himpuh.or.id

Hati-hati! Empat Perbuatan Ini Bisa Menghapus Pahala Puasa Ramadan Kita

Kategori : Berita, Khazanah, Ditulis pada : 27 Februari 2026, 11:25:10

WhatsApp Image 2026-02-27 at 11.29.49.jpeg

HIMPUHNEWS - Ramadan kerap dimaknai sebagai bulan penuh ampunan. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan ibadah yang sarat nilai spiritual. Namun Rasulullah SAW mengingatkan, tidak semua orang yang berpuasa otomatis memperoleh pahala. Ada kondisi ketika puasa hanya menyisakan rasa haus dan lapar, tanpa nilai ibadah di sisi Allah SWT.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW menjelaskan keutamaan puasa Ramadan yang dijalankan dengan iman dan harapan pahala.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ صَامَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ. ثُمَّ قَالَ: وَمَنْ وَافَقَ رَمَضَانَ بِصِيَامِهِ وَقِيَامِهِ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan barang siapa melaksanakan shalat malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan barang siapa berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka akan dihitung seakan-akan dia telah berpuasa selama setahun.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Dan barang siapa berjumpa dengan bulan Ramadhan dengan berpuasa dan beribadah di dalamnya, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’” (HR. Muslim)

Namun, di sisi lain, Rasulullah juga menyampaikan peringatan keras. Tidak sedikit orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa pun selain rasa lapar dan dahaga.

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْع وَالْعَطْش

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR An-Nasa’i)

Lantas, perbuatan apa saja yang dapat merusak pahala puasa?

Empat Perilaku yang Menggerus Pahala Puasa

1. Berkata Dusta

Puasa menuntut kejujuran, bukan hanya pada perbuatan, tetapi juga lisan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa dusta dapat menghilangkan nilai puasa seseorang.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، مَنْ لَمْ يَدعْ قَوْلَ الزُّورِ والعمَلَ بِهِ فلَيْسَ للَّهِ حَاجةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعامَهُ وشَرَابهُ

Artinya: Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalan dusta serta kebodohan maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari)

2. Menggunjing dan Membicarakan Aib Orang Lain

Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain juga termasuk perbuatan yang merusak pahala puasa, meskipun secara lahir puasa tetap sah.

خمسٌ يُفطِرن الصّائِم: الغِيبةُ، والنّمِيمةُ، والكذِبُ، والنّظرُ بِالشّهوةِ، واليمِينُ الكاذِبةُ

Artinya: “Lima hal yang bisa membatalkan pahala orang berpuasa: membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu.” (HR Ad-Dailami)

3. Mengadu Domba Sesama Manusia

Mengadu domba atau namimah termasuk dosa lisan yang dampaknya besar. Dalam hadis lain, Nabi kembali mengingatkan bahwa perilaku ini dapat menghilangkan pahala puasa.

خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ الْغِيبَةُ وَالنَّمِيمَةُ وَالْكَذِبُ وَالْقُبْلَةُ وَالْيَمِينُ الْفَاجِرَةُ

Artinya: “Lima hal yang menyebabkan batalnya puasa, yaitu: ghibah, mengadu domba, berdusta, ciuman, dan sumpah palsu.”

4. Mengumpat dan Berkata Kasar

Ulama menegaskan bahwa lisan yang tidak terjaga dapat merusak kualitas puasa. Hal ini dijelaskan oleh Imam Nawawidalam kitab Al-Majmu’.

قال النووي في كتابه “المجموع” : “ويحصل الفساد في الصوم بالشتم والقذف والشحناء والبغضاء وما أشبه ذلك”.

Artinya: Imam Nawawi dalam kitab “Al-Majmu'” berkata, “Puasa dapat rusak karena mengumpat, mencela, memaki, bermusuhan, dan sejenisnya,” [Imam Nawawi Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6 halaman 355].

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id