himpuh.or.id

Fakta di Balik Tiang Pink Masjidil Haram yang Sering Dikaitkan dengan Isra Mi’raj

Kategori : Berita, Ditulis pada : 08 Juli 2026, 10:49:20

IMG_3590.jpeg
HIMPUHNEWS - Di tengah arus jutaan jamaah yang tak pernah berhenti mengelilingi Ka’bah, ada sebuah tiang berwarna merah muda yang kerap menarik perhatian. Letaknya tak jauh dari Pintu King Abdulaziz, berada di area Mataf, tepat di barisan kedua sebelah kiri setelah memasuki pintu tersebut.

Bagi sebagian jamaah haji dan umrah, tiang itu bukan sekadar penyangga bangunan. Dari mulut ke mulut beredar kisah bahwa di sanalah Rasulullah SAW menambatkan Buraq sebelum memulai perjalanan agung Isra Mi’raj. Tak sedikit jamaah yang berhenti sejenak, memandanginya dengan rasa ingin tahu, bahkan mengabadikannya sebagai bagian dari jejak sejarah Islam.

Namun, benarkah demikian?

Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, mengajak jamaah untuk menyikapi kisah tersebut secara hati-hati. Menurutnya, hingga kini ia belum menemukan riwayat yang secara khusus menyebut tiang berwarna merah muda itu sebagai tempat Rasulullah SAW menambatkan Buraq.

“Tiang yang warna merah jambu yang diasosiasikan sebagai tempat ditambatkannya Buraq itu, ketika ditanya oleh jemaah saya selalu mengatakan wallahu a’lam. Saya tidak pernah menjumpai riwayat yang secara spesifik menceritakan di mana Buraq itu ditambatkan,” ujar Musyaddad saat menjawab pertanyaan tim Media Center Haji ketika memandu tur jejak sirah di sekitar Masjidil Haram.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua kisah yang populer di kalangan jamaah memiliki landasan riwayat yang dapat dipastikan. Dalam sejarah Islam, sikap tabayyun dan kehati-hatian terhadap informasi menjadi bagian penting dalam menjaga kemurnian kisah-kisah tentang Rasulullah SAW.

Al-Hazwarah, Sebuah Titik Bersejarah di Kota Makkah

Meski demikian, bukan berarti kawasan tempat berdirinya tiang tersebut tidak memiliki nilai sejarah.

Musyaddad menjelaskan bahwa lokasi itu diyakini berada di kawasan yang dalam berbagai literatur sejarah dikenal dengan nama Al-Hazwarah, sebuah gundukan tanah yang dahulu berada di sekitar rumah Ummu Hani, sepupu Rasulullah SAW.

Rumah Ummu Hani memiliki posisi yang sangat penting dalam perjalanan sirah Nabawiyah. Dalam sebagian riwayat disebutkan, dari rumah itulah Rasulullah SAW berada sebelum Malaikat Jibril datang dan mengawali perjalanan Isra Mi’raj.

“Cerita-cerita yang lain tentang lokasi itu adalah titik yang disebut Al-Hazwarah. Al-Hazwarah itu semacam gundukan yang berada di sekitar halaman rumah Ummu Hani, yang merupakan sepupu Nabi SAW. Di sebagian riwayat, rumah tersebut merupakan tempat Rasulullah SAW diangkat oleh Malaikat Jibril saat beliau di-Isra Mi’raj-kan,” jelasnya.

Karena itulah, kawasan tersebut tetap menjadi salah satu titik penting dalam jejak sejarah Kota Makkah, meskipun posisi pasti tempat Buraq ditambatkan tidak dapat dipastikan berdasarkan riwayat yang ada.

Tempat Rasulullah SAW Berpisah dengan Kota yang Dicintainya

Nilai sejarah Al-Hazwarah tidak berhenti pada kisah Isra Mi’raj.

Tempat ini juga dikenang sebagai lokasi ketika Rasulullah SAW mengucapkan salam perpisahan kepada Kota Makkah sebelum memulai hijrah menuju Madinah. Di sanalah beliau berhenti sejenak, memandang kota kelahirannya dengan penuh cinta, lalu mengucapkan kalimat yang begitu menyentuh hati.

“Al-Hazwarah itu sendiri adalah lokasi tempat para sahabat melihat Nabi SAW saat dalam perjalanan hijrah. Lalu beliau berhenti dan mengungkapkan, ‘Wahai Makkah, sungguh engkau adalah tempat yang paling baik dan tempat yang paling aku cintai. Kalaulah bukan karena kaummu mengusirku darimu, aku tidak akan keluar darimu.’ Itu diucapkan Nabi SAW di tempat yang disebut Al-Hazwarah,” tuturnya.

Ungkapan tersebut menjadi salah satu bukti betapa besar kecintaan Rasulullah SAW kepada tanah kelahirannya. Hijrah yang beliau lakukan bukanlah karena keinginan meninggalkan Makkah, melainkan bagian dari menjalankan perintah Allah SWT.

Saksi Peristiwa Fathu Makkah

Kawasan Al-Hazwarah juga memiliki kaitan erat dengan momentum besar dalam sejarah Islam, yakni Fathu Makkah pada 20 Ramadan tahun 8 Hijriah.

Setelah Kota Makkah berhasil dibebaskan, Rasulullah SAW mendatangi rumah Ummu Hani. Di tempat itulah beliau melaksanakan salat sunah delapan rakaat sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Musyaddad menjelaskan bahwa para ulama memiliki pandangan berbeda mengenai salat tersebut. Sebagian menyebutnya sebagai salat duha, sementara sebagian lainnya mengenalnya sebagai salatul fath atau salat penaklukan.

“Sebagian para ulama mengatakan salat itu dinamakan salatul fath. Sehingga dari generasi ke generasi, jika ada penaklukan satu benteng musuh, para jenderal perang Islam memerintahkan pasukannya untuk melakukan salat delapan rakaat sebagaimana dahulu Rasulullah SAW salat delapan rakaat di rumah Ummu Hani saat menaklukkan Kota Makkah al-Mukarramah,” simpulnya.

Boleh jadi, tiang berwarna merah muda itu tidak pernah benar-benar disebut dalam riwayat sebagai tempat Buraq ditambatkan. Namun, kawasan di sekitarnya tetap menyimpan lapisan sejarah yang sangat kaya: menjadi saksi perjalanan Isra Mi’raj menurut sebagian riwayat, tempat Rasulullah SAW berpamitan kepada Makkah sebelum berhijrah, sekaligus lokasi yang berkaitan dengan peristiwa Fathu Makkah.

Pada akhirnya, bukan warna tiangnya yang menjadi pelajaran utama, melainkan pesan yang ditinggalkan sejarah. Bahwa setiap jengkal tanah di sekitar Masjidil Haram menyimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan cinta Rasulullah SAW kepada Allah SWT, kepada risalah Islam, serta kepada Kota Makkah yang begitu beliau cintai.

messenger icon
messenger icon Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id