himpuh.or.id

Jejak Rumah Khadijah di Masjidil Haram, Saksi Turunnya Wahyu hingga Awal Peristiwa Isra Mi'raj

Kategori : Berita, Ditulis pada : 29 Juni 2026, 11:05:33

WhatsApp Image 2026-06-29 at 11.07.19.jpeg

HIMPUHNEWS — Di tengah kawasan Masjidil Haram terdapat sebuah lokasi yang diyakini sebagai bekas rumah Rasulullah SAW dan Siti Khadijah RA. Bagi umat Islam, tempat ini memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena menjadi saksi berbagai peristiwa besar dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW, mulai dari turunnya wahyu pertama hingga masa-masa menjelang peristiwa Isra Mi'raj.

Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, menjelaskan sebagian sejarawan meyakini rumah tersebut berada di area dekat pintu keluar Marwah. Lokasi itu kini ditandai dengan ubin marmer yang memiliki corak berbeda dibandingkan lantai di sekitarnya.

"Di tempat yang di-blok ini, di sinilah dahulu rumah Nabi SAW bersama istri beliau tercinta Siti Khadijah RA. Oleh karena rumah ini dihadiahkan oleh Siti Khadijah, maka dia populer dengan (sebutan) rumah Khadijah," ujarnya saat sesi tur jejak sirah mengelilingi kawasan Masjidil Haram pekan lalu.

Menurut Musyaddad, rumah Khadijah memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam sejarah Islam. Bahkan Imam Al-Muhibbuddin Ath-Thabari menyebutnya sebagai lokasi paling utama di Kota Makkah setelah Masjidil Haram.

وَبَيْتُ خَدِيجَةَ الَّذِي بِمَكَّةَ أَفْضَلُ مَوْضِعٍ مِنْهَا بَعْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya:

"Dan rumah Khadijah yang berada di Makkah adalah tempat paling utama (di kota tersebut) setelah Masjidil Haram."

Selama kurang lebih 28 tahun sejak menikah hingga berhijrah ke Madinah, Rasulullah SAW tinggal bersama Khadijah di rumah tersebut. Di tempat itulah Malaikat Jibril berulang kali datang menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW. Seluruh putra-putri Rasulullah SAW dari Khadijah juga dilahirkan di rumah itu.

Rumah tersebut juga menjadi tempat Rasulullah SAW kembali setelah menerima wahyu pertama di Gua Hira. Dalam keadaan menggigil, beliau disambut dan ditenangkan oleh Khadijah.

"Di sinilah Rasulullah SAW diselimuti oleh sang istri tercinta saat beliau pulang dari Gua Hira. Di sinilah Rasulullah SAW membangun keluarga yang paling bahagia dalam sejarah kehidupan manusia," kata Musyaddad.

Khadijah, Pendamping Setia Perjuangan Dakwah

Musyaddad menuturkan Khadijah bukan sekadar istri Rasulullah SAW, tetapi sosok yang mengorbankan jiwa dan hartanya demi mendukung perjuangan dakwah Islam. Kemuliaannya bahkan mendapat penghormatan langsung dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.

"Wahai Rasulullah, sebentar lagi Khadijah akan masuk mengantarkan engkau makanan. Tolong sampaikan kepada Khadijah ada titipan salam buatnya dari Allah SWT," ujar Musyaddad mengutip riwayat tersebut.

Rumah yang Menjadi Saksi Tahun Kesedihan

Selain menjadi saksi berbagai kebahagiaan, rumah Khadijah juga menyimpan kenangan paling berat dalam kehidupan Rasulullah SAW. Pada tahun ke-10 kenabian, Khadijah wafat. Tidak lama berselang, Abu Thalib, paman sekaligus pelindung Rasulullah SAW, juga meninggal dunia. Periode tersebut kemudian dikenal sebagai 'Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.

Setelah menghadapi berbagai ujian itu, Rasulullah SAW pergi berdakwah ke Thaif. Namun, dakwah beliau mendapat penolakan. Rasulullah SAW dihina, diusir, bahkan dilempari batu hingga mengalami luka.

Saat kembali ke Makkah, beliau memasuki rumah yang selama ini menjadi tempat berbagi suka dan duka bersama Khadijah.

"Ketika beliau sampai di rumah ini, beliau masuk. Dan sudah tidak ada lagi Khadijah. Sudah tidak ada lagi sang istri tercinta yang biasa menyambut beliau dalam suka dan duka," tutur Musyaddad.

Isra Mi'raj Menjadi Penghiburan dari Allah SWT

Di tengah masa-masa penuh kesedihan itulah Allah SWT menghibur Rasulullah SAW melalui peristiwa Isra Mi'raj. Dari Masjidil Haram, Rasulullah SAW diperjalankan menuju Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha dan menerima perintah salat lima waktu.

Musyaddad mengatakan turunnya perintah salat setelah Rasulullah SAW melewati berbagai ujian mengandung pelajaran besar bagi umat Islam.

"Di sinilah kita mengerti bahwa seberat apa pun masalah kita di dalam kehidupan dunia ini jawabannya adalah salat," ujarnya.

Peristiwa Isra Mi'raj menjadi titik balik yang menguatkan Rasulullah SAW hingga akhirnya dakwah Islam diterima masyarakat Madinah. Ketika meninggalkan Makkah untuk berhijrah, Rasulullah SAW sempat menoleh ke kota kelahirannya dan mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah suci tersebut.

"Wahai Makkah, sungguh engkau adalah tanah yang paling baik, tanah yang paling dicintai oleh Allah dan paling aku cintai. Kalaulah bukan karena kaummu mengusir aku darimu, aku tidak akan sudi keluar darimu," sebagaimana dituturkan Musyaddad.

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

Artinya:

"Demi Allah. Engkau adalah sebaik-baik bumi, dan bumi Allah yang paling dicintai-Nya. Seandainya aku tidak terusir darimu, aku tidak akan keluar (meninggalkanmu)." (HR Tirmidzi no. 3925)

Rumah Khadijah bukan sekadar bangunan yang pernah berdiri di Kota Makkah. Tempat tersebut menjadi saksi lahirnya keluarga teladan Rasulullah SAW, turunnya wahyu pertama, pengorbanan luar biasa Siti Khadijah RA dalam mendampingi dakwah Islam, masa-masa penuh duka yang dialami Rasulullah SAW, hingga menjadi bagian dari rangkaian sejarah sebelum Allah SWT menghibur beliau melalui peristiwa Isra Mi'raj yang menguatkan perjuangan dakwah Islam.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id