalau kompetitif, pasti akan datang,” pungkas dia.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
