Tarawih: Ketika Ibadah Menjadi Terapi Jiwa dan Tubuh

HIMPUHNEWS - Malam Ramadan tak pernah benar-benar sunyi. Setelah azan Isya berkumandang, saf-saf kembali terisi. Ada yang datang dengan langkah ringan, ada pula yang masih menyisakan rasa kenyang dan kantuk usai berbuka. Namun ketika rakaat demi rakaat Tarawih ditunaikan, tubuh yang semula terasa berat perlahan berubah menjadi ringan.
Di sinilah salah satu hikmah Tarawih bekerja.
Ulama besar asal Mesir, Ali Ahmad Al-Jurjawi, dalam karyanya Hikmah al-Tasyri' wa Falsafatuhu, menjelaskan bahwa syariat Islam tidak pernah hadir tanpa makna. Ia menuturkan, setelah seharian berpuasa, manusia akan menyantap makanan yang sebelumnya terlarang baginya. Ketika rasa lapar terbalaskan, sering kali yang datang justru keletihan dan kelesuan. Tubuh terasa berat, energi menurun.
Namun keadaan itu tidak berlangsung lama.
Ketika seseorang berdiri menunaikan shalat Isya, lalu melanjutkannya dengan Tarawih—yang terdiri dari gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan duduk—ia seakan melepaskan diri dari belenggu rasa malas. Seusai shalat, tubuh terasa lebih segar, napas lebih teratur, dan semangat kembali menyala.
Menurut Al-Jurjawi, di situlah letak kebijaksanaan syariat. Tarawih bukan sekadar ibadah tambahan di malam Ramadan, tetapi juga sarana menjaga keseimbangan tubuh dan ruh.
Gerakan yang Menghidupkan
Secara fisiologis, rangkaian gerakan dalam shalat memang melibatkan hampir seluruh bagian tubuh. Berdiri tegak memperbaiki postur, rukuk meregangkan otot punggung, sujud meningkatkan aliran darah ke otak, dan duduk di antara dua sujud membantu relaksasi.
Dalam konteks Ramadan, ketika sistem pencernaan baru saja bekerja lebih intens saat berbuka, gerakan-gerakan ini berperan seperti terapi ringan. Aktivitas fisik terukur membantu metabolisme tetap stabil, mengurangi risiko rasa begah, serta menjaga kebugaran.
Al-Jurjawi bahkan mengutip kesan seorang tokoh Barat bernama Edward Liney yang terkejut melihat kaum Muslimin menyantap hidangan berbuka dalam jumlah besar. Ia sempat mengira gangguan pencernaan akan merebak. Namun setelah menyaksikan mereka berdiri kembali untuk shalat Isya dan Tarawih, ia menyimpulkan bahwa gerakan shalat justru mengembalikan vitalitas dan mencegah gangguan kesehatan.
Tarawih, dengan demikian, menjadi bukti bahwa syariat Islam tidak memisahkan antara dimensi spiritual dan jasmani.
Jejak Sejarah yang Panjang
Di luar hikmah medis dan spiritual, Tarawih juga memiliki sejarah yang kaya.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, shalat malam Ramadan pernah dilakukan secara berjamaah beberapa malam. Namun Rasulullah kemudian tidak melanjutkannya secara rutin karena khawatir diwajibkan atas umatnya.
Tradisi berjamaah secara luas baru dihidupkan kembali pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Melihat kaum Muslimin shalat sendiri-sendiri di masjid, Umar memandang perlu menyatukan mereka di bawah satu imam agar lebih teratur dan khusyuk. Kebijakan itu diterima para sahabat dan berlanjut pada masa Utsman bin Affan serta Ali bin Abi Thalib.
Langkah tersebut sejalan dengan sabda Nabi:
“Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin.”
Dalam perkembangan berikutnya, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, jumlah rakaat Tarawih di Madinah pernah ditambah menjadi 36 rakaat. Kebijakan ini diambil untuk “menyamai” keutamaan penduduk Makkah yang memiliki kebiasaan thawaf setelah setiap empat rakaat Tarawih. Karena umat Islam di luar Makkah tidak dapat melakukan thawaf, maka rakaat Tarawih ditambah sebagai bentuk pengganti pahala.
Sejarah ini menunjukkan bahwa Tarawih adalah ibadah yang hidup, dinamis, dan penuh ijtihad dalam bingkai syariat.
Menjaga Keseimbangan Ramadan
Ramadan sering dipahami sebagai bulan pengendalian diri. Namun pengendalian bukan berarti menekan tubuh hingga lemah. Islam menghadirkan keseimbangan: setelah siang hari menahan diri, malam hari dihidupkan dengan gerakan dan dzikir.
Tarawih menjadi titik temu antara fisik dan ruh. Ia menghidupkan malam, menggerakkan tubuh, menenangkan pikiran, sekaligus memperkuat ikatan kolektif umat dalam saf yang rapi.
Mungkin inilah rahasia mengapa setelah Tarawih, banyak orang merasa lebih ringan daripada sebelumnya. Bukan hanya karena tubuh kembali bergerak, tetapi karena hati pun ikut bangkit.
Di bulan yang mulia ini, Tarawih bukan sekadar rutinitas. Ia adalah terapi, sejarah, dan bukti bahwa syariat Islam dirancang dengan kebijaksanaan yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Mohon untuk memberikan komentar dengan jelas, sopan, dan bijaksana
Segala tulisan di ruang publik dapat meninggalkan jejak digital yang sulit dihilangkan
Segala tulisan yang memberikan sentimen negatif terkait SARA, ujaran kebencian, spamming, promosi, dan berbagai hal yang bersifat provokatif atau melanggar norma dan undang-undang dapat diproses lebih lanjut sesuai undang-undang yang berlaku
